Perguruan Tinggi Bisa Hasilkan SDM Mumpuni Dengan Jejaring Dunia Industri

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/dede-zaki-mubarok-1'>DEDE ZAKI MUBAROK</a>
LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK
  • Rabu, 17 Januari 2018, 22:24 WIB
Perguruan Tinggi Bisa Hasilkan SDM Mumpuni Dengan Jejaring Dunia Industri
Foto : Dok/kemnaker
rmol news logo Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat penting dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) kompeten. Untuk itu, perguruan tinggi harus memiliki jejaring kerja sama dengan industri yang relevan dengan program studinya.

Demikian disampaikan Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M. Hanif Dhakiri saat menyampaikan orasi ilmiah di acara Wisuda Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana Periode 2017-2018 Universitas Sains al-Qur'an (UNSIQ) di Wonosobo, Rabu (17/1).
 
"Membangun jejaring antara perguruan tinggi dengan dunia industri penting dalam rangka mendekatkan SDM yang dihasilkan dan relevan dengan kebutuhan industrinya," kata Menteri Hanif

Untuk menjawab tantangan pasar kerja yang dinamis, kata Hanif, perguruan tinggi jangan hanya mengajarkan mahasiswa dengan keterampilan lama. Sebaliknya, jurusan dan kejuruan yang dimiliki perguruan tinggi harus relevan dengan dunia kerja, baik dari unsur dosen, kurikulum, laboratorium dan semua peralatannya.

“Sekarang  dunia bergerak cepat. Perkembangan teknologi menghadirkan berbagai jenis pekerjaan baru. Karenanya, kurikulum yang  diajarkan di kampus harus sesuai dengan perubahan jaman dan kebutuhan industri," terangnya.

Dalam tiga tahun terakhir kata Hanif, angka pengangguran di Indonesia terus mengalami penurunan. Namun begitu, prosentase pengangguran dengan tingkat pendidikan tinggu justru naik.

Penyebanya, kata Menaker, karena miss match atau ketidaksesuain antara output SDM (lulusan perguruan tinggi) dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Angka perbandingan miss match terbilang tinggi. Dalam ukuran 10 orang lulusan perguruan tinggi hanya 3-4 orang saja yang nyambung.

"Nah tentu ini menjadi tantangan kita termasuk tantangan bagi perguruan tinggi," urai Menteri Hanif.

Selain miss match, lulusan perguruan tinggi juga dihadapkan pada persoalan under qualification. Yakni, lulusan perguruan tinggi masih berada di bawah standar kompetensi.

Menaker mengapresiasi UNSIQ yang sudah menyesuaikan kurikulumnya dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Menaker berharap, perguruan tinggi lainnya melakukan langkah-langkah yang sama.

"Jadi kompetensi yang sesuai dengan gelar yang dimiliki," kata Menaker.

Menaker mengingatkan  perkembangan teknologi dan informasi yang masif sangat mempengaruhi perkembangan dunia industri. Efeknya, kebutuhan akan jenis-jenis pekerjaan pun berubah. Dengan adanya perubahan jenis pekerjaan maka dibutuhkan keterampilan-keterampilan baru.

"Ketika pekerjaan berubah maka skills yang dibutuhkan juga berubah. Itulah kenapa perkembangan teknologi informasi sekarang ini perlu kita antisipasi," papar Menaker.

Kata dia, pemerintah akan mendorong perguruan tinggi untuk lebih berorientasi kepada pendidikan vokasi. Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. [dzk]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA