Belajar dari Iran

Sintesa Nasionalisme dan Perencanaan Strategis dalam Membangun Ketahanan Nasional

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/chappy-hakim-5'>CHAPPY HAKIM</a>
OLEH: CHAPPY HAKIM
  • Selasa, 17 Maret 2026, 19:20 WIB
Belajar dari Iran
Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia, Chappy Hakim. (Foto: Dok. Pribadi)
DALAM panggung geopolitik global, Iran berdiri sebagai negara yang kompleks dan penuh paradoks. Di satu sisi, negeri Persia ini kerap digambarkan menghadapi tekanan eksternal yang dahsyat, krisis internal yang menggerogoti, serta isolasi internasional yang berkepanjangan. Di sisi lain, ia tetap bertahan dan bahkan dipandang sebagai aktor yang tangguh, mampu proyeksikan pengaruh hingga ke seberang perbatasannya.

Ketangguhan ini tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari pondasi kokoh yang dibangun di atas dua pilar utama yaitu wawasan kebangsaan yang menciptakan kesadaran berbangsa yang kuat dan sistem pertahanan yang solid.

Berikutnya ada perencanaan negara yang matang dan tertuang dalam kerangka strategis seperti defense white paper. Bagaimana Iran membangun dua pilar tersebut, sekaligus menarik pelajaran berharga bagi negara-bangsa lain, termasuk Indonesia, tentang arti penting nasionalisme dan perencanaan dalam menjaga kedaulatan dan martabat bangsa.

Wawasan Kebangsaan dan Sistem Pertahanan

Salah satu kunci ketahanan Iran terletak pada keberhasilan negaranya dalam menanamkan kesadaran berbangsa yang tinggi, yang kemudian diinstitusionalisasikan ke dalam sistem pertahanan nasional.

Iran mewarisi sejarah panjang sebagai sebuah kerajaan besar (Persia) yang pernah berjaya, namun juga memiliki memori kolektif tentang penghinaan dan intervensi asing, mulai dari kekalahan teritorial dari Rusia di abad ke-19, hingga kudeta CIA-Inggris pada tahun 1953 yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh yang nasionalis.

Luka sejarah ini membentuk sebuah trauma kolektif sekaligus tekad baja untuk tidak lagi tunduk pada dominasi asing. Pengalaman delapan tahun perang dahsyat dengan Irak (1980-1988) semakin mengkristalkan tekad ini, membentuk "refleks strategis" berupa ketidakpercayaan pada Barat dan keyakinan bahwa keselamatan bangsa hanya bisa dijamin oleh kekuatan sendiri.

Kesadaran inilah yang menjadi landasan lahirnya sistem pertahanan yang solid, dengan program wajib militer atau national service sebagai tulang punggungnya. Seperti diuraikan dalam kajian akademis, kebijakan wajib militer di Iran memiliki hubungan kolaboratif yang erat dengan proses pembentukan bangsa (nation-making).

Program ini bukan sekadar pelatihan bela diri, melainkan sebuah fase kritis dalam transformasi seorang pemuda (boy) menjadi seorang pria (man) yang matang. Seorang warga negara yang memiliki kesadaran kebangsaan tinggi, nasionalisme fanatik, dan siap berkorban untuk kepentingan nasional (national interest).

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) lahir dari rahim revolusi dan perang, menjadi ujung tombak doktrin moghavemat (perlawanan), sebuah strategi untuk menjaga kedaulatan di tengah rasa kesepian strategis akibat isolasi sektarian dan linguistik di kawasan.

Sistem ini berhasil menciptakan lapisan masyarakat yang militan dan patriotik. Ketika terjadi serangan militer besar-besaran oleh Israel dan Amerika Serikat pada Juni 2025 yang menghancurkan infrastruktur nuklir dan pertahanan udaranya, respons masyarakat Iran justru paradoks.

Tidak muncul niat untuk menjatuhkan rezim, serangan tersebut justru memicu warga untuk bersatu padu membela negara, membedakan antara "negara" dan "rezim" dalam momen menghadapi agresi asing.

Ini adalah bukti ampuhnya investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter kebangsaan, nasionalisme terbukti menjadi perisai terakhir ketika perisai baja telah runtuh.

Perencanaan Matang

Pilar kedua ketangguhan Iran adalah kemampuannya dalam menyusun perencanaan strategis yang matang. Sebagai negara yang sadar akan ancaman, Iran secara konsisten mengembangkan doktrin pertahanan yang dinamis, setara dengan Defense White Paper di negara maju. Doktrin ini tidak hanya bicara soal militer, tetapi terintegrasi erat dengan isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Sepanjang sejarah, strategi pertahanan Iran berporos pada doktrin "kesabaran strategis" (strategic patience) dan penangkalan melalui kemampuan ofensif seperti rudal balistik dan jaringan proksi di kawasan (Hezbollah, Hamas, dll.) yang dikenal sebagai "Poros Perlawanan".

Setelah mengalami kekalahan telak dalam perang 12 hari pada Juni 2025 yang menghancurkan poros perlawanannya, Iran menunjukkan kemampuannya untuk belajar dan beradaptasi. Teheran tidak tinggal diam, mereka memasuki fase "dormansi strategis" sambil diam-diam membangun kembali kemampuan melalui ekonomi bayangan, penyelundupan minyak, dan integrasi proksi ke dalam struktur ekonomi negara tuan rumah.

Bahkan yang lebih mencengangkan adalah pergeseran doktrin yang diumumkan pada Januari 2026. Menghadapi kerentanan yang terbuka, Dewan Pertahanan Keamanan Nasional Iran mengumumkan bahwa mereka tidak lagi membatasi diri pada reaksi pasca-serangan, tetapi akan menganggap "tanda-tanda objektif ancaman" sebagai bagian dari kalkulasi keamanan yang sah untuk melakukan tindakan preemtif.

Ini adalah lompatan doktrin dari penangkalan reaktif menjadi "penangkalan aktif dan tidak terduga". Perubahan ini menunjukkan bahwa perencanaan pertahanan Iran bersifat cair dan responsif terhadap dinamika ancaman, bukan sekadar dokumen mati yang tersimpan rapih di dalam laci.

Lebih jauh lagi, Iran memahami bahwa ketahanan nasional tidak bisa hanya bergantung pada kekuatan militer. Mohammad Javad Zarif, Wakil Presiden untuk Urusan Strategis, memperkenalkan "Dokumen Konsensus Strategis untuk Keamanan Nasional" yang komprehensif.

Dokumen ini secara eksplisit menyerukan perlunya pergeseran dari postur defensif murni menuju strategi yang digerakkan oleh pembangunan (development-driven strategy). Dokumen ini mengidentifikasi krisis lingkungan, kohesi sosial, kesenjangan teknologi dengan kompetitor regional, serta dampak sanksi ekonomi sebagai tantangan utama yang harus diatasi untuk mencapai keamanan jangka panjang.

Ini adalah pengakuan bahwa keamanan sejati lahir dari kesejahteraan warga negara, stabilitas internal, dan kemajuan ekonomi, bukan hanya dari kekuatan rudal.

Pelajaran Berharga dari Iran

Iran menawarkan sebuah model studi yang kaya, meski penuh kontroversi, tentang bagaimana membangun bangsa yang tangguh. Pelajaran pertama adalah pentingnya menanamkan wawasan kebangsaan yang kuat sejak dini, dan salah satu instrumen paling efektif adalah program bela negara atau wajib militer yang dirancang tidak hanya sebagai latihan fisik, tetapi sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter dan loyalitas kebangsaan.

Kedua, ketahanan nasional membutuhkan perencanaan yang matang dan terpadu. Sebuah negara harus memiliki doktrin pertahanan yang jelas dan dinamis (white paper), yang secara berkala dievaluasi dan diperbaiki sesuai dengan perubahan lingkungan strategis.

Perencanaan ini tidak boleh parsial, tetapi harus mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan berbangsa yaitu politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.

Bagi Indonesia, belajar dari Iran berarti memahami bahwa nasionalisme adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya. Di tengah gempuran globalisasi dan ancaman disintegrasi, memperkuat program bela negara dan pendidikan kewarganegaraan adalah sebuah keniscayaan.

Di sisi lain, Indonesia juga perlu terus menyempurnakan dokumen perencanaan strategisnya, seperti Pokok-Pokok Kebijakan Pertahanan Negara, agar tidak hanya menjadi dokumen administratif, melainkan benar-benar menjadi panduan aksi yang adaptif dan komprehensif, yang mampu menjawab tantangan masa depan dengan visi yang menyeluruh.

Kedaulatan dan martabat bangsa dibangun di atas kesadaran kolektif anak bangsa dan kecerdasan negara dalam merencanakan masa depannya. rmol news logo article

Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia
EDITOR: DIKI TRIANTO

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA