Denny JA: Sumpah Pemuda Masa Kini

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Kamis, 29 Oktober 2015, 00:04 WIB
Denny JA: Sumpah Pemuda Masa Kini
rmol news logo . Sudah 87 tahun Sumpah Pemuda dideklarasikan. Namun sayang, spirit berbangsa satu bangsa ini justru memudar.

Dalam kondisi seperti ini, ‎pemerintah, individu, dan civil society yang peduli dengan keberagaman dan keharmonian Indonesia harus membangkitkan kembali semangat satu bangsa.

Begitu kata aktivis Indonesia Tanpa Diskriminasi Denny JA dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu, Rabu (28/10).
Ia mencatat ada sebanyak 10.000 ribu nyawa sudah melayang karena konflik primordial antar anak bangsa, sejak reformasi tahun 1998.

"Yaitu mulai dari konflik Kristen dan Islam di Maluku tahun 1999 hingga 2002, suku Dayak dan Madura di Sampit tahun 2001, kerusuhan rasial di Jakarta 1998, sampai konflik etnis Hindu Bali dengan penduduk Lampung Selatan di tahun 2010," ujarnya.

Dalam kasus ini, lanjut Denny, bangsa yang satu dalam bingkai Indonesia justru nampak terkoyak-koyak.

Denny juga mengutip bahwa ada sebanyak 250 Peraturan Daerah (Perda) yang dibuat aneka kepala daerah dari Aceh sampai Papua yang mendiskriminasi warga negara.

Atas segala kegelisahan itu,  Denny JA menyambut hari Sumpah Pemuda ke-87 dengan puisi yang berjudul "Sumpah Pemuda Masa Kini". Berikut petikan puisi tersebut.

Sumpah Pemuda Masa Kini

"Ayo Umar, ucapkan!
Jangan ragu, bacakan!
Teman-temannya heran.
Umar nampak gemetaran

Halaman kampus tiada besar.
Peringatan sumpah pemuda digelar.
Hanya belasan aktivis yang datang.
Umar selama ini paling lantang.

Namun itu deklarasi Sumpah Pemuda.
Umar gagal membacanya.
Yaitu soal "Berbangsa satu,
bangsa Indonesia."

"Mulutku tak mau kuperintah," ujar Umar
"Lidahku tak mau mengucapkannya," ujar Umar
"Pikiranku tak mau membacanya," ujar Umar
"Apalah daya?," tanya Umar

"Seolah mulutku protes
Seolah lidahku protes
Seolah pikiranku protes
Mereka bersatu melawanku dengan protes"

"Seluruh tubuhku menggerutu:
Apa benar kita bangsa yang satu?
Yang nampak justru bangsa terpecah belah
Walau tetap bernama Indonesia."

"Konfik anak bangsa.
Sudah menelan 10 ribu nyawa.
Itu terjadi sejak reformasi sembilan delapan
Justru di era datangnya kebebasan.

"Kristen- Muslim konflik di Maluku
Itu  tahun 99-2002
Dayak- Madura konflik di Sampit.
Itu tahun 2001
Etnis Tionghoa dizalimi di Jakarta.
Itu tahun 98
Ahmadiyah diusir di Mataram.
Itu sejak tahun 2003
Etnis Bali ditindas di Lampung Selatan.
Itu tahun 2010"

"Mereka semua anak bangsa
Mereka tulen Indonesia
Namun mereka saling menerkam
Ingin saling meniadakan"

Itulah dahak di kerongkonganku
Mengapa  sumpah pemuda itu
Gagal kubaca selalu

Soal  mimpi Bangsa Indonesia yang satu
Hanya tertulis di buku
Panca inderaku memberontak-membara
Tak mau ikut bersandiwara

"Tapi Umar," ujar Mona
Kita harus mulai dengan mimpi Indah
Itu untuk gelora
Mengubah realita."

Ujar Umar: "Mimpiku telah dikalahkan realita
Lihatlah di Mataram pengungsi Ahmadiyah
Lihatlah di Sampang pengungsi Syiah
Lihatlah 250 perda dari Aceh hingga Papua
Lihatlah kesewenangan kepala daerah
Mereka mendiskriminasi warga negara"‎

Mona diam merenung
Dilihatnya wajah Umar yang murung
Dulu Umar begitu berkobar
Kini ia layu seperti telur dadar

Mona tak ingin seperti Umar
Hatinya harus terus berkoar
Mimpi tak boleh henti
Sejarah baginya seindah pelangi
Dulu begitu banyak diskriminasi
Tumbuh di semua negeri
Kini bertukar sudah dengan prinsip hak asasi

Spirit Sumpah Pemuda ditumbuhkannya di hati
Ia sangat meyakini
Dengan perjuangan anak negeri
Akan datang sebuah negeri
Indonesia Tanpa Diskriminasi. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA