Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Dua Bom Di Malam Tragis, Akhir Kisah Kapal Rainbow Warrior Si Penentang Ujicoba Nuklir Prancis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 10 Juli 2021, 06:03 WIB
Dua Bom Di Malam Tragis, Akhir Kisah Kapal Rainbow Warrior Si Penentang Ujicoba Nuklir Prancis
Ilustrasi/Net
rmol news logo Dua ledakan hebat mengguncang kesunyian Pelabuhan Auckland, Selandia Baru, pada 10 Juli 1985. Ledakan yang berasal dari bom itu 'membangunkan' seisi pelabuhan sesaat. Tak ada keriuhan susulan. Sampai kemudian, kurang dari 15 menit menuju pergantian hari, Kapal Greenpeace Rainbow Warrior yang tengah berlabuh tenggelam, menewaskan salah satu awaknya.

Kapten kapal Rainbow Warrior Peter Willcox mengaku sangat terkejut dengan dua dentuman hebat itu. Namun, ia belum bisa menduga apa yang terjadi karena kemudian suasana menjadi jauh lebih sunyi.

“Suara apa itu? Gempa bumikah? Willcox.  Dentuman itu jelas bukan bagian dari kebisingan kapal.

Ledakan pertama telah merobek bagian tengah bawah lambung kapal. Generator Rainbow Warrior langsung tak berfungsi, semua mesin padam, kapal pun gelap.
Menyadari ada yang tidak beres, Kapten Willcox yang hanya mengenakan handuk, tergesa-gesa memerintahkan para awak untuk meninggalkan kapal. Ia sendiri segera  menyelamatkan diri ke dermaga.

“Kapal bergerak tenggelam. Saya sampai harus mencaribagian tertinggi dan memanjat dari dek untuk bisa sampai ke dermaga,” kata Willcox dalam memoarnya yang dimuat dalam Greenpeace Captain: My Adventures in Protecting the Future of Our Planet.

Setelah berhasil menyelamatkan diri, Willcox kemudian mengumpulkan anak buahnya. semua lengkap, kecuali Fernando Pereira, fotografer resmi Rainbow Warrior, yang ternyatatertinggal di dalam kapal.

Willcox dengan ditemani seorang staf lainnya langsung ke bagian tertinggi kapal untuk mencoba menyelamatkan  Pereira. Sayangnya, terlambat. Kapal semakin turun ke dalam air.

Masih dalam suasana yang mencekam dan kesedihan yang dalam karena tidak bisa menyelamatkan Pereira, terdengar suara ledakan susulan di dekat baling-baling kapal.

“Kami masih belum tahu apa yang terjadi, apa penyebabnya, karena tidak ada kapal lain yang bisa bertabrakan dengan kapal kami. Kemudian, bahan bakar kapal adalah diesel, yang tidak mudah meledak. Satu-satunya bahan peledak yang ada di atas adalah tangki oksigen dan asetilena yang digunakan untuk pengelasan, tetapi itu disimpan jauh di depan dan jauh dari tempat kerusakan terjadi. Saya benar-benar bingung,” kata Willcox.

Polisi kemudian melakukan olah TKP.

“Fakta bahwa ada dua ledakan –terpisah hanya beberapa menit di dua lokasi berbeda– mengindikasikan ini adalah upaya disengaja untuk menenggelamkan Rainbow Warrior,” kata Willcox dengan sangat sedih.

Ini merupakan sabotase yang menyakitkan. Orang-orang mencatat, pelaku pemboman sangat tidak manusiawi.

Malam itu, Rainbow Warrior tengah beristirahat dari perjalanan panjang setelah melakukan 'perjalanan protes' atas pengujian senjata nuklir oleh Perancis. Kisah yang beredar mengatakan, agen rahasia Perancis mengetahui keberadaan kapal itu dan memusnahkannya.

Rainbow Warrior merupakan salah satu kapal milik Greenpeace, organisasi pemerhati lingkungan yang berasal dari Kanada, yang dibeli pada 1978.

Setelah direparasi ulang, Rainbow Warrior melakukan pelayaran berbahaya dengan mencegat kapal pengangkut sampah nuklir milik Inggris, Gem, yang mengotori perairan internasional. Selang beberapa waktu kemudian, Rainbow Warrior berhasil menggagalkan perburuan anjing laut Norwegia di Kepulauan Orkney, seeprti dikutip dari Historia.

Steven McFadden dan Ven Dhyani Ywahoo mengungkapkan dalam bukunya; Legend of the Rainbow Warrior, bahwa Greenpeace telah menjadi terkenal karena eksploitasi keberanian dan aksi dramatisnya untuk menarik perhatian pada penghancuran bumi dan semua mahluk di dalamnya.

Greenpeace juga ikut dalam aksi menentang ujicoba senjata nuklir Amerika Serikat dan Prancis yang semakin meningkat di Pasifik pada 1970-an.

Dalam kampanye menentang ujicoba nuklir Prancis di Moruroa itulah Rainbow Warrior menjadi andalan Greenpeace.

Dari turnya ke berbagai tempat, kapal itu kemudian menuju Auckland, Selandia Baru.

Menurut McFadden dan Ywahoo, di Selandia Baru awak kapal berencana mengumpulkan dukungan dari para simpatisan, kemudian bergabung dengan armada perdamaian yang akan berlayar ke Atol Moruroa, di mana Prancis secara terus-menerus menguji bom-bom nuklirnya sejak 1966.

Rainbow Warrior mendapat sambutan meriah saat tiba di Pelabuhan Auckland, konon hal itu membuat Prancis gerah.

Dikisahkan dalam sejarahnya, bahwa pada 10 Juli 1985 di Pelabuhan Auckland, pasukan komando Prancis menanam bahan peledak di bawah lambung kapal. Perjalanan Rainbow Warrior pun berakhir di sana.

Polisi dalam penyelidikannya memeriksa daftar penumpang internasional sebelum kejadian peledakan.

Dua hari setelah insiden peledakkan, Kepolisian Selandia Baru menangkap sepasang suami-istri asal Prancis, Alain Turenge dan Sophie Turenge. Keduanya  adalah Mayor Alain Mafart dan Kapten Dominique Prieur, perwira militer Prancis yang di-BKO-kan ke Direction Generale de le Securite Exterieure (DGSE). rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA