Kisah Airlangga Dan Cikal Bakal Surabaya

Rabu, 27 Mei 2020, 17:21 WIB

Arca Prabu Airlangga/Net

DALAM catatan sejarah, Surabaya dibangun oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Airlangga. Kepemimpinan Airlangga merupakan perpaduan antara budaya Bali, Jawa dan Kalimantan Timur. Asal usulnya dari beragam etnis, membuat dirinya toleran atas keberagaman.

Airlangga membangun Surabaya sebagai ibukota Kerajaan Kahuripan. Kerajaan sebelum Kahuripan yang bernama Medan Wetan beribukota di Mojokerto. Raja sebelumnya bernama Prabu Darmawangsa Teguh dan Empu Sindok.

Ayah Airlangga adalah Prabu Udayana, maharaja bijaksana dari Bali. Ibunya dari Kutai, keturunan raja Mulawarman. Namanya Ratnawarman. Dia putri bangsawan yang trampil berbisnis.

Usahanya meliputi kayu besi, kain tenun songket, perhiasan emas, pelayaran dan perkapalan. Ketika menjadi the first Lady di Istana Bali, tentu masyarakat bertambah makmur. Pemuda dilatih, dididik dan bekerja sesuai dengan ketrampilan.

Dalam suasana kejayaan itulah Airlangga mengalami pendidikan kebangsawanan. Prabu Udayana besanan dengan Prabu Darmawangsa Teguh. Raja Medang Martabumi ini punya gadis jelita. Bernama Prabasasi. Pernikahan Airlangga dengan Prabasasi berlangsung pada tanggal 21 April 1006.

Pesta pernikahan agung dilaksanakan besar besaran. Tiap hari berkumandang gendhing mat matan. Para penyanyi diundang bergiliran. Malam harinya dipentaskan wayang kulit semalam suntuk. Lakon diambil dari cerita adiparwa. Dipilih cerita yang mengandung nilai filosofis tinggi. Terutama yang berkaitan dengan teladan membangun rumah tangga.

Upacara pernikahan di Kraton Medang Martabumi dilanjutkan dengan tradisi sepasaran. Sebulan kemudian Prabu Udayana merayakan ngundhuh mantu. Hadir dalam pesta selapanan ini raja Samudra Pasai, Raja Baru, raja Bugis, Raja banjar, raja Melayu, raja Maluku, raja Makassar, raja Nusa Tenggara. Duduk pada deretan tamu kehormatan yaitu Fatimah Binti Maimun dan Maulana Malik Ibrahim tokoh muslim dari kewalian Gresik.

Turut mengundang keluarga besar kerajaan Kutai. Permaisuri Ratu Ratnawarman mengumumkan tidak menerima sumbangan dari mana pun. Maklum Ratu Ratnawarman seorang pengusaha kaya raya. Soal pesta pasti sudah tersedia yang berlimpah ruah. Acara ngundhuh mantu baginya menjadi kesempatan untuk menjamu warga Bali. Sang permaisuri raja Udayana terkenal pemurah dan ramah tamah.

Prabu Darmawangsa Teguh beserta Ratu Sudisna sungguh sangat berbahagia. Putri satu satunya telah berumah tangga. Berarti telah mentas. Sebagai orang tua hidupnya sudah merasa tutug. Masa depan kerajaan Medang Martabumi dibicarakan bersama nayaka dan sentana. Sidang penting ini dipimpin oleh perdana Menteri Narotama. Hasilnya musyawarah ini cukup mengejutkan. Pada tahun 1110 Prabu Darmawangsa Teguh memutuskan untuk lengser keprabon madeg pendeta.

Pembicaraan suksesi kerajaan Medang pada Martabumi cukup alot, panas, melelahkan. Fraksi fraksi kerajaan mengalami polarisasi. Ada dua kubu yang sangat dominan. Kubu Ginantar bersaing dengan kubu prameswari Sudisna. Dalam voting prrmusyawaratan, kubu prameswari Sudisna unggul.

Kubu Ginantar tersingkir dan tidak puas. Sedangkan Prabu Darmawangsa Teguh sendiri tak mau bicara politik. Sang Prabu menjadi pertapa di Ngetos lereng gunung Wilis. Di Pertapan Ngetos ini Begawan Darmawangsa Teguh mengajarkan kama arta darma muksa.

Kekuasaan Kerajaan Medang Martabumi untuk sementara dipegang Patih Narotama. Akan tetapi, Rakyan Ginantar merasa berhak atas tahta. Sebetulnya Rakyan Ginantar adalah adik tiri Prabu Darmawangsa Teguh lain ibu. Lahir dari garwa selir. Pelan pelan dia menyusun kekuatan. Konsolidasi politik berpusat di Kadipaten Wora Wari.

Ketika para pembesar Kerajaan berkunjung ke daerah Blambangan, tiba tiba ada insiden yang mengejutkan. Rakyan Ginantar berusaha merebut kekuasaan. Modusnya dengan nabok nyilih tangan. Preman bayaran disuap untuk membuat kerusuhan.

Pembesar Kerajaan Medang Martabumi segera bertindak cepat.

Patih Narotama menunjuk Airlangga sebagai panglima keamanan. Markasnya di Sumoroto Ponorogo. Pendidikan militer sewaktu hidup di Bali kali ini diuji di lapangan. Segera Airlangga kontak dengan para bupati pesisir dan Bang Wetan.

Dalam tempo sepasar keamanan pulih kembali. Jasa besar Airlangga ini menjadi inspirasi warga kerajaan Medang Martabumi untuk mendaulat Airlangga sebagai raja. Mbata rubuh surake wadya gumuruh. Semua sepakat.

Punggawa dan rakyat bertekad bulat. Airlangga akhirnya menjadi pemimpin kerajaan.

Dr. Purwadi SS M.Hum

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara)

Kolom Komentar


Video

Jasad ABK WNI Ditemukan di Frezeer Kapal China

Jumat, 10 Juli 2020
Video

Waspada!! Gunung Merapi Menggelembung

Sabtu, 11 Juli 2020

Artikel Lainnya

Armenia-Azerbaijan Dalam Lingkup Nagorno-Karabakh,  Dunia Kecil Yang Menyimpan Api Dalam Sekam
Histoire

Armenia-Azerbaijan Dalam Lin..

15 Juli 2020 06:47
Kisah Cinta Fidel Castro - Anna Maria: Rahasia Dan Agama
Histoire

Kisah Cinta Fidel Castro - A..

11 Juli 2020 06:46
Yagan, Pejuang Legenda Aborigin Yang Sisa Tengkoraknya Dimakamkan Setelah 177 Tahun Kematiannya
Histoire

Yagan, Pejuang Legenda Abori..

11 Juli 2020 05:57
Mary Read Dan Anne Bonny, Bajak Laut Cantik Dari Laut Karibia
Histoire

Mary Read Dan Anne Bonny, Ba..

06 Juli 2020 06:22
Zeppelin, 'Manusia Paling Bodoh Di Jerman' Hingga Menjadi 'Tokoh Jerman Paling Besar'
Histoire

Zeppelin, 'Manusia Paling Bo..

02 Juli 2020 06:06
Kematian Mengerikan Tiga Kosmonot Soyuz 11
Histoire

Kematian Mengerikan Tiga Kos..

30 Juni 2020 05:56
29 Juni, Ketika Para Pejuang Kembali Pulang
Histoire

29 Juni, Ketika Para Pejuang..

29 Juni 2020 06:04
James Smithson, Ilmuwan Inggris Yang Mendendam Kepada Negaranya Dan Melimpahkan Seluruh Warisannya Untuk Penelitian Amerika Serikat
Histoire

James Smithson, Ilmuwan Ingg..

27 Juni 2020 06:01