Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Pendidikan Tinggi, Gen Z dan Metaverse

Oleh: Prof. Dr. Mustofa Kamil, Dip.RSL., M.Pd*

Kamis, 25 April 2024, 01:18 WIB
Pendidikan Tinggi, Gen Z dan Metaverse
Rektor Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang Prof. Dr. Mustofa Kamil, Dip.RSL., M.Pd/Ist
TIGA Megatrend yang paling mendasar dalam membangun marketing tahun 2030 karya Herman Kartajaya (2022), adalah: sustainable development Goals (SDGs),  generasi Z dan Metaverse.

Trend pertama. SDGs lahir karena adanya kekhawatiran terhadap keberlanjutan masa depan  bumi dan umat manusia sehingga mendorong PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) melahirkan agenda global bernama Millenium Development Goals (MDGs), yang kini berkembang  menjadi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs merupakan agenda yang dibentuk  sejak tahun 2015 dan direncanakan selesai pada tahun 2030.

Agenda ini dibentuk untuk menjaga  peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan sekaligus memperhatikan ekosistem alam. Secara lebih detail, SDGs memiliki 17 tujuan utama yang disertai 169 target dan 231 indikator. Meskipun bermula dari agenda PBB yang didukung pemerintahan di dunia, SDGS ternyata menuntut dukungan dari semua pihak, termasuk kontribusi Perguruan Tinggi dibutuhkan untuk mencapai target-target ambisius yang ada. Perguruan tinggi berperan terhadap indikator SDGs yang ditetapakan masih sangat kecil yakni 4 persen namun jika Pemerintah bekerja sama (berkolaborasi/bermitra) dengan Perguruan Tinggi  maka hasilnya bisa mencapai 47 persen (Pungkas Bahjuri Ali Bappenas, 2023). Peran Perguruan Tinggi dalam menjangkau SDGs dapat diwujudkan melalui Riset indikator SDGs, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Dalam konteks Sustainable Development Goals, dari sejumlah agenda global, Pendidikan Tinggi yang mampu mengusung Quality Education (pendidikan berkualitas), yang diarahkan agar pada tahun 2030 ditandai oleh:

(1) Kemampuan dalam menjamin akses yang sama bagi semua perempuan dan laki-laki, terhadap pendidikan tinggi, termasuk universitas, yang terjangkau dan berkualitas; (2) Kemampuan dalam meningkatkan secara signifikan jumlah pemuda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknik dan kejuruan, untuk pekerjaan, pekerjaan yang layak dan kewirausahaan; (3) Menghilangkan disparitas gender dalam pendidikan, dan menjamin akses yang sama untuk Pendidikan Tinggi, bagi masyarakat rentan termasuk penyandang cacat, masyarakat penduduk asli, dan anak-anak dalam kondisi rentan;
(4) Menjamin semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan, termasuk antara lain, melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup yang berkelanjutan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, promosi budaya damai dan non kekerasan, kewarganegaraan global dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dan kontribusi budaya terhadap pembangunan berkelanjutan; (5) Membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang ramah anak, ramah penyandang cacat dan gender, serta menyediakan lingkungan belajar yang aman, anti kekerasan, inklusif dan efektif bagi semua; dan (6) Secara signifikan memperluas secara global, jumlah beasiswa bagi negara berkembang, khususnya negara kurang berkembang, negara berkembang pulau kecil, dan negaranegara Afrika, untuk mendaftar di pendidikan tinggi.

Trend kedua; Generasi Z diprediksi pada tahun 2030 akan menguasai dan mendominasi pangsa pasar  tenaga kerja secara global atau disebut dengan istilah silent generation, hal itu dikemukakan Cushman dan Wakefield (2022) dalam bukunya Demographic Shifts: The World in 2030.

Ciri utama Gen Z:

1) Salah satu karakter Gen Z adalah kepedulian mereka pada isu lingkungan. Kesadaran bahwa segala aktivitas Gen Z memiliki dampak  pada lingkungan dan sosial membentuk konsumsi yang unik. Mereka  tidak sembarang mengonsumsi barang atau produk tanpa pertimbangan dampaknya terhadap kehidupan sosial. Lebih jauh Kartajaya menyebutnya sebagai generasi yang memiliki kesadaran  tinggi terhadap setiap produk yang dibeli populer yang disebut Ethical Confidents Customer atau sebagai generasi sadar lingkungan alias Darling. Gen Z sebagai customer sebelum membeli suatu produk  selalu melakukan riset, menimbang-nimbang, dan melakukan konsiderasi terkait penggunaan produk tersebut, First insight  pada tahun 2020 menyimpulkan hasil risetnya: bahwa Gen Z bersedia  mengeluarkan biaya lebih  untuk membeli produk yang berkelanjutan (Sustainable product).

2) Gen Z sebagai generasi net (Net Generation) seringkali menghabiskan  kurang lebih 6 jam  ataupun lebih  di depan layar gadget genggaman mereka, sehingga mereka sangat mengendalikan internet untuk belajar, hiburan dan berbelanja. Akibatnya banyak keputusan pembelian, belajar dipengaruhi oleh kanal online (media sosial) (Kim, et.al., 2020) dalam H.Kartajaya (2023). Don Tapscott dalam bukunya Grown Up Digital menjelaskan Net Generation adalah generasi yang memiliki karakteristik berupa pengendalian yang baik terhadap teknologi informasi dan komunikasi.

3) Generasi pro Globalisasi. Glokalisasi sebagai metonimia untuk menggambarkan fenomena lokal bertemu dengan tren global sebagai sebuah wujud perpaduan budaya lokal  yang melebur dengan budaya global dengan tanpa mengaburkan  kekhasan identitas  lokal para penikmat dan peserta tren tersebut merupakan karakteristik yang ditemukan pada generasi Z, konten-konten kreator dalam berbagai ragam kehidupan sosial kemasyarakatan, budaya, seni, kesehatan, pendidikan dll, sebagai kebudayaan yang muncul secara spontan dan memperoleh dukungan masyarakat dan itu merupakan fakta sosial. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia akan tetapi terjadi di berbagai penjuru dunia Sosiolog Jerman Niklas Reese. Karakteristik Gen Z yang unik merupakan fenomena kemunculan klaster populasi baru yang dijuluki Glocalized Intermediary Class. Generasi ini merupakan generasi yang sulit diprediksi.

4) Generasi aktif kreatif, kreativitas Gen Z dapat dibuktikan dengan berbagai leksikon yang muncul pada dunia bisnis di tahun-tahun terakhir seperti: user-generated content, ethical consumerism, corporate social responsibility, circular economy dll (Agudelo, at al), istilah tersebut merupakan isyarat peran aktif para konsumen saat ini. Bagaimana peran Perguruan Tinggi dalam menjawab tantangan Gen Z, tentu jawabannya tidak sesederhana diarahkan pada merubah atau mereview kurikulum sesuai pertumbuhan generasi tersebut namun demikian  pendidikan tinggi masa depan  harus mampu mempertahankan dan meningkatkan martabat, kapasitas dan kesejahteraan manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan alam. Lebih jauh melalui tulisan yang berjudul Reimagining Our Future Together, Unesco (2021) menyatakan bahwa perubahan paradigma pendidikan pada era perubahan yang cepat dan kompleks perlu menekankan pada pedagogik kooperatif dan solidaritas dimana interkonektivitas dan interdependensi antar individu dan masyarakat menjadi kerangka dasar pedagogi.

Jika dipahami secara mendasar maka, kurikulum Pendidikan Tinggi  pada generasi ini harus menekankan pada pembelajaran yang bersifat interdisiplin, interkultural, dan ekologis. Kontrak sosial baru untuk pendidikan tinggi harus berlabuh pada dua prinsip dasar: (1) pemenuhan hak atas pendidikan dan (2) komitmen terhadap pendidikan sebagai upaya masyarakat umum dan kebaikan bersama.

Sejalan dengan perkembangan era Industry 4.0, World Economic Forum dalam tulisannya yang berjudul School of the Future (2020) mengusulkan perlunya empat konten pembelajaran dan empat pengalaman belajar sebagai agenda perubahan pendidikan dalam menjawab trend gen Z meliputi: kecakapan kewarganegaraan global, kecakapan kreativitas dan inovasi, kecakapan teknologi, dan kecakapan interpersonal.

Adapun empat pengalaman belajar yang ditawarkan adalah pembelajaran berbasis personalisasi dan kecepatan diri, pembelajaran inklusif dan mudah diakses, pembelajaran kolaboratif dan berbasis masalah, pembelajaran sepanjang hayat dan berpusat pada peserta didik. Rekayasa ulang pendidikan dari model tradisional yang terikat tempat ke model tripalisasi baru yang mencakup globalisasi, glokalisasi, dan individualisasi dalam pendidikan untuk menciptakan peluang tak terbatas bagi pengembangan kecerdasan majemuk kontekstual meliputi kecerdasan teknologi, ekonomi, politik, sosial, budaya, dan kecerdasan belajar.

Trend ketiga, Metaverse. Metavers diperkenalkan oleh Neal Stephenson dalam novelnya yang berjudul Snow Crash tahun 1992, pada buku tersebut tidak dijelaskan tentang definisi metaverse. Namun demikian istilah tersebut membuat banyak orang terinspirasi  dan merasakan terjadinya distopia, snow cash menggunakan latar abad 21, penemuan  produsen bisnis kedirgantaraan swasta dan penerbangan luar angkasa suborbital Blue Origin oleh Jeff Bezos begitu juga dengan SpaceX milik Elon Musk, dua dari tiga pendiri Keyhole atau yang sekarang dikenal dengan Google Earth merupakan perusahaan raksasa yang lahir dengan inspirasi Snow Cash.

Metaverse sebagai cara baru dalam penggunaan internet, dengan menggabungkan  alat virtual  seperti hologram atau augmented reality. Potensi revolusioner  dari metaverse terletak pada perluasan  penggunaan VR  ke semua sektor masyarakat, dari dunia game  saat ini  hingga sektor-sektor  seperti kehidupan kerja, pendidikam, ritel, hukum institusi publik dll. H. Kartajaya (2023).  

Merujuk pada trend tersebut pertanyaannya, bagaimana perguruan tinggi menyiapkan kampus yang mampu menjawab fenomena tersebut?  Pemanfaatan teknologi metaverse  memberikan pengalaman sekaligus sarana bagi mahasiswa dalam berinteraksi dengan teman dan dosennya sehingga pembelajaran daring lebih optimal dan tidak berbeda dengan pembelajaran konvensional (langsung), sehingga  interaksi dosen dan mahasiswa di ruang kuliah  yang hanya transfer pengetahuan menjadi tidak menarik dan tidak relevan sehingga tidak selaras dalam membangun kompetensi mahasiswa yang aktif kreatif dalam mengantisipasi perubahan dan ketidakpastian pekerjaan di masa depan (kompetensi yang dibutuhkan). Oleh karena itu model pembelajaran dalam konsep metaverse sebagai semesta virtual kolaboratif mampu menggabungkan  interaksi manusia dengan avatar serta berbagai produk  dan layanan antara dunia nyata dan dunia digital tanpa batas.

Pendidikan Tinggi sebagai fast learner akan mudah beradaptasi dalam membangun kompetensi peserta didiknya jika dibantu oleh teknologi augmented reality, realitas virtual (virtual reality) dan kecerdasan buatan  (AI) jika dilakukan (berlangsung) dalam PBM  yang simultan dan paralel di metaverse. Kondisi tersebut pada dasarnya akan  membentuk kembali  praktik pedagogis baru. Siswa dari seluruh dunia akan dapat ikut hadir  ke dalam konteks virtual, duduk bersama rekan-rekan mereka sambil melakukan kontak mata dengan guru mereka (H.Kartajaya, 2023).

Kesimpulan

Pertama, perkembangan masyarakat yang diwarnai perubahan cepat, kompleks dan berkelanjutan mewarnai munculnya kebutuhan pengetahuan dan keterampilan baru sehingga mendorong perubahan budaya akademik pendidikan tinggi  yang dituntut menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi, berintegrasi, berkreasi dan berkontribusi positif pada kehidupan diri, lingkungan dan agama.

Kedua, pendidikan tinggi yang cenderung konvensional dan bertumpu pada transfer of knowledge dianggap kurang mampu melahirkan lulusan yang terampil beradaptasi, berintegrasi, berkreasi dan berkontribusi positif sejalan dengan tuntutan zamannya. Untuk itulah diperlukan transformasi pendidikan tinggi yang dapat melahirkan lulusan sebagai pembelajar  sepanjang hayat (lifelong learner) yang inovatif, kreatif dan produktif sehingga berkontribusi positif di masyarakat secara berkesinambungan.

Ketiga, terbangunnya budaya mutu yang ditandai dengan ketercapaian standar atau melebihi standar yang ditetapkan diperlukan suatu upaya manajemen mutu dalam bentuk jaminan quality assurance maupun quality control, sehingga semua aspek yang terkait dengan layanan pendidikan yang diberikan mampu mencapai standar mutu tertentu sehingga output yang dihasilkan sesuai visi dan misi perguruan tinggi di Universitas Negeri Islam Syekh Yusuf (UNIS).

Keempat, UNIS dalam mempersiapkan sumber daya manusia masa depan diperlukan gagasan-gagasan baru baik dalam menata kurikulum, mengembangkan cyber campus sebagai jawaban terhadap perlunya layanan pembelajaran distance education (distance learning), menambah Program Studi dengan kompetensi kekinian, meningkatkan kemampuan dan kompetensi dosen mengembangkan layanan-layanan kampus berbasis digital serta berbagai perangkat pendukung lainnya baik pendukung riset maupun pengabdian masyarakat.

Kelima, kurikulum UNIS pada generasi alpha (Z) harus mampu menekankan pada pembelajaran yang bersifat interdisiplin, interkultural, dan ekologis dengan berlabuh pada dua prinsip dasar: (1) pemenuhan hak atas pendidikan dan (2) komitmen terhadap pendidikan sebagai upaya masyarakat umum dan kebaikan bersama berdasar pada nilai-nilai akhlakul karimah.

Keenam, perubahan UNIS pada era generasi alpha perlu didukung juga dengan perubahan fungsi UNIS sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menjunjung nilai-nilai Islami yang meliputi; fungsi religius, fungsi teknis-ekonomis, fungsi social-manusia, fungsi politik, fungsi budaya, dan fungsi pendidikan. rmol news logo article
 
 
*Penulis adalah Rektor Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang. Tulisan ini menjadi naskah pidato dalam Milad ke-58 UNIS Tangerang.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA