"Penyidik memutuskan untuk mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan. Maka itu ditetapÂkan penahanan tersangka," kaÂta Yuyuk Andriati, Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK.
Farizal ditahan usai menjalani pemeriksaan selama tujuh jam di KPK, kemarin. Dalam peÂmeriksaan itu, tersangka ditanya mengenai hubungan dengan Xaveriandy Sutanto, terdakwa kasus penjualan gula non SNI.
Penyidik juga menyinggung soal pemberian uang Rp 365 juta dari Sutanto kepada Farizal. "Dugaannya ada beberapa kali penerimaan," kata Yuyuk.
KPK mengembangkan penyÂidikan untuk mengendus dugaan keterlibatan pihak lain. Untuk itu, KPK akan memanggil para jaksa yang menjadi penuntut umum perkara Sutanto.
Kuasa hukum tersangka Farizal, MF Gunawan enggan mengomentari perkara suap yang menjerat kliennya. Namun dia mengungkapkan, Farizal cukup syok ketika penyidik KPK meÂmutuskan melakukan penahanan terhadap kliennya.
Farizal ditetapkan sebagai tersangka sejak 17 September 2016. Jaksa pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat yang menjadi ketua tim penuntut umÂum perkara penjualan gula non SNI diduga menerima suap dari terdakwa Xaveriandy Sutanto, Direktur CV Semesta Berjaya.
Diduga, Farizal ikut memÂbantu Sutanto menyusun eksepsi atau nota keberatan untuk memaÂtahkan dakwaan jaksa penuntut umum (JPU). Ia juga membantu mengarahkan saksi-saksi yang menguntungkan Sutanto.
KPK menjerat Farizal dengan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Farizal sempat diÂpanggil KPK untuk menjalani pemeriksaan pada Rabu, 21 September lalu.
Usai menjalani pemeriksaan di kantor KPK di Kuningan, Farizal dijemput tim dari Jaksa Agung Muda Pengawasan (JAM Was) Kejaksaan Agung untuk menÂjalani pemeriksaan etik.
Jaksa Agung M Prasetyo menyatakan, jaksa Farizal belum dinonaktifkan meski sudah berstatus tersangka. Menurut dia, Farizal akan dinonaktifÂkan setelah ada rekomendasi hasil pemeriksaan dari JAM Was. "Masih diproses sama JAM Was," kataya.
Kepada tim pemeriksaan JAM Was, Farizal mengakui menerima uang dari Sutanto. "Kata JAM Was, Farizal mengaku terima uang Rp 60 juta," sebut Prasetyo.
Kejaksaan Agung akan meÂnyerahkan proses hukum terÂhadap Farizal kepada KPK. "Kita sudah sama-sama tahu dia (Farizal) sudah berstatus tersangka. Ya yang hitam biarÂkan hitam, yang putih biarkan putih supaya semua jelas," ujar Prasetyo.
Kilas Balik
Dirut Perum Bulog Bakal Diperiksa Soal Irman
KPK bakal memeriksa Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti sebagai saksi kasus suap Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman.
Irman disangka pernah menelÂepon Djarot membicarakan soal kuota gula impor. Percakapan ini masuk radar KPK. Djarot pun akan diminta klarifikasi atas pembicaraan itu.
"Saya yakin sangat dibutuhÂkan (memeriksa Dirut Bulog). Karena menurut informasi dari penyelidik semua yang ada hubungannya dengan kasus itu khususnya di bagian percakapan yang didapat oleh KPK akan diÂperiksa," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Namun Syarif belum mau mengungkapkan jadwal pemanggilan Djarot.
Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menyeÂbutkan ada percakapan Irman dan petinggi Bulog soal kuota gula impor. Dalam percakapan itu, Irman meminta petinggi Bulog mengalihkan kuota gula impor milik DKI Jakarta sebanyak 3 ribu ton ke Sumatera Barat.
Dalam percakapan itu, Irman merekomendasikan, "Ada teman saya di sana (Sumatera Barat) yang bisa dipercaya." Menurut Marwata, "teman" itu adalah Xaveriandy Sutanto, Direktur Utama CV Semesta Berjaya.
Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati menambahkan, pimpinan KPK sudah sepakat untuk memeriksa Dirut Perum Bulog. Tim penyÂidik baru membahas pemangÂgilan Djarot awal pekan ini.
Tim penyidik juga akan menÂdalami pemberian uang dari Xaveriandy Sutanto kepada Irman. "Apakah ada pemberian lainnya," kata Yuyuk.
Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti telah membantah keterlibatan CV Semesta Berjaya maupun Irman Gusman dalam proses impor gula Bulog. "Yang bersangkutan tidak ada hubungannya dengan proses importasi," katanya.
Namun menurut Djarot, ada kemungkinan CV Semesta Berjaya merupakan mitra Bulog daÂlam penyaluran gula ke daerah. sebab, dalam stabilisasi harga, selain dengan operasi pasar secara langsung, Bulog bekerja sama dengan pedagang lokal.
"Seingat saya CV SB pernah ikut mendistribusikan gula unÂtuk wilayah Sumbar (Sumatera Barat), tapi harus dipastikan lagi," kata Djarot.
Namun dia membantah keterlibatan CV Semesta Berjaya dalam distribusi gula untuk wilayah Sumatera Barat atas rekomendasi Irman. "Bagi pedagang gula yang akan ikut mendistribusikan gula Bulog, tidak memerlukan rekomendasi dari pihak mana pun," ujarnya. ***
BERITA TERKAIT: