Prahara Depresi Akbar

Jaya Suprana/Net

SAYA sama sekali bukan ahli apalagi ilmuwan moneter. Bahkan saya tidak bisa membedakan antara moneter dengan keuangan.

Namun akibat pageblug corona memaksa saya mengurung diri di dalam rumah demi ikut memutus mata-rantai penularan Covid-19, terpaksa saya sedikit mempelajari sejarah tentang prahara penyakit menular dikaitkan dengan prahara keuangan bahkan malapetaka perang dunia.

Depresi Akbar

Konon pageblug Flu Spanyol yang kemudian dari Eropa menular ke Amerika Serikat menjelang akhir Perang Dunia I telah secara lambat namun pasti menimbulkan dampak prahara keuangan yang akhirnya memporak-porandakan pasar bursa Wall Street pada tahun 1929 sebagai masa yang di lembaran hitam sejarah keuangan dunia disebut sebagai Depresi Akbar (The Great Depression) yang tak lama kemudian bahkan mengobarkan Perang Dunia II.

The Economist


Pada tahun 2020, tepatnya pada edisi 9–15 Mei, majalah The Economist memajang cover dengan judul “A Dangerous Gap” disertai subjudul “The Markets versus The Real Economy” berilustrasi Wall Street dipisahkan dari Main Street oleh sebuah retakan bumi memanjang.

Isi majalah The Economist tersebut dipadati artikel dan berita terkait dengan prahara corona yang sedang merajalela di Asia, Afrika, Eropa, Australia dan Amerika. Menarik bahwa majalah terkemuka dunia tersebut secara eksplisit membedakan antara pasar dengan ekonomi.

Bahkan The Markets  dihadapkan secara frontal dengan The Real Economy seolah pasar adalah The Unreal Economy.

Perjudian


Namun di balik cover kontroversial itu, sebenarnya menyelinap sesuatu analogi sejarah pageblug influenza pada tahun 1920 yang menghadirkan resesi ekonomi global yang memuncak menjadi prahara The Great Depression dengan pageblug corona pada tahun 2020 yang rawan memicu resesi ekonomi.

Telah terbukti Depresi Akbar membuat begitu banyak manusia menderita depresi, sehingga putus asa kemudian melakukan bunuh diri massal akibat putus asa massal yang terlalu berat untuk dipikul.

The Great Depression pada hakikatnya membuktikan bahwa pasar modal merupakan hasil rekayasa manusia melegalkan perjudian yang penuh rekayasa permainan angka yang penuh kecurangan seperti halnya alam perjudian pada umumnya.

Yudistira merupakan tokoh Mahabharata yang sebenarnya berupaya menyadarkan siapa yang mau disadarkan bahwa perjudian merupakan suatu bentuk perilaku penuh risiko.

Prahara

Dengan mendayagunakan dystopia dan andaikatamologi  yang terkandung di dalam pemikiran Back To The Future, majalah The Economist awal Mei 2020 secara sadar atau tidak sadar mencoba menyadarkan kita semua bahwa sebaiknya umat manusia di seluruh pelosok planet bumi eling lan waspodo terhadap segenap kemungkinan dampak sosial dan ekonomi yang akan menerkam peradaban pasca prahara Corona dengan resesi ekonomi global.

Umat manusia perlu eling lan waspodo  agar jangan sampai pada abad XXI terulang kembali prahara The Great Depression  yang pada abad XX telah terbukti berhasil memporak-porandakan sosial-ekonomi dunia.

Rentetan prahara ekonomi abad XX yang kemudian terbukti mengobarkan Perang Dunia II semoga tidak kembali terjadi pada awal abad XXI. Semoga.

Penulis adalah pembelajar sejarah masa lalu demi menghadapi masa depan

Kolom Komentar


Video

#KamiMasihAda Pemkot Fasilitasi Launching Album 30 Musisi Semarang

Kamis, 24 September 2020
Video

Tanya Jawab Cak Ulung - Ancaman dan Peluang Pilkada

Kamis, 24 September 2020

Artikel Lainnya

Mempelajari Jari
Jaya Suprana

Mempelajari Jari

24 September 2020 21:48
Keindahan Yang Telah Lenyap
Jaya Suprana

Keindahan Yang Telah Lenyap

23 September 2020 16:58
Belajar Legowo Menghadapi Kritik
Jaya Suprana

Belajar Legowo Menghadapi Kr..

21 September 2020 07:56
Misteri Angkamologi Tiga Puluh Tujuh
Jaya Suprana

Misteri Angkamologi Tiga Pul..

19 September 2020 20:54
Ziggurat
Jaya Suprana

Ziggurat

18 September 2020 09:25
Angkamologi Empat
Jaya Suprana

Angkamologi Empat

17 September 2020 07:56
Marabahaya Singgasana
Jaya Suprana

Marabahaya Singgasana

15 September 2020 19:20
Waktumologi
Jaya Suprana

Waktumologi

14 September 2020 20:28