Sebanyak 8 ton telur tersebut disebarkan ke tujuh pasar di Jabodetabek.
"Nah, dari total 8 ton, kita liat nanti 8 ton ini efektif enggak, kalau enggak ya kita gelontorkan lagi, kita tembak lagi. Inikan dari peternak Layer, belum peternak gedenya yang saya ajak. Kalau masih naik lagi saya gedein lagi, yang penting produsen tidak dirugikan," kata Ketua BKP Kementan Agung Hendriadi di Toko Tani Indonesia (TTI), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (15/12).
Menurut Agung, kenaikan harga telur yang tidak sesuai dengan Harga Acuan Pemerintah (HAP) biasanya dipengaruhi oleh faktor distribusi yang tidak terkontrol. Terlebih, menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN).
"Ini masalah distribusi biasanya, jadi kalau jelang Natal ini suka ada yang ingin memperoleh keuntungan tapi ya janganlah dirugikan masyarakat. Harga acuan itu yau dah Rp 23 ribu ya Rp 23 ribu jangan dinaik-naikin lah," ujar Agung.
Lebih lanjut, Agung menegaskan bahwa upaya yang dilakukan BKP Kementan bersama FPLN ini untuk menekan harga di pasar agar mengikuti HAP.
"Nah untuk antisipasi, jadi kami diskusi juga sama peternak Layer Nasional, ini penting karena mereka ini penyuplai. Kita sama-sama antisipasi harga. Jadi mereka ini yang menyuplai kami yang distribukan," kata Agung.
"Kita membeli dengan harga produsen kemudian menjuak dengan harga acuan pemerintah, selesai," imbuhnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: