Mengenang Presiden AS Ronald Reagan Yang Lolos Dari Peluru Maut Dan Lahirkan Reaganekonomik

Peristiwa penembakan yang mengintai Ronald Reagan 1981/Net

Hari ini Amerika Serikat masih berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk akibat aksi protes atas kematian George Floyd yang berujung kerusuhan masal yang mengerikan. Hari ini, ketika semua fokus terarah pada penanganan keamanan, 16 tahun yang lalu seorang presiden kesayangan dari negeri yang menyimpan permasalahan pelik terkait rasisme, wafat di samping istri dan anak-anaknya.

Presiden ke-40 Amerika Serikat ini mengembuskan napas terakhir di kediamannya di kawasan Bel Air, Los Angeles, California, Sabtu 5 Juni 2004. Ia meninggal dalam usia 93 tahun karena penyakit Alzheimer yang sudah 10 tahun diderita.

Beberapa hari sebelum kematiannya, kondisinya memang sudah memburuk.

Semasa kepemimpinannya, Reagan menghidupkan kembali sejumlah kebijakan konservatif yang mengubah wajah politik dan ekonomi Amerika Serikat di kemudian hari, sesuai dengan tema kampanye politik yang diusungnya, feel-good-ads yang maksudnya adalah kejayaan, keunggulan, dan kemakmuran bangsa Amerika.

Sebagai presiden, Reagan menerapkan inisiatif menyapu politik dan ekonomi baru. Sisi penawaran ekonomi, kebijakan ekonomi, Reaganekonomik, menganjurkan mengurangi tarif pajak untuk memacu pertumbuhan ekonomi, mengendalikan suplai uang untuk menurunkan inflasi, deregulasi ekonomi, dan mengurangi pengeluaran pemerintah. Itulah keberhasilan pria yang lahir di Illionois, 6 Februari 1911.

Reagen mengakhiri masa jabatannya dengan memandang puas pencapaian program inovatifnya yang dikenal sebagai Revolusi Reagan, yaitu menyegarkan kembali rakyat Amerika dan mengurangi ketergantungan pada pemerintah. Dia lega telah memenuhi janji kampanyenya pada tahun 1980. Itulah warisan terbesar Reagan.

Semasa kepemimpinannya, Amerika pernah menyerbu Tripoli dan Benghazi karena mencurigai pemimpin Libia Moammar Khadafy terlibat teroris. Reagan juga yang berperan besar menghentikan Perang Dingin dengan Uni Soviet dan bersahabat dengan Presiden Uni Soviet ketika itu, Mikhail Gorbachev. Ketika itu Reagan menyebutnya, sebagai "permulaan baru".
 
Keberhasilan pekerja keras ini bukan berarti ia tanpa musuh. Reagen yang menjabat pada 20 Januari 1981 – 20 Januari 1989, juga pernah menjadi sasaran para pembunuh.

Ketika itu 30 Maret 1981 atau 70 hari setelah resmi menghuni Gedung Putih, Reagen menjadi incaran percobaan pembunuhan. Politikus Partai Republik itu ditembak oleh seseorang bernama John Hinckley Junior pada 30 Maret 1981.
 
Ronald Reagan diberondong peluru di luar Hotel Hilton di Ibukota Washington usai memberikan pidato dalam rapat serikat buruh.

John Hinckley menyamar dengan berdiri di antara sekelompok wartawan di luar hotel. Hinckley menembak sebanyak enam kali ke arah sang presiden.
 
Tembakan tersebut mengenai dada dan bersarang hanya satu inchi dari jantungnya. Reagan dipapah menuju mobilnya untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat. Beruntung, peluru berkaliber 22 milimeter (mm) itu tidak mengenai jantungnya.

Sementara itu, yang ada di sekitar Reagen seperti James Brady tertembak di bagian kepala dan mengalami luka serius; Timothy McCarthy tertembak di bagian samping tubuhnya; serta Thomas Delahaney tertembak di lehernya.

Reagan yang kala itu berusia 70 tahun masih sempat berjalan sendiri menuju bangsal Rumah Sakit George Washington University tanpa bantuan. Ketika sudah mendapatkan perawatan dan akan menjalani operasi pengangkatan peluru, Ronald masih sempat-sempatnya bercanda dengan sang istri, Nancy Reagan.

“Sayang, saya lupa mengatakan sesuatu. Tolong katakan kepadaku kamu adalah seorang Republiken,” kata Reagan, mengutip dari History, Kamis 30 Maret 2017.

Lima tahun setelah meninggalkan kursi presien, tepatnya November 1994, Reagen menderita Alzheimer tahap awal. Penyakit ini menghancurkan sel-sel otak dan belum ditemukan obatnya. Sepanjang 1994 hingga kematiannya pada 2004, Reagen hidup dengan Alzheimer.

Reagen meninggal pada 5 Juni 2004. Sang isteri meletakkan bendera pada peti jenazah Reagan yang dihiasi. Semua berduka atas kepergian sang mantan presiden yang memegang rekor sebagai presiden paling tua dalam sejarah Amerika.
EDITOR: RENI ERINA

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Tewasnya Bom Seks Hollywood Paling Populer Marilyn Monroe Dan Nama Besar Keluarga Kennedy
Histoire

Tewasnya Bom Seks Hollywood ..

05 Agustus 2020 14:16
Karya Seni Islam Kuno Buktikan Hubungan Erat Kaum Muslim Dengan Dunia Barat
Histoire

Karya Seni Islam Kuno Buktik..

31 Juli 2020 11:41
28 Juli 1821 Saat José de San Martín Menyatakan Kemerdekaan Peru Atas Spanyol
Histoire

28 Juli 1821 Saat José de S..

28 Juli 2020 06:06
Kematian Egon Scotland Satu-satunya Kasus Kejahatan Perang Yugoslavia Terhadap Jurnalis Yang Berhasil Terungkap
Histoire

Kematian Egon Scotland Satu-..

27 Juli 2020 06:17
Syaikh Seraj Hendrick Tokoh Agama Yang Tegakkan Prinsip, Bukan Untuk Keuntungan Partisan Politik
Histoire

Syaikh Seraj Hendrick Tokoh ..

25 Juli 2020 06:10
Perang Austro-Prusia 1866: Kekalahan Austria Dan Bersatunya Wilayah-wilayah Kekuatan Jerman
Histoire

Perang Austro-Prusia 1866: K..

21 Juli 2020 07:42
Armenia-Azerbaijan Dalam Lingkup Nagorno-Karabakh,  Dunia Kecil Yang Menyimpan Api Dalam Sekam
Histoire

Armenia-Azerbaijan Dalam Lin..

15 Juli 2020 06:47
Kisah Cinta Fidel Castro - Anna Maria: Rahasia Dan Agama
Histoire

Kisah Cinta Fidel Castro - A..

11 Juli 2020 06:46