Idul Fitri: Kemenangan Iman Atas Nafsu Curang

Kamis, 06 Juni 2019, 08:04 WIB
RABU, 1 Syawal 1440 H (5 Juni 2019 M) kita merayakan Hari Raya Idul Fitri, setelah kita melewati ibadah Puasa di bulan Ramadhan dengan tulus, jujur, sabar dan taqwa. Hasil dari ibadah Puasa itu, kita rayakan dengan sebutan hari kemenangan.

Sejatinya hari kemenangan tersebut harus dimaknai sebagai kemampuan kita mengalahkan segala nafsu angka murka, yang berusaha merenggut dan menaklukkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Ketika nafsu itu kalah, maka jalan selanjutnya adalah mempertahan iman dari godaan-godaan yang lebih besar.

Bagi kaum muslimin puasa itu bukan hanya latihan terhadap diri sendiri secara individual, melainkan melatih kita untuk menghadapi realitas sosial yang kompleks.

Dalam rangka itulah Puasa menjadi ujian bagi kaum muslimin, Bukan hanya ujian untuk memperkuat moral individu. Jauh lebih luas, ia menjangkau kepekaan atau solidaritas sosial dalam masyarakat.

Kalau kita telaah puasa ini secara lebih universal, maka yang paling ditekankan adalah kejujuran. Jujur untuk selalu menahan diri dari segala godaan kenikmatan dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Tetang persoalan kejujuran ini, saya ingin menelaahnya dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimana nilai kejujuran itu semakin terkikis dalam panggung bernegara; Panggung Politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, Indonesia.

Ketidakjujuran ini terlihat jelas dan nampak semakin jelas setelah kita mengikuti perkembangan dinamika Kebangsaan kita akhir-akhir ini. Negara (perangkat kekuasaan) benar-benar telah merenggut sisa kepercayaan publik pada dirinya.

Nampak jelas dusta dan kebohongan itu mengisi ruang-ruang bernegara kita. Sebab kekuasaan tidak pernah memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Kita bisa membuktikan keresahan masyarakat terhadap proses politik, hingga penegakkan hukum yang amburadul dan tidak adil, merupakan efek dari ketidakjujuran perangkat kekuasaan dalam negara yang mengendalikan jalannya bernegara.

Bahkan kebohongan itu dibuat secara sempurna untuk menutupi kegagalan demi kegagalan kekuasaan menyelenggarakan keadilan sosial. Akhirnya negara menjadi pengendali kebenaran, dengan membuat kebohongan sempurna untuk menutupi aib kekuasaan yang rusak itu.

Kerusakan moral kekuasaan ini disebabkan karena ketidakjujuran pengendali kekuasaan sudah klimaks, membuat publik semakin resah dan gelisah. Akibatnya terjadilah kebohongan untuk menutupi ketidakjujuran itu. Atau kita sebut saja kebohongan di atas kebohongan.

Kenapa kebohongan ini melahirkan kebohongan? Maka kembali lagi kepada makna "ritualitas" ibadah puasa, bahwa seorang yang berpuasa itu harus jujur, jauh dari dusta dan kebohongan. Tetapi apabila orang tersebut menyerah dan menghamba pada nafus maka secara sembunyi ia akan makan dan minum, dan melakukan perbuatan yang dilarang, menyebabkan puasa batal.

Untuk menutupi ketidakmampuannya dalam menjalankan puasa, seorang pembohong akan menutupi kebohongannya dengan kebohongan. Di belakang orang ia tidak puasa, tetapi di depan orang ia mengaku puasa.

Orang seperti ini merupakan manusia yang curang. Ia ingin berlaku curang terhadap kejujuran orang-orang yang melakukan ibadah puasa dengan ikhlas. Kecurangan itu nampak dari perilakunya melakukan tindakan yang tidak jujur secara sembunyi-sembunyi dengan niat untuk mengelabui orang banyak.

Semua perilaku yang tidak jujur akan melahirkan kecurangan. Merasa berpuasa tetapi pada sesungguhnya tidak puasa dengan menandingi orang yang berpuasa adalah kecurangan yang nyata. Ibarat orang yang melakukan pertandingan, satu orang mengikuti tahap pertandingan dengan fair. Sedangkan yang curang melakukan dengan cara melompati tahap pertandingan itu untuk memperoleh kemenangan. Bukankah melompati itu bagian dari melakukan kecurangan? Tetapi merasa diri bertanding meskipun prosesnya tidak dia lewati, tetapi merasa diri ikut bertanding dengan orang yang mengikuti proses?

Contoh seperti ini telah ada dalam kehidupan bernegara kita. Seperti misalnya, ada lembaga netral; menyatakan netral tetapi bertindak tidak netral. Ada juga lembaga penegak hukum yang seharusnya jujur, profesional dan adil, yang menegakkan hukum dengan tidak profesional,  adil dan tidak jujur.

Ada Kontestan politik yang tidak siap tanding, malah justru ngotot bertanding, dengan menggunakan narasi "perang total" sebagai jalan menghalalkan segala cara, dengan menyalahi atau menabrak semua proses dengan ketidakjujuran.

Dan nampaknya ketidakjujuran ini sudah menghinggapi seluruh lapis atas penyelenggara negara, sehingga diantaranya banyak khianat. Mengkhianati sumpah dan tanggungjawabnya kepada rakyat demi untuk menyembah nafsu kekuasaan dalam dirinya.

Oleh karena itu, dalam momen idul Fitri kali ini, kita perlu untuk melakukan refleksi atas kehidupan kebangsaan kita yang sudah mulai tidak jujur. Bahwa kembali ke fitrah itu adalah kebersihan diri dari dosa dan nista.

Menghilangkan segala ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan kebohongan adalah bagian dari kemenangan kita selama puasa ramadhan satu bulan penuh. Kita menang dari belenggu kebohongan dan kedustaan itu, dan kita rayakan sebagai bentuk capaian yang akan dipertahankan satu Tahun penuh, sampai ramadhan selanjutnya tiba.

Dengan hikmah Ramadhan 1440 H ini kita dapat mengalahkan kecurangan-kecurangan yang terjadi dalam negara kita. Kecurangan ini bahaya, dan akan menjadi Mukaddimah terjadinya keresahan publik. Efeknya negara akan menjadi kacau dan itu berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Marilah kita maknai Ramadhan sebagai bulan melawan nafsu kebohongan, dan  sifat curang untuk mencapai kemenangan. Kemenangan atas kebohongan dan kecurangan. Semoga dengan Idul Fitri 1 Syawal 1440 H, kita dapat menghancurkan kecurangan dan kebohongan (bathil), dengan kejujuran dan keadilan (haq).

Wallahualam bis shawab.
    
Dr. Ahmad Yani

Politisi dan Praktisi Hukum
Editor: Aldi Gultom

Kolom Komentar


loading