Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Agung Setya menjelaskan, pihaknya kembali meringkus seorang tersangka anggota jaringan pembuat dan pengedar vaksin palsu. Tersangka itu diringkus, kemarin siang di wilayah Subang, Jawa Barat.
Pengejaran terhadap para pembuat dan penjual vaksin palsu polio, campak, BCG, dan lainnya itu masih dilakukan. "Semua yang terlibat perkara ini kita tindak sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.
"Kejahatan para pelaku menÂgancam masa depan anak-anak generasi penerus kita. Faktanya, ini berkaitan langsung dengan anak-anak," kata Agung.
Para pelaku sudah melakukan pembuatan dan peredaran vaksin palsu ini sejak 2003. Pembuat vaksin palsu ini meraup keunÂtungan hingga Rp 25 juta per pekan. Sedangkan distributornya Rp 20 juta per minggu.
Tim Bareskrim diturunkan untuk membongkar peredaran vaksin palsu ini di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. "Untuk wilayah lainnya, tim kita berkoordinasi dengan polda-polÂda untuk menindaklanjuti kasus ini. Jangan ada pengecualian. Bila terbukti ada penyelewenÂgan, tindak," tandasnya.
Kasus ini terbongkar setelah polisi menangkap MF, penjual vaksin palsu di Apotek Pasar Kramat Jati Blok LO-1. Ia menÂgaku bisa memperoleh untung Rp 2,5 juta tiap pekan dari penÂjualan vaksin abal-abal.
Dari keterangan tersangka MF, polisi menangkap TH di Jalan Manunggal, Kalisari, Jakarta Timur. Dia berperan sebagai kurir peredaran vaksin. Setiap minggunya, TH mengantongi keuntungan sebesar Rp 6 juta.
"Lalu tim kita bergeser ke wilayah Lampiri, Jatibening, Bekasi. Di sana petugas menangkap tersangka SN," ungkap Agung.
Sama seperti TH, SN bertugas sebagai kurir. Keuntungan yang diperoleh lewat pekerjaannya mencapai Rp 20 juta setiap minggu.
Lewat keterangan sejumlah orang yang ditangkap, polisi bisa mengetahui vaksin palsu ini diperÂoleh dari tempat produksi yang terletak di perumahan Puri Hijau, Bintaro, Tangerang Selatan.
Polisi pun menangkap AGP yang diduga sebagai produsen beragam vaksin palsu. Setelah mengorek keterangan AGP, tim yang dikomandoinya pun menÂdatangi lokasi produksi vaksin palsu lainnya di Jalan Serma Hasibuan, Bekasi Timur. Di situ polisi menangkap SY, produsen vaksin palsu.
Dari muut SY, polisi lantas mendatangi lokasi produksi vakÂsin palsu di perumahan Kemang Regency, Bekasi Timur. Di lokasi itu, polisi menangkap pasangan suami-istri RIT dan HDT. Polisi juga menyita alat-alat pemroses pembuat kemasan vaksin.
Hari berikutnya, polisi kemÂbali melakukan penangkapan terhadap J, pemilik toko obat Aska Medika di wilayah Karang Satria, Bekasi.
Agung bilang, produksi vakÂsin yang dilakukan para terÂsangka itu tak memenuhi stanÂdar kesehatan yang ditetapkan pemerintah. "Vaksin palsu dibuat di rumah. Produksi rumahan," sebut Agung.
Vaksin palsu untuk balita ini dibuat dengan cara mencampurcairan infus dengan vaksin anti-tetanus. "Untuk pengepakan agarterlihat seperti asli, para pelaku menyempurnakan vaksin mengÂgunakan alat pres," urai Agung.
Dari penggeledahan sejumlah rumah produksi, polisi menyita 195 sachet vaksin hepatitis B, 221 botol vaksin pediacel, 364 vaksin campak kering, 81 sachetvaksin polio, 55 vaksin anti-snake, dokuÂmen, alat-alat peracik obat, dan bahan kimia.
Kilas Balik
Vaksin TBC Dibuat Dari Obat Tetes Mata Dicampur AirPelaksana Tugas Kepala BPOM Tengku Bahdar Johan Hamid membeberkan isi kandungan vaksin palsu produk rumaÂhan di Tangerang dan Bekasi.
Yakni Tubercullin untuk vakÂsin penyakit TBC, Pediacel dan Triacel untuk vaksin penyakit tetanus, Bioset untuk penyakit yang disebabkan alergi, dan Hafren untuk hepatitis A.
"Kami menemukan kandungandari salah satu vaksin yang dipalÂsukan. Ada gentamisin yang diÂcampur dengan air untuk vaksin Tubercullin. Untuk vaksin lain masih dalam pemeriksaan," katanya.
Berdasarkan penelusuran, gentamisin adalah zat yang bisa dipakai dalam obat tetes mata. Juga digunakan untuk salep kulit.
Johan mengatakan pihaknya telah menerima informasi bahwa vaksin-vaksin tersebut sudah dijual ke beberapa puskesmas dan klinik swasta.
"Mulai hari ini kami mengerahkan Balai POM seluruh Indonesia. Diduga peredaran masih di Jakarta, tapi kami beÂlum tahu bagaimana persebaranÂnya, mungkin saja sudah luas," ucapnya.
"Kami akan cek, semua klinik kecil yang tidak menggunakan BPJS akan diperiksa mulai hari ini," ujarnya.
Penelusuran dan pengambilan sampel dilakukan BPOM untuk mencari peredaran obat palsu di kalangan masyarakat. "Kami bekerja sama dengan Bareskrim. Untuk menangkap-menangkap saja tidak akan ketemu, dibutuhÂkan intelijen untuk menelusuri," ucapnya.
Menurut Johan, kesulitan daÂlam pemberantasan obat palsu antara lain produksinya diÂlakukan di rumah-rumah yang sulit terdeteksi. Permintaan konÂsumen akan obat ini pun tinggi lantaran konsumen tergiur oleh harga miring yang ditawarkan.
"Obat palsu bisa lebih murah 10-50 persen. Hal yang paling mudah untuk menghindarinya adalah membeli obat di agen resmi," katanya. ***
BERITA TERKAIT: