Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Pengaruh Gagasan Pembaharuan Jamaluddin Al Afghani Di India

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/dr-muhammad-najib-5'>DR. MUHAMMAD NAJIB</a>
OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB
  • Selasa, 09 Juni 2020, 17:11 WIB
Pengaruh Gagasan Pembaharuan Jamaluddin Al Afghani Di India
Jamaluddin Al Afghani/Net
TAJDID atau pembaharuan yang dipelopori Jamaluddin Al Afghani bergaung ke seluruh dunia Islam termasuk di India.

India yang dimaksud dalam tulisan ini adalah India ketika masih menjadi koloni Inggris. Saat itu, baik Pakistan maupun Bangladesh belum ada, dan wilayahnya masih merupakan bagian dari India.

Berbagai perubahan sosial, ekonomi, dan politik terjadi di kawasan ini setelah Inggris menginjakkan kakinya di Asia Selatan, kemudian menggerus secara sistematis dominasi Kesulthanan Mughal yang memiliki spirit Islam yang sebelumnya mengendalikan wilayah ini.

Tulisan ini akan memberikan perhatian pengaruh gerakkan pembaharuan yang dimulai oleh Jamaluddin Al Afghani pada pertengahan abad 19, baik terhadap kehidupan beragama, sosial, maupun politik termasuk gagasan Pan-Islamnya.

Ada sejumlah tokoh penting dan berpengaruh yang menotehkan prestasi di kawasan ini yang akan dibahas. Pertama, Sayyid Ahmad Khan, lahir di Delhi (Old Delhi) pada tahun 1817. M. Sayyid Ahmad Khan adalah cucu dari Sayyid Hadi yang menjadi pejabat penting  pada pemerintahan Kesulthanan Mughal, pada era Alamaghir II ( 1754-1759 ).  Disamping memiliki pemahaman Islam yang mendalam, ia juga menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Persia.

Ketika masih kecil Ahamad Khan mengenyam  pendidikan tradisional dalam  bidang Agama dan belajar bahasa Arab serta bahasa Persia. Disamping sebagai orang yang gemar membaca, ia juga sebagai penulis yang produktif. Ia sempat menjadi hakim.

Pada tahun 1861, ia mendirikan sekolah berbahasa Inggris di Muradabad, dan pada tahun 1878, ia kemudian mendirikan Alighar Islamic University yang sampai sekarang masih termasuk universitas bergengsi dengan puluhan ribu mahasiswa.

Menurut Sayyid Ahmad Khan keterbelakangan ummat Islam di India disebabkan oleh karena terlena dengan kebesaran masa lalunya, yang mengakibatkan mereka terperangkap dalam kejumudan. Mereka tidak mengikuti perkembangan Barat yang berhasil mengembangkan sain dan teknologi modern yang menjadi motor kemajuan yang sudah jauh meninggalkan mereka.

Karena itu kunci kebangkitan ummat Islam terletak pada ajaran Islam sesuai dengan Al Qur'an dan Hadits yang rasional dan ilmiah. Karena itu ia menolak taqlid buta dan mendorong dilakukan ijtihad dalam berbagai kehidupan untuk mereaktualisasi pelaksanaan ajaran Islam, agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat yang dinamis dan senantiasa mengalami perubahan.

Kedua, Muhammad Iqbal, lahir di Sialkot, Provinsi Punjab, pada 9 November 1877. Sejak kecil Iqbal belajar Al Qur'an dari ayahnya, dan belajar Bahasa Arab serta agama Islam dari gurunya di Madrasah Syed Mir Hassan.

Saat melanjutkan studinya di Scotch Mission College, ia memperdalam pengetahuannya  dalam Bahasa Arab, lalu  Government Collegge hingga memperoleh gelar BA, selanjutnya  University of Cambridge, London, Inggris, dengan gelar BA, pada 1906, dalam bidang hukum, kemudian memperoleh Ph.D dari Ludwig Maximilian  University of Munich, Jerman pada 1908, dalam bidang filsafat.

Saat kuliah di Government Collegge, Iqbal sangat dipengaruhi oleh dosen filsafatnya Thomas Arnold, seorang orientalis yang sangat rasional. Dari Thomas Arnoldlah dirinya banyak memahami tentang kemajuan peradaban Barat, dan Thomas juga yang memotifasinya untuk melanjutkan studinya ke Eropa. Iqbal menilai banyak yang dihasilkan Barat memiliki nilai positif bagi kehidupan.

Iqbal disamping dikenal sebagai ahli hukum, ia juga dikenal sebagai politisi, filsuf, pujangga, dan pembaharu Islam. Ia banyak mengungkapkan gagasan-gagasan pembaharuannya dalam bentuk puisi. Puisi-puisi Iqbal yang ditulisnya dalam Bahasa Parsi dan Bahasa Urdu telah diterjemahkan kedalam banyak bahasa.

Sebagai politisi Iqbal mengawali langkahnya tahun 1908, ketika ia terpilih sebagai Direktur Eksekutif The Muslim League cabang Inggris. Ia memiliki gagasan Teo-Demokrasi sebagai bentuk perkawinan demokrasi Barat yang sekuler (mengabaikan tuhan) dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan Tuhan dalam posisi sentral dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk politik.

Pada 1930, ia melontarkan gagasan perlunya ummat Islam memiliki negara sendiri yang terpisah dari India yang didominasi ummat Hindu. Gagasan ini harus dibaca sebagai kelanjutan gagasannya terkait Teo-Demokrasi.

Gagasan Iqbal ini kemudian dilanjutkan sekaligus menemukan bentuknya di tangan seorang politisi Muslim India bernama Ali Jinah, yang kemudian melahirkan negara Pakistan, dimana ia kemudian menjadi Presidennya yang pertama. Karena itu Iqbal dan Jinah bisa dikatakan sebagai dua tokoh utama dibalik berdirinya negara Pakistan.

Tiga,  Abul a’la al-Maududi lahir 2 September 1903, di Aurangabad, India. Maududi merupakan anak ketiga dari Ahmad Hasan yang berprofesi sebagai pengacara yang terlibat aktif dalam kegiatan Tasawuf.

Ahmad Hasan mempraktikan kehidupan zuhud dalam keluarga dan mengembangkan pendidikan klasik Islam, mengajarkan Bahasa Arab, Bahasa Parsi, serta bahasa Urdu, dan tidak mengajarkan Bahasa Inggris.

Sekolah formalnya dimulai dari Madrasah Faqaniyat sampai pada tingkat menengah, lalu ia kuliah di Dar al-Ulum di kota Hederabat. Ia kemudian bekerja di sebuah penerbitan Islam di Delhi, dan pada saat bersamaan ia banyak membaca buku-buku sastra Arab, tafsir, dan filsafat.

Karirnya di bidang jurnalisme dimulai dari membantu majalah milik kakaknya  bernama Al Madinat pada tahun 1918. Ia kemudian dipercaya sebagai editor majalah berbahasa Urdu bernama Taj yang terbit di Jabalpore. Berikutnya Ia dipercaya untuk memimpin Surat Kabar Muslim dari Jami'yyat Ulama al-Hind, dan berhasil  menjadikannya sebagai media muslim yang berpengaruh. Pada puncaknya tahun 1932  dirinya dipercaya untuk memimpin penerbitan yang berorientasi pada kebangkitan Islam bernama Tarjum Al Qur'an di Hederabat.

Dalam bidang akademis karirnya mulai muncul saat dirinya dipercaya sebagai Dekan Fakultas Theologi di Islamic College. Di sinilah ia membentuk organisasi Jama'at Al Islam atau Jamaat e-Islami yang kemudian dipimpinnya selama 30 tahun  (1941-1971).

Gagasan-gagasan Maududi yang dibangun di atas fondasi Tauhid yang menempatkan Tuhan dalam posisi sentral, melahirkan gagasan-gagasan sangat radikal dan konservatif, serta terkesan anti Barat. Ia berpendapat ajaran Islam yang murni telah dirusak oleh masuknya budaya Barat dan berbagai bentuk kepercayaan lokal.

Dalam kehidupan politik, ia sangat menyesali runtuhnya Kesulthanan Turki Usmani pada tahun 1924, yang dipandangnya sebagai khilafah yang mempersatukan dunia Islam. Ia tidak percaya pada demokrasi juga nasionalisme. Akan tetapi ia mendukung gagasan Theokrasi. Karena itu bagi Maududi pembaharuan dimaknainya sebagai pemurnian ajaran Islam. rmol news logo article

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA