Pertama, kata dia, adalah penguasaan akan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Melalui penguasaan iptek, sebuah negara bisa memprediksi beragam masalah, bahkan hingga 30 tahun yang akan datang.
‎Menurutnya, iptek sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia saat ini yang sedang bermasalah dalam mencukupi pangan masyarakatnya.
"Kita saat merdeka itu jumlah penduduk hanyak 70 juta, sekarang 260 juta. Itu kita bermasalah dengan pangan. Beras, garam, hingga bawang banyak yang impor. Bayangkan nanti 5 tahun ke depan kalau jadi 500 juta," ujarnya saat membuka Pameran Seni dan Budaya Nusantara (Pandatara) 2017 ‎bertajuk 'Bangkit Berbudaya Bersama Pemuda Indonesia' di SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (26/10).
Namun begitu, iptek saja tidak cukup. Zulkifli kemudian menukil ekonom politik Francis Fukuyama bahwa syarat kedua yang harus dimiliki adalah trust atau kepercayaan sosial. Artinya ada rasa saling mencintai dan menghargai antar sesama rakyat, termasuk antara rakyat dengan pemerintah dan sebaliknya.
"Kalau sekarang bukan saling percaya, tapi saling lapor polisi, menghujat dan menyakiti," sesal ketua umum PAN itu.
Zulkifli menjelaskan, trust akan lahir jika kebijakan yang diambil pemerintah cocok dengan kepentingan bersama.
"UU atau peraturan harus untuk kepentingan bersama, bukan golongan," tutupnya.
Sementara syarat ketiga adalah nilai-nilai atau values. Dalam hal ini, Zulkifli Hasan menyebut bahwa Indonesia beruntung memiliki Pancasila sebagai ideologi dasar negara.‎
Para pendiri bangsa sudah sepakat bahwa Indonesia itu berbeda-beda sejak 72 silam dan Pancasila adalah pemersatu keberagaman itu.‎ Hal itu tersirat dari penghapusan 7 kata dari Piagam Jakarta menjadi sila pertama Pancasila.
"Kita faktanya memang berbeda dan tidak usah disama-samakan," jelasnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: