Kehadiran Zulkifli Hasan di kampus 1 UMS itu dalam rangka memberikan orasi kebangsaan memperingati milad ke-57 UMS. UMS didirikan Oktober 1958 oleh tokoh Muhammadiyah dan Aisyiah di Kota Surakarta dikenal Lima Serangkai. Mereka adalah Sudalmiyah (ibunda Prof. Amien Rais), Radjab Bulan Hadipurnomo, Muhammad Syafaat Habib, Sulastri Gito Atmodjo, dan KH. Syahlan Rosyidi,
Sebelum orasi kebangsaan, didahului pemberian penghargaan kepada para tokoh peletak dasar dan pendiri yang telah berjasa pada UMS, termasuk tokoh Lima Serangkai tersebut. Penghargaan juga diberikan kepada para dosen dan alumni berprestasi. Dan, dilanjutkan pidato Ketua PP Muhammdiyah Dr. Haidar Nasir.
Di depan civitas akademika yang memenuhi Auditorium KH. Muhammad Djasman, Zulkifli yang juga berasal dari keluarga besar Muhammadiyah ini, mengawali orasinya dengan mengucapkan selamat kepada UMS yang hari ini merayakan miladnya yang ke-57. Selamat menduduk peringkat 10 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan termasuk salah pergurun tinggi terbaik tingkat dunia.
Zulkifli dalam kesempatan menguraikan bagaimana Bung Karno memperkenalkan dan menjelaskan ideologi Pancasila di forum-forum internasional (PBB) hingga implementasinya dalam kehidupan berbangsa bernegara saat ini. Setelah 70 tahun para pendiri bangsa menggagas Pancasila, menurut Zulkifli, gagal memelihara dan menerapkan Pancasila dalam lehidupan bermasyarakat.
Zulkifli menunjukkan sejumlah contoh. Dalam pilkada misalnya, seseorang tidak akan bisa terpilih kalau tidak didukung oleh pemilik modal. "Itu membuktikan bahwa demokrasi kita telah terkoopatasi oleh pemilik modal," ujarnya.
Contoh lain, menurut Zulkifli, terjadi hal yang luar biasa, orang berlomba-lomba mengingkari Pancasia. Illegal loging meraja lela, tambang dikeruk semaukan. Dan, masih banyak contoh lainnya yang dikemukan oleh Zulkifli, termasuk pengingkaran terhadap niali-nilai kepatutan. Seperti dikemukan oleh Zulkifli, masih terjadi orang mendirikan mesjid besar di komunitas non muslim, atau mendirikan gereja besar di daerah mayoritas muslim.
Untuk itu, Zulkifli menegaskan, semua itu bisa terselesaikan manakala kita kembali ke Pancasila. "Pancasila sebagai solusinya," tukas dia lewat rilis Humas MPR. [
ysa]
BERITA TERKAIT: