Para pemuda dalam era pergerakan bangsa Indonesia juga berkomitmen meminggirkan ego kesukuannya untuk bersatu dalam negara Indonesia. Selanjutnya dalam proses kemerdekaan bangsa lahirlah Pancasila.
"Sekarang zamannya lain. Semua serba ego sektoral. Pengamalan Pancasila hampir dipinggirkan. Contohnya dalam dunia politik semua serba instan, serba cepat. Yang menang ambil semua sedangkan yang kalah kehilangan semua dan meninggalkan luka yang panjang. Kita malu dan terharu pada kebesaran mental dan karakter pendiri bangsa kita dulu," ujar kata Zulhas, demikian ia sapa saat menjadi narasumber tunggal Sosialisasi Empat Pilar MPR di Kompleks Gedung Dewan Da'wah Indonesia Jakarta, Sabtu ( 31/10 ).
Padahal, lanjut Zulkifli, Pancasila itu kalau diringkas dengan mengadopsi kata-kata Bung Karno cuma satu yakni cinta kasih atau kasih sayang. Sedangkan sayang, kata kerjanya adalah gotong rotong, kebersamaan, kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.
"Itulah inti dasar filsafat Pancasila yang mesti dipegang teguh seluruh rakyat Indonesia," demikian Zulhas.
[wid]
BERITA TERKAIT: