Farah.ID
Farah.ID

PETA

Patriotisme Berpadu Mimpi Asia Timur Raya

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/republikmerdeka-id-1'>REPUBLIKMERDEKA.ID</a>
LAPORAN: REPUBLIKMERDEKA.ID
  • Rabu, 07 April 2021, 17:31 WIB
Patriotisme Berpadu Mimpi Asia Timur Raya
Tentara PETA sedang latihan di Bogor pada tahun 1944./Repro
rmol news logo Sejarah berdirinya institusi militer di Tanah Air tidak lepas dari andil penting para ulama. Termasuk pembentukan milisi Pembela Tanah Air yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Republik Indonesia.

Pembela Tanah Air ( PETA) merupakan tentara sukarelawan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang pada periode 1942 hingga 1945.  Mengutip Encyclopaedia Britannica (2015), PETA dibentuk setelah adanya Osamu Seirei atau peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jepang.

Aturan itu memberi kesempatan putra-putra Indonesia dilatih pendidikan militer untuk membantu mempertahankan keberadaan Jepang di bumi Nusantara dari serangan Sekutu.

Osamu Seirei memang tidak menyebut kata Indonesia. Akan tetapi PETA yang oleh Jepang disebut kyōdo bōei giyūgun,  adalah pasukan sukarela yang membela tanah Jawa, Bali dan Sumatera dengan penduduk asli pribumi atas dasar cita-cita membela Asia Timur Raya bersama-sama.

Dukungan atas terbentuknya PETA, tidak lepas dari dukungan para ulama ketika itu. Para ulama terkemuka gencar menyuarakan perlu dibentuknya segera tentara sukarela untuk mempertahankan Pulau Jawa. Kesempatan pendidikan militer itu dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk kepentingan nasionalnya.

Koran  Asia Raya pada 13 September 1943 pernah memberitakan itu. Gagasan itu diusulkan oleh 10 ulama terkemuka. Mereka adalah KH Mas Mansyur, KH Adnan, Dr Abdul Karim Amrullah (Buya Hamka), Guru H Mansur, Guru H Cholid, KH Abdul Madjid, Guru H Jacob, KH Djunaedi, U Mochtar dan H Mohammad Sadri.

Usulan tersebut menunjukkan peran penting golongan agama dalam rangka pembentukan milisi tersebut. Para ulama memandang penting untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta Tanah Air yang berdasarkan ajaran agama.

Tak heran, jika nuansa keislaman juga terlihat dalam panji atau bendera PETA. Warna hijau dengan gambar bulan dan bintang berwarna putih, berpadu dengan matahari yang bersinar merah ke segala penjuru.

Di sisi lain, lahirnya PETA juga tidak bisa dilepaskan dengan kondisi geopolitik dan geostrategis Asia Timur, khususnya Indonesia pada masa itu. Pada satu sisi, Jepang yang mengobarkan Perang Asia Timur Raya, butuh banyak bala tentara untuk mempertahankan daerah-daerah pendudukannya dari serangan blok sekutu yang dipimpin AS.

Saat itu tentara Jepang mulai kewalahan menghadapi serangan bertubi armada Sekutu. Pada Agustus 1943, Jepang terusir dari Kepulauan Alexian. Sedangkan di Pasifik Tengah, Armada AS bersiap mendekati Filipina.

Di sejumlah wilayah lainnya, militer Jepang pun mulai terdesak. Sekutu berhasil mengambil alih kekuasaan di sebagian kepulauan yang sebelumnya dikuasai Jepang. Seperti  bagian timur Indonesia.

Di sisi lain, militer Jepang membutuhkan tambahan personel untuk mengatur, mengendalikan dan mempertahankan wilayah kekuasaannya yang tersisa. Untuk itulah diperlukan tenaga bantuan dari rakyat setempat (Heiho).

Pembentukan Heiho yang sudah dimulai sejak tahun 1942, masih dirasa kurang memadai untuk pasukan pertahanan. Militer Jepang memikirkan, yang dibutuhkan saat ini adalah pasukan-pasukan yang berkualitas dalam kecakapan militer dan bisa memobilisasi untuk kepentingan pertahanan.

Setidaknya militer Jepang memiliki pertahanan di bagian wilayah belakang yang dapat diserahkan sewaktu-waktu dibutuhkan. Sehingga, Jepang dapat fokus terhadap kekuatan militernya di garis depan.

Faktor lain yang turut mendorong terbentuknya PETA adalah semangat nasionalisme dari bangsa Indonesia sendiri. Saat itu, semangat cinta Tanah Air begitu menyala-nyala. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk membentuk milisi dalam mempertahankan tanah air.

