Keprihatinan itu muncul karena adanya kelompok yang berpendirian, yang bukan golongannya berarti bukan teman. Mereka yang bukan teman itu bisa dimusuhi dan diperangi, meskipun masih satu bangsa dan negara Indonesia.
Pengelompokan-pengelompokan yang memicu pertikaian itu menurut Zulkifli muncul seiring semakin rapuhnya semangat kebangsaan. Dan semakin besarnya kesenjangan, baik antara pusat daerah, Jawa dan non jawa, serta barat dan timur.
Pernyataanitu disampaikan Zulkifli di hadapan peserta Rakernas Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI). Rakernas AMKI berlangsung di Msjid Al-Furqpn Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Jawa Barat, Sabtu (14/1).
Kesenjangan yang terjadi di Indonesia kata Zulkifli tampak begitu kasat mata. Antara lain, pada bidang penguasaan lahan, penguasaan sumber daya alam, hingga aktivitas impor yang sudah mencakup seluruh kebutuhan hidup. Mulai dari padi, bawang, jagung, kedele hingga garam.
"Petani kita tak punya lahan, dan pekerjaan, mereka juga tak memiliki keterampilan dan pengetahuan, ketika lapar, menjadi sangat gampang disusupi untuk melakukan tindakan anarkisme," kata Zulkifli menambahkan.
Selain karena alasan kesenjangan, lanjut Zulkifli, perilaku pejabat negara yang tidak mencerminkan Pancasila menambah rumit persoalan kebangsaan.
Mereka adalah para pejabat yang lupa dengan tujuannya menjadi pemimpin. Sehingga menjadikan jabatannya sebagai alat untuk memperkaya diri sendiri.
"Lupa pada sumpahnya yang harus menjadi pelayan masyarakat," tukas Zulkifli yang juga ketum PAN ini seperti dalam rilis Humas MPR.
[rus]
BERITA TERKAIT: