Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Dua Kota Di Italia Lenyap Karena Letusan Gunung Vesuvius, Ditemukan Kembali Lebih Dari Seribu Tahun Kemudian

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 24 Agustus 2020, 06:36 WIB
Dua Kota Di Italia Lenyap Karena Letusan Gunung Vesuvius, Ditemukan Kembali Lebih Dari Seribu Tahun Kemudian
Jasad penduduk yang mengeras karena terkubur lumpur panas membentuk cetakan plester unik/Net
rmol news logo   Kota Pompeii di Italia pernah menghilang selama lebih dari seribu  tahun. Suatu hari, gunung berapi aktif yang terletak di Teluk Napoli, Italia, meletus dan abu erupsinya telah mengubur kota itu beserta seluruh isinya. Namun, sebuah keajaiban terjadi. Kota itu kembali ditemukan.  

Gunung Vesuvius sempat ‘istirahat’ selama berabad-abad sehingga penduduk di sekitar wilayah itu tidak menduga bahwa gunung itu akan kembali meletus dan mengubur Kota Pompeii dan Herculaneum pada 24 Agustus 79.

Kota Pompeii dan Vesuvius terletak persis di kaki Gunung Vesuvius. Di awal Kekaisaran Romawi, kota tersebut dihuni oleh 20 ribu penduduk, termasuk pedagang, pekerja industri, dan petani yang memanfaatkan betul kesuburan tanah di Pompeii.

Tidak ada yang menyadari bahwa subur dan gemburnya tanah Pompeii adalah akibat warisan erupsi Gunung Vesuvius. Sedangkan Herculaneum adalah kota dengan jumlah penduduk mencapai 5.000 orang ketika itu dan merupakan destinasi wisata favorit orang-orang kaya Romawi di musim panas.

Semua itu lenyap hanya dalam hitungan jam saat Vesuvius meletus pada Kamis, 24 Agustus 79, sore.

Vesuvius memuntahkan awan berbentuk jamur setinggi 16 kilometer (km) ke udara serta batu apung. Saking dahsyatnya, letusan tersebut mencapai lapisan stratosfer bumi, seperti dikutip dari History.

Tidak sampai satu hari, abu vulkanik dan batu apung berdiameter 7 sentimeter (cm) menutupi Pompeii. Membuat seisi kota panik menyelamatkan diri, hewan-hewan berlarian, rumah rumah runtuh, dan suasna gelap karena tertutup semburan abu.

Namun ternyata tidak semua penduduk pergi dari kota itu. Sekira 2.000 orang memutuskan bertahan dengan harapan erupsi akan segera reda. Mereka menggali tanah atau berlindung di balik batu-batu raksasa.

Awan raksasa berisi debu panas dan gas, meluncur ke sisi barat Vesuvius di mana Kota  Herculaneum berada. Kota itu pun ikut hancur bersama penghuninya. Mereka tewas akibat sesak napas, luka bakar, dan juga terkubur oleh banjir lumpur vulkanik dan batu.

Warga Pompeii dan Herculaneum yang semula bertahan akhirnya tewas karena awan yang terbentuk dari gas beracun. Banjir batu dan abu merobohkan atap-atap dan tembok kota sehingga mereka tertimbun.

Dua kota itu tinggal kenangan.

Beradab-abad kemudian, ketika kisah pilu itu terlupakan, seorang petani menemukan jejak Pompeii di bawah kebun anggurnya pada tahun 1748.

Namun, versi lain menyebutkan bahwa seorang arsitek Italia telah lebih dulu menemukan sisa-sisa kota itu pada tahun 1599. Arsitek itu bernama Domenico Fontana, ia menemukan jejak Kota Pompeii  ketika sedang menggali saluran air.

Sejak itu, penggalian terus dilakukan. Pada 1927, Pemerintah Italia melanjutkan penggalian Herculaneum dan mampu menyelamatkan banyak peninggalan seni, termasuk patung batu serta lukisan-lukisan.

Sekitar 2.000 ‘jasad’ ditemukan. Mereka adalah korban yang tertimbun abu vulkanik yang mengeraskan serta mengawetkan bagian luar tubuh. Jenazah tersebut kemudian terurai hingga tersisa tulang belulang yang pada akhirnya membentuk cetakan plester unik.

Begitu juga dengan kondisi rumah dan benda-bend lainnya.

Hal ini dikarenakan abu yang membungkus Kota Pompeii mencapai ketebalan 4-6 meter sehingga Kota Pompeii menjadi kota kedap udara. Sisa-sisa kehidupan di Kota Pompeii pun masih tetap bertahan hingga sekarang. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA