Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Tragedi Semanggi Bagian IV (Habis)

Di Gerbang Istana Menanti Cahaya

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/republikmerdeka-id-5'>REPUBLIKMERDEKA.ID</a>
OLEH: REPUBLIKMERDEKA.ID
  • Kamis, 10 Desember 2020, 14:27 WIB
Di Gerbang Istana Menanti Cahaya
Sumarsih menggelar aksi Kamisan di depan Istana Negara./Net
RMOL.  Sudah 22 tahun berlalu. Para keluarga korban masih menanti penuntasan kasus pelanggaran HAM Berat dengan sabar.

Jumat 13 November 1998 adalah hari yang amat kelam bagi seorang Maria Katarina Sumarsih. Saat itu, perempuan yang kini berusia 68 tahun itu masih bekerja di Sekretariat Jenderal DPR-RI. Sejak hari itu, ia merasa menemui lorong gelap panjang yang tak berujung hingga kini.

Sumarsih sangat terguncang. Buah hati kesayangannya, Bernadinus Realino Norma Irmawan telah kehilangan nyawa. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Jakarta itu tewas dengan lubang tembakan peluru tajam di dada kirinya.

"Tanggal 13 November 1998 adalah hari Jumat Hitam yang kelam bagi kami sekeluarga, karena cinta kasih kami direnggut oleh aparat bersenjata yang menjadi alat rezim," tulis Sumarsih dalam memoar berjudul 'Perjuangan Menuntut Kebenaran dan Keadilan', seperti dikutip dari buku Melawan Pengingkaran terbitan tahun 2006.

Bernadinus Realino Norma Irmawan atau Wawan adalah satu dari empat orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menjadi tewas saat berlangsungnya demontrasi menolak Sidang Istimewa MPR ketika itu. Korban lainnya adalah Teddy Mardani, Sigit Prasetya dan Engkus Kusnadi.

Wawan  adalah aktivis yang bergabung dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK). Saat demontrasi berlangsung di sekitar Jembatan Semanggi, di depan kampusnya, Wawan bertugas menolong korban mahasiswa yang terluka akibat bentrokan dengan aparat.

Saat situasi sedang genting, Wawan sempat menelpon ayahnya, Arief Priyadi. Ia mengabarkan keadaan di depan Universitas Atma Jaya sedang genting. Aparat militer mengepung para mahasiswa yang sedang berunjuk rasa. Wawan mengabarkan, ia tidak akan pulang hari ini.

Menjelang sore, sang Ibu, Sumarsih mendapat telepon dari teman Wawan, bernama Ivon. Ivon menanyakan keberadaan Wawan.

Sumarsih punya firasat buruk. Setengah berteriak ia balik bertanya, “Ada yang kena, ya? Wawan ada di kampus," kata Sumarsih balik bertanya.

Saat itu, Ivon mencoba menenangkan dirinya. "Tante tenang saja, Ivon akan mencari Wawan. Nanti Ivon telepon lagi," kata Sumarsih mengulang percakapan Ivon.

Tak lama kemudian, pejuang kemanusiaan, Romo Sandyawan Sumardi, menelepon Sumarsih. Namun Sumarsih mengaku dirinya sudah tak lagi mendengar apa yang dikatakan Romo Sandy di telepon. Sebab di kepala Sumarsih cuma terngiang-ngiang soal pertanyaan dimana keberadaan Wawan saat itu.

Akhirnya, telepon dari Romo Sandyawan diambil alih oleh suaminya, Arief Priyadi. Ketika Romo Sandy memberitahu agar Sumarsih dan Arif segera ke Rumah Sakit (RS) Jakarta.

Setelah mendapat kabar tersebut, Sumarsih dan Arief Priyadi bergegas menuju RS Jakarta. Mobil dikemudikan Sodik, adik iparnya.

"Irma (adik Wawan), saya suruh tunggu di rumah saja, barangkali Ivon masih akan menelepon," ujar Sumarsih.

Sumarsih menceritakan, suasana jalanan Jakarta sore itu sangat mencekam. "Di sepanjang jalan, saya berdoa Rosario mohon keselamatan untuk Wawan," kata Sumarsih.

Untuk bisa sampai ke RS Jakarta dengan cepat, Sumarsih berinisiatif meminta bantuan polisi dan tentara yang bertugas di perempatan Tomang. Namun, ternyata mereka tidak mau menolong. Sebaliknya dirinya malah diperintahkan meninggalkan tempat itu dan mencari jalan lain. “Saya dibentak-bentak," ujar Sumarsih.

"Akhirnya saya kembali ke mobil sambil menangis," kata Sumarsih.

Sesampainya di RS Jakarta, Sumarsih dan Arief langsung lari menemui petugas rumah sakit. Dirinya diarahkan menuju basement rumah sakit. Di basement RS Jakarta terlihat sudah dipenuhi orang yang menjadi korban kekerasan, terutama mahasiswa dan mahasiswi.

"Beberapa orang memeluk saya, menasihati agar saya tabah," kata Sumarsih mengenang dirinya disambut banyak orang yang tidak dia kenal. Namun Sumarsih tidak memedulikannya, sebab saat itu, Sumarsih hanya ingin segera bertemu Wawan.

Dia meronta-ronta saat dipeluk dan ditahan agar tidak bergerak jalan lebih jauh oleh sejumlah orang. "Di mana Wawan anak saya?" ucapnya berulang-ulang.

Akhirnya Sumarsih menuju salah satu ruangan yang ada di basement rumah sakit itu. Pintu ruangan pun dibuka dan Sumarsih. Dia mendapati tiga keranda yang terbuka, salah satunya terbaring jenazah Wawan. Sumarsih mendekati jasad putranya.

Sumarsih melihat Wawan terbaring di keranda terbuka dengan kedua tangan dilipat dan dua jempol kaki kanan dan kiri diikat kain putih. Saat itu Wawan memakai celana pendek dan kaus putih.

Keruan saja, Sumarsih meraba seluruh tubuh anak lelakinya itu. "Wan, kamu lapar..., oh, Wan, kamu ditembak," ujar Sumarsih.

Sumarsih pun ingin segera membawa Wawan pulang ke rumah. Namun ketika itu  ada yang meminta Wawan untuk diotopsi. Semula Sumarsih menolak, namun dengan alasan untuk kepentingan penyidikan, akhirnya dia pun menyetujuinya.

Jenazah Wawan dibawa ke RSCM. Dari hasil otopsi yang dilakukan oleh dr. Budi Sampurno, ditemukan bahwa Wawan tewas dengan tembakan peluru tajam. Setelah otopsi, sekitar pukul 00.30, jenazah Wawan diantarkan ke kediamannya.

Sumarsih penasaran, bagaimana putranya bisa kehilangan nyawa. Dari kesaksian sejumah teman Wawan tersebut, Sumarsih mengetahui bahwa Wawan yang selama ini aktif di Tim Relawan Kemanusiaan tertembak ketika menolong korban penembakan lainnya.

Keesokan harinya, Sabtu pagi, 14 November 1998, Wawan diberangkatkan ke Gereja Maria Kusuma Karmel untuk disemayamkan. Di sepanjang jalan dari rumah menuju gereja, banyak orang berada di pinggir jalan memberikan penghormatan kepada Wawan. Di Gereja, massa pun tumpah ruah.

"Saya terkejut, begitu banyak mobil, lapangan parkir gereja tidak bisa menampungnya. Ribuan orang datang, tidak hanya beragama Katolik saja, tetapi banyak Ibu-ibu berjilbab dan bapak-bapak bersongkok putih," kata Sumarsih mengenang suasana saat itu.

Dari mobil jenazah, peti mati Wawan dipanggul kawan-kawannya dengan dikawal berbagai bendera elemen pergerakan dan diiringi koor yang menurut Sumarsih membuat suasana menjadi semakin haru biru.

"Gereja dihiasi dengan bunga yang sangat indah. Prosesi Misa Requiem dan arak-arakan para misdinar bersama 10 orang pastor dengan pakaian jubah merah bagaikan para malaikat yang datang menyambut Wawan, karena Tuhan Yesus Kristus berkenan menerima persembahan Wawan dalam peziarahannya di dunia," cerita Sumarsih.

Setelah semua prosesi itu selesai, Wawan pun dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Joglo. Sepi.

Sejak pemakaman itu, Sumarsih merasa dirinya seperti ada di sebuah lorong gelap tak berujung. "Saya mulai terbayang masa depan yang suram dan menakutkan," kata Sumarsih.

Kematian Wawan membuat Sumarsih berubah. Ia sulit meninggalkan ruang tamu, tempat dulu Wawan diistirahatkan. Ia sangat ingin, pelaku yang membunuh anaknya diseret ke hadapan hukum.

Sejak itu, Sumarsih terus mengikuti perkembangan berita terkait pengungkapan kasus kematian anaknya. Sambil terus berdoa, Sumarsih melakukan berbagai upaya.

Bersama suami, dan para orang tua korban lainnya, Sumarsih terus berupaya menuntut keadilan atas kematian putranya. Upaya itu ia lakukan hingga bertahun-tahun kemudian. Sudah sekian banyak surat telah dia kirimkan kepada pemerintah agar memperhatikan kejelasan penanganan kasus tewasnya putra tercintanya.

Advokasi yang dilakukan Sumarsih juga sokong oleh para penggiat HAM. Ia menemui banyak pihak untuk beraudiensi.Mulai dari Mahkamah Agung, Komnas HAM, Puspom TNI, DPR, hingga Presiden agar kasus kematian putranya diusut tuntas.

Pada tanggal 9 Januari 2007, sebuah pertemuan yang dihadiri penggiat HAM. kalangan korban dan keluarga korban HAM termasuk Suciwati, istri aktivis HAM Munir yang menjadi awal terbentuknya aksi Kamisan.

Aksi Kamisan digelar pertama kali pada 18 Januari 2007 di depan Istana Presiden.

Sumarsih bersama para penyintas dan keluarga korban pelanggaran HAM dengan payung dan atribut serba hitam, menggelar aksi diam selama satu jam. Mereka berdiri memegang payung yang bertuliskan desakan penuntasan kasus tragedi Trisaksi, Semanggi I dan Semanggi II. Dalam diam, mereka berharap penghuni Istana Negara tergugah untuk menuntaskan kasus HAM masa lalu itu.

Hingga kini, sudah tiga  belas tahun aksi Kamisan digelar di depan Istana Negara. Sayangnya, Sumarsih merasa kebenaran dan keadilan yang dia tuntut, masih tak tergapai hingga saat ini.

Belum ada titik cahaya di lorong gelap yang dilalui Sumarsih sejak kematian putranya. Entah sampai kapan. Sumarsih masih setia menggelar aksi Kamisan setiap pekannya. Berharap titik cahaya datang dari gedung Istana Negara. "Sampai sekarang masih jauh dari depan mata saya...," pungkas Sumarsih lirih.rmol news logo article

ARTIKEL LAINNYA