Terutama di Pulau Jawa, khususnya sejak berdirinya Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) pada Maret 1942. PUTERA digagas oleh Empat-Serangkai. Yaitu, Soekarno, Moh Hatta, KH Mansyur dan Ki Hajar Dewantara.

Semangat nasionalisme dan patriotisme inilah yang mendorong pemuda-pemuda kala itu berbondong-bondong untuk berlatih militer. Semangat nasionalisme itu digelorakakn oleh tokoh-tokoh perjuangan dan tokoh agama.

Bung Hatta termasuk yang menyerukan para pemuda Indonesia untuk meraih kesempatan pendidikkan militer yang diselenggarakan Jepang itu.

“Saudara-saudara, Osamu Seirei No.44 membukakan kesempatan kita, Rakyat Indonesia di Pulau Jawa, untuk mendapat latihan militer berangsur-angsur, untuk mendapat pendidikan keprajuritan dengan suka dan rela. Hendaknya kita masuk dalam latihan itu guna membela Tanah Air kita,” kata Hatta saat berpidato di Lapangan Ikada pada 3 November 1943.

“Saudara saudaraku, janganlah engkau mengira bahwa kita dijadikan barisan-barisan militer untuk kepentingan Nippon. Dugaan ini salah belaka. Tinjaulah soal barisan sukarela ini dari jurusan keprajuritan akan pembelaan Tanah Air kita oleh putra �"putranya sendiri. Sebab itu, marilah kita bersiap mengerjakan kewajiban kita sebagai putera bangsa,” kata Bung Hatta.

Memang ada perbedaan, antara motivasi Jepang dan bangsa Indonesia dalam mendukung lahirnya PETA. Jepang ingin memanfaatkan PETA untuk kepentingannya dalam perang Asia Timur Raya. Sedang Indonesia antusias karena PETA dapat menjadi jalan menuju kemerdekaan dan membela tanah air sendiri.

Sudah sejak lama, Indonesia mendambakan pendidikan militer agar mempunyai pasukan yang cakap untuk melawan penjajahan dan menggapai cita-cita kemerdekaan.  Seperti yang pernah dikatakan Bung Karno pada ketika itu.

“Dai Nippon memberi bantuan kepada kita untuk mencapai kemerdekaan. Tetapi walaupun Dai Nippon memberi seribu bantuan kepada kita, kalau kita tidak berusaha sendiri dengan hasrat dan kemauan sendiri, maka mustahil kita menjadi suatu bangsa yang kuat. Kita tidak mau menerima kemerdekaan itu diberi seperti hadiah saja. Kita harus merebut kemerdekaan itu dengan keringat dan darah kita sendiri.”

Dalam upaya mengelola daerah pendudukan, militer Jepang mencoba mendekati organisasi dan tokoh-tokoh Islam. Organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) diperkenankan berdiri kembali. Masyumi yang merupakan gabungan dari organisasi-organisasi dan tokoh-tokoh Islam juga direstui berkembang oleh militer Jepang.

Disamping desakan para ulama dan dukungan para tokoh perjuangan kala itu, usulan resmi pembentukan pasukan sukarela pembela tanah air diajuan oleh Raden Gatot Mangkoepradja.

Raden Gatot adalah seorang politikus, wartawan dan aktivis. Pada September 1943, ia mengirim surat permohonan kepada Kepala Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia (Gunseikan).

Isi surat itu antara lain, berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Gatot mengatakan, sudah saatnya bangsa Indonesia maju bersama Jepang dalam melawan Tentara Sekutu.  Permohonan itu dipenuhi Militer Jepang yang kemudian melahirkan Tentara PETA.

PETA resmi berdiri pada 3 Oktober 1943, berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16 Jepang, Letnan Jenderal Kumakichi Harada.

Osamu Seirei No.44 itu menyatakan;  1. Tentara PETA beranggotakan warga Negara Indonesia (Penduduk asli) dari atas sampai bawah; 2. Pada PETA akan ditempatkannya militer Jepang untuk melatih; 3. Tentara PETA ditempatkan langsung dibawah panglima Tentara, lepas dari badan manapun juga; 4. Tentara PETA merupakan Tentara territorial dengan kewajiban mempertahankan masing-masing daerahnya; dan 5. Tentara PETA di masing masing daerah harus siap untuk melawan sampai mati setiap musuh yang menyerang.

Dalam proses selanjutnya, banyak anggota Barisan Pemuda (Seinen Dojo) yang ikut menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Langkah ini merupakan strategi militer Jepang untuk membangkitkan patriotisme pemuda Indonesia. Jepang ingin memberi kesan, usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri.

Tahap awal rekrutan PETA adalah pemuda-pemuda terpelajar. Mereka dikumpulkan dan dilatih untuk menjadi perwira. Latihan itu diberikan langsung oleh perwira-perwira militer Jepang.

Di Jawa, pelatihan itu dipusatkan di Bogor. Di kompleks militer yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai. Ini adalah bekas Markas KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger) angkatan perang kolonial Hindia Belanda. Saat ini, komplek militer itu menjadi Museum PETA.

Di komplek pelatihan ini, para pemuda dilatih sebagai calon komandan peleton alias shodancho. Mereka mendapat pendidikan selama 18 bulan, untuk bisa punya kemampuan setara letnan yang bisa memimpin pertempuran di lapangan.

Waktu pelatihan ini tergolong singkat. Hampir semua angkatan perang di dunia memerlukan sebuah akademi militer dengan masa pendidikan rata-rata tiga tahun untuk mendidik menghasilkan seorang letnan.

Pemuda yang usianya lebih tua dari kelompok calon shodancho dilatih untuk menjadi komandan kompi alias chudancho. Pangkatnya setara kapten. Latihan chudancho ini hanya 6 bulan.

Sementara tokoh-tokoh masyarakat dilatih selama 3 bulan. Mereka dijadikan komandan batalyon alias daidancho. Nantinya, merekalah yang akan memimpin batalyon.

Menurut buku Tentara Gemblengan Jepang (1989), karya Joyce Lebra, latihan fisik calon komandan batalyon ini tidak terlalu berat. Misalnya, berendam di air dingin.  Latihan persenjataan pun nilai Joyce kurang memadai.

Adapun tokoh masyarakat terkenal yang dijadikan daidancho oleh militer Jepang di antaranya Kasman Singodimedjo, R Soedirman, Soedirman, Soesalit, juga Mohammad Mangundiprojo.

Berbicara soal teori militer, perwira PETA masih kalah dengan alumni akademi militer Belanda macam Abdul Haris Nasution dan Tahi Bonar Simatupang. Mereka harus belajar agar tak kalah.

Bagi lulusan akademi Belanda, umumnya mereka harus berjenjang dari pangkat Kapten, Mayor baru menjadi Letnan. Namun, atas dasar darurat perang, pelatihan PETA membuat pengecualian. Pelatihan PETA hanya memberikan latihan dasar perwira saja.

Setelah menjalani pelatihan di Bogor, lulusan PETA ini kembali ke keresidenan masing-masing di Pulau Jawa. Di sana, mereka akan melatih sendiri prajurit bawahan di batalyon masing-masing.

Dengan cara ini, dalam tempo singkat, puluhan ribu pemuda Indonesia pun telah bergabung dan menjadi tentara PETA di Pulau Jawa. Cara itu dipuji  Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Pertama RI, GPH Djatikusumo.

Buku biografi “GPH Djatikusumo: Prajurit Pejuang Dari Kraton Surakarta (1993),” yang ditulis Solichin Salam mengungkapkan itu. “Hanya dalam 18 bulan, Jepang berhasil membentuk pasukan siap tempur dari para prajurit PETA. Padahal prajurit-prajuritnya direkrut dari orang-orang desa yang cuma Sekolah Rakyat tiga tahun.”

Djatikusumo takjub dengan cara militer Jepang melatih relawan PETA. “Bayangkan, bagaimana melatih orang-orang desa yang masih lugu? Mereka belum pernah memegang senapan, apalagi mortir. Mungkin melihat saja baru waktu di PETA. Bagaimana mereka mengerti soal trigonometri dan koniometri yang diperlukan untuk menembakkan mortir?” kata Djatikusumo.

Sejarah  kemerdekaan bangsa telah mencatat  peran besar PETA dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Alumni tentara sukarela ini banyak yang menjadi tokoh bangsa.

Panglima Besar Jenderal TNI Soedirman, Menhan pertama Soepriyadi, Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani, Presiden ke-2 RI Jenderal TNI Soeharto, Jenderal TNI Basuki Rahmat, Letjen TNI Sarwo Edhie Wibowo, Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah, Jenderal TNI Soemitro, Jenderal TNI Poniman, Brigjen TNI Latief Hendraningrat, Letjen TNI Kemal Idris, Letjen TNI Supardjo Rustam, dan Letjen TNI GPH Djatikoesoemo termasuk jebolan tentara sukarela ini. rmol news logo article

ARTIKEL LAINNYA