Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Franz Joseph I Dari Austria, Salah Satu Raja Terlama Di Eropa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 08 Juni 2021, 06:14 WIB
Franz Joseph I Dari Austria, Salah Satu Raja Terlama Di Eropa
Kaisar Franz Joseph I/Net
rmol news logo Eropa pernah memiliki salah satu raja yang menjabat dengan masa paling lama. Dia adalah Franz Joseph I yang dinobatkan menjadi Raja Austria-Hungaria pada  Juni 1867 dan memimpin hingga akhir hayatnya yaitu pada 1916.

Franz Joseph I merupakan putra tertua dari Pangeran Karl Ludwig, adik dari Kaisar Ferdinand (I). Karena  Ferdinand tidak memiliki anak, maka keponakannya itu dididik sebagai ahli warisnya.

Pada musim semi 1848, Franz Josep bertugas dengan pasukan Austria di Italia, di mana Lombardy-Venetia, yang didukung oleh Raja Charles Albert dari Sardinia, memberontak melawan pemerintahan Austria.

Selama revolusi itu, keluarga kekaisaran melarikan diri dari Wina, berlindung di Olmütz  atau Olomouc --kota Provinsi Moravia inilah yang kemudian menjadi tempat penyerahan kekuasaan yang spektakuler.

Itu adalah masa-,masa sulit bagi keluarga kerajaan.  Tahun 1848 di Olomouc, Franz Joseph diminta menjadi Kaisar pada usia dini 18 tahun. Pamannya, Ferdinand I, turun tahta. Ia telah mencoba menghentikan revolusi di mana orang menganjurkan demokrasi dan partisipasi dalam pemerintahan dan menyatakan ketidakpuasan mereka dengan para pemimpin politik. Faktor penting lainnya �" salah satu yang akan mempengaruhi Franz Joseph sepanjang masa pemerintahannya �" adalah munculnya kecenderungan nasionalistik di seluruh Eropa.
Ayah Franz, Archduke Franz Karl, yang sebenarnya adalah pewaris berikutnya dalam suksesi, melepaskan haknya atas takhta setelah dibujuk secara paksa oleh istrinya, Sophie.

Sophie melihat bahwa saatnya telah tiba untuk mewujudkan impian seumur hidupnya tentang putra sulungnya menjadi kaisar.

Franz Joseph memang akhirnya menjadi pemimpin yang dihormati dan paling dicintai dari dinasti Habsburg, yang memerintah Kekaisaran Austria dan kemudian Kekaisaran Austro-Hungaria selama 68 tahun, pemerintahan terpanjang ketiga dalam sejarah Eropa.

Harapan kebangkitan sentimen monarki Pun dibangkitkan oleh penampilan Franz yang muda dan bercahaya.

Namun, awal pemerintahan Franz Joseph ditandai dengan penolakan tuntutan konstitusi. Harapan yang semula tumbuh dengan adanya rancangan konstitusi pupus dengan dikeluarkannya 'Silvesterpaten' tahun 1851, yang mencabut konstitusi dasar, mengutip laman Habsburge.  

Selama 10 tahun pertama pemerintahannya adalah era yang disebut neo-absolutisme. Raja, dibantu oleh para penasihat luar biasa, meresmikan rezim yang kemudian hari menjadikannya kaisar paling berkuasa.

Namun, kaisar muda segera mengecewakan harapan kekuatan progresif di kekaisaran. Di balik wajah mudanya, ia berupaya memerintah dengan keras. Revolusi ditekan, para pemimpinnya dianiaya, dipaksa ke pengasingan atau, di mana mereka dapat ditangkap, dieksekusi atau dijatuhi hukuman penjara yang lama.

Franz Joseph melihat dirinya sebagai raja absolut, bertanggung jawab hanya kepada Tuhan, memerintah  politik dengan otoritas tunggal tanpa kewajiban pada ketentuan konstitusi atau kehendak rakyat.

Franz Joseph disebut mempraktikkan gaya pemerintahan otoriter, percaya bahwa kekuatan keputusan harus sepenuhnya berada di tangan kaisar.

Dengan usia yang sangat muda dan tidak berpengalaman, ia mengandalkan orang-orang di sekitarnya, khususnya ibunya dan sejumlah penasihat yang sangat konservatif.

Meskipun demikian, ia sering kewalahan oleh tanggung jawabnya yang sangat besar. Tahun-tahun pertama pemerintahannya ditandai oleh kesewenang-wenangan, kurangnya kepekaan dan kepicikan politik yang mengakibatkan sejumlah keputusan yang tidak tepat.

Ada banyak hal yang mengecewakan dari kepemimpinannya yang panjang itu.

Kesalahan kebijakan luar negeri terbesar kaisar adalah posisi yang diambil oleh Austria dalam Perang Krimea (1853-1856), pertengkaran antara Rusia, dan runtuhnya Kekaisaran Ottoman yang berpusat di wilayah sekitar Laut Hitam yang berkembang biak menjadi konflik pan-Eropa.

Franz Joseph juga menyatakan netralitas Austria, yang akhirnya dianggap menghina Tsar Rusia Nicholas I, sekutu terdekatnya, yang hanya beberapa tahun sebelumnya telah memberikan bantuan penting dalam menekan revolusi Hongaria 1848/49.

Dukungan besar-besaran dari Rusia ini seharusnya menyatukan dua rezim paling reaksioner di Eropa; kekaisaran Rusia dan Austria, tetapi aliansi itu kandas karena keragu-raguan Franz Joseph.

Saat Perang Dunia I pecah, Austria-Hongaria bersekutu dengan Jerman, tetapi tentara mereka ternyata tidak memiliki persiapan dan peralatan yang memadai. Salah satu penyebabnya adalah sikap Franz Josef yang konservatif. Ia menolak saran agar para tentara mendapatkan persenjataan yang baru, seperti tank.

Namun, di sisi lain, Franz Joseph juga dipandang sebagai sosok pemimpin yang sangat dikagumi. Antara 1848 dan 1938, sebagian penduduk Austria Yahudi menikmati periode kemakmuran yang dimulai pada masa pemerintahannya.

Laman Prague Guide, misalnya, menulis bahwa Franz sangat dihormati  dan merupakan perekat yang menyatukan Kekaisaran selama masa-masa sulit.

Namun, tidak semua orang menyukainya. Ada upaya untuk membunuhnya selama tahun 1853, ketika nasionalis Hungaria János Libényi menikamnya di leher dari belakang. Untungnya, Kaisar mengenakan kerah tinggi dan kokoh yang menyelamatkan hidupnya.

Era ini juga merupakan salah satu kekecewaan dalam urusan luar negeri, yang mengakhiri absolutisme.
Sebuah konstitusi disahkan pada tahun 1861. Reformasi untuk memodernisasi Austria dimulai, dan industrialisasi pun muncul. Dengan pertumbuhan industri selama tahun 1860-an, borjuasi muncul, dan mereka bersaing dengan aristokrasi.

Masalah terus berlanjut dalam urusan luar negeri. Austria kalah dalam Perang Kemerdekaan Italia Kedua dan kemudian Perang Austro-Prusia tahun 1866, sebuah kekalahan yang membantu memicu kejatuhan Kekaisaran.  rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA