Jujur pada diri sendiri salah satu kunci utaÂma di dalam mencegah dan sekaligus meÂnyelesaikan konflik apapun, terutama konflik keagamaan. Rasulullah Saw juga pernah meÂnegaskan dalam kalimat berbeda: Ibda' bi nafÂsik (mulailah pada dirinya sendiri). Al-Qur'an lebih generik mengatakan: Kafa bi nafsik al-yauma hasiba (cukuplah dirimu sendiri sebaÂgai penghisab (penentu) terhadapmu. Pada akhirnya diri pribadi yang lebih tahu apakah sesungguhnya diri kita juga tidak menjadi fakÂtor dalam terjadinya sebuah konflik. Jika kita mau jujur pada diri sendiri, tidak sedikit konflik yang ada di sekitar kita justru kita juga menjadi faktornya. Akan tetapi manakala kemunafikan sudah merajalela maka konflik dan keteganÂgan sosial tidak bisa dihindari.
Memang jujur pada diri sendiri gampang dinasehatkan kepada orang lain. Namun jika suatu masalah bersentuhan dengan diri sendiÂri selalu menjadi ujian berat bagi kita. Ternyata tidak semua yang disarankan kepada orang lain bisa dengan begitu mudah kita lakukan. Tidak sedikit jumlah orang yang terlibat seÂbagai faktor, bahkan sebagai provokator, di dalam konflik keagamaan justru orang-orang yang dianggap tokoh dalam suatu komunitas. Agak antagonistik memang, karena sehari-hari orang itu mengeluarkan kata-kata bijak di mimbar agama tetapi tiba-tiba menjadi peniup terompet perang.
Orang yang seperti ini menandakan dirinya menyimpan suatu masalah. Orang-orang yang belum selesai pada dirinya sendiri sulit menyeÂlesaikan orang lain. Banyak orang bisa bicara arif ketika ia berjarak dengan problem. Akan tetapi begitu bersentuhan langsung dengan sebuah problem maka ia menampilkan sesÂuatu yang mengecewakan. Terasa tidak panÂtas dilakukan layaknya seorang tokoh.
Untuk menjadi seorang tokoh ideal atau guru bangsa diperlukan jiwa besar untuk berÂlaku jujur pada diri sendiri. Namun tidak gamÂpang meraih maqam jiwa besar itu. Pertama kali kita harus hijrah meninggalkan jiwa kecil dan kerdil untuk berangsur-angsur menggaÂpai jiwa besar. Bisanya selalu harus ada moÂmentum pengalaman untuk mengorbitkan sesÂeorang menjadi pemilik jiwa besar. Misalnya ia memiliki pengalaman panjang hidup di dalam zona konflik dan belajar serta memetik hikmah di dalam zona itu untuk mencegah zona koflik berikutnya. Biasanya orang terbiasa hidup di dalam zona nyaman dan tidak pernah hidup dalam zona konflik, sulit diharapkan menjadi penengah atau ditokohkan sebagai juru damai dalam sebuah konflik. Orang-orang yang jujur pada dirinyalah yang biasanya selalu tampil sebagai mediator di dalam berbagai masalah.
Sesungguhnya bangsa Indonesia adalah laboratorium paling bagus untuk melahirkan tokoh-tokoh arif-bijaksana. Bukankah bangsa ini dihuni ribuan etnik, suku, bahasa, agama dan kepercayaan? Bukankah bangsa ini terdiri atas ribuan pulau yang dipadati oleh berbagai etnik, suku, bangsa, bahasa, agama, dan keÂpercayaan? Bukankah bangsa ini juga sudah kenyang dengan pengalaman konflik sekaliÂgus perdamaian dalam lintasan sejarahnya? Yang lebih penting, bukankah bangsa ini juga masih terus akan dibayangi potensi konflik seÂbagai konsekuensi negara plurar? Di sinilah perlunya strategi budaya dan peradaban untuk mengantisipasi potensi konflik yang melekat di dalam tubuh bangsa ini. Tentu konsep strategi budaya tidak ada artinya jika tidak didukung oleh pribadi-pribadi yang berani jujur pada diÂrinya sendiri.