Zulkifli Hasan: Nilai-nilai Kepatutan Kadang Ditinggalkan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Jumat, 16 Oktober 2015, 11:36 WIB
Zulkifli Hasan: Nilai-nilai Kepatutan Kadang Ditinggalkan
zulkifli hasan/net
rmol news logo . Ketua MPR RI Zulkifli Hasan tiba di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jalan Ahmad Yani Pabelan, Surakarta, Jawa Tengah (Jumat, 16/10). Ketua Umum PAN itu disambut oleh Rektor UMS Profesor Bambang Setiaji, dan Ketua PP Muhammdiyah Dