Program ini dinilai tak sekadar menjawab persoalan asupan gizi, tetapi juga memperkokoh fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menyebut makan bergizi sebagai langkah strategis negara dalam menyiapkan generasi berkualitas. Anak dengan kecukupan gizi, ujarnya, memiliki dasar yang lebih kuat untuk berkembang secara optimal.
“Program makan bergizi adalah ikhtiar menyiapkan kualitas manusia sejak dini, sehingga anak-anak dan masyarakat memiliki fondasi yang kuat untuk belajar, bertumbuh, dan berkontribusi,” kata Abdul Mu’ti dalam siaran persnya, Selasa (3/3/2026).
Ia menegaskan, MBG dirancang sebagai bagian dari pendekatan pendidikan yang komprehensif. Kondisi fisik yang sehat membuat peserta didik lebih fokus, siap menerima pelajaran, dan mampu memaksimalkan potensi di lingkungan sekolah.
Dalam kerangka nilai, Abdul Mu’ti mengaitkan kebijakan ini dengan konsep Islam
bastatan fil ‘ilmi wal jism –keunggulan ilmu yang sejalan dengan ketangguhan fisik. Ia menyinggung kisah Thalut yang dipilih memimpin bukan karena harta, melainkan kapasitas intelektual dan kekuatan jasmani.
“Tafsir modern menyebut amanah besar menuntut daya lahir dan batin yang dipandu iman, ilmu, serta pendidikan yang sistematis. Ilmu dimaknai sebagai pengetahuan yang bermanfaat, sementara jism mencakup kesehatan, kebugaran, ketahanan mental, dan kecakapan hidup,” paparnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut menempatkan MBG sebagai pintu masuk pembentukan karakter. Generasi unggul membutuhkan tubuh yang sehat agar ilmu dapat tumbuh dan diwujudkan dalam kerja nyata.
Pada akhirnya, program ini diarahkan untuk melahirkan generasi yang siap belajar, siap bekerja, dan siap memikul tanggung jawab sosial. Asupan bergizi dipandang sebagai bagian integral dari strategi membangun manusia Indonesia yang tangguh dan berdaya saing.
Dengan cakupan yang terus meluas, MBG diharapkan menjadi salah satu pilar penting dalam menyiapkan Generasi Emas 2045 serta menjawab tantangan masa depan.
BERITA TERKAIT: