"Sejarah telah membuktikan bahwa semakin majemuk maka semakin toleran bangsa itu. Toleransi bermakna sikap yang memperlihatkan kesediaan mengangkat, menopang, dan menerima perbedaan yang dihadapi," kata Sekretaris Fraksi Partai Hanura DPR RI Djoni Rolindrawan dalam sambutannya ketika membuka seminar nasional kerja sama Fraksi Hanura dengan Jaringan Muda Indonesia (JMI) di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Senin (10/10).
Seminar bertema "Membangun Komitmen Pemuda-Mahasiswa dalam Menjaga Kebhinnekaan Untuk Memperteguh Kemajemukan Bangsa" diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan pemuda dan mahasiswa. Narasumber seminar ini adalah Mukhtar Tompo (anggota Fraksi Partai Hanura), Inas Nasrullah Zubir (anggota Fraksi Partai Hanura), dan Ariyanto (aktivis pemuda).
Menurut Djoni, saat ini semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai warisan luhur pendiri bangsa terlihat luntur dan memudar. Beberapa faktor penyebabnya seperti disparitas sosial ekonomi sebagai dampak dari pengaruh globalisasi serta mekanisme demokrasi yang baru sebatas prosedural, belum sepenuhnya substansial.
"Implikasi dari faktor itu dapat dilihat dari tingginya kesenjangan sosial. Akibat dari keadaan ini dikhawatirkan akan menimbulkan fanatisme asal daerah, sentimen etnik/rasial, dan berpotensi sebagai bara konflik serta pemicu disintegrasi bangsa," kata Djoni yang juga anggota Badan Pengkajian MPR RI ini.
Karena itu Djoni mengajak pemuda dan mahasiswa untuk menggelorakan kembali semangat kebhinnekaan. Perbedaan haruslah dipandang sebagai suatu kekuatan yang bisa mempersatukan bangsa dan negara dalam mewujudkan cita-cita nasional.
"Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sangat heterogen, dan karenanya toleransi menjadi kebutuhan mutlak," kata dia.
Untuk melahirkan pemuda yang tangguh, lanjut Djoni Rolindrawan, perlu adanya pendidikan moral, pengembangan wawasan, keterampilan, serta penanaman rasa nasionalisme.
"Salah satunya melalui penanaman nilai-nilai kepribadian bangsa yang tercermin dalam Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sehingga mampu menjadi pemimpin dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa melihat kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, suku, ras, agama atau hal-hal lain karena semua sama dan tetap satu yaitu Indonesia," jelas Djoni.
[rus]
BERITA TERKAIT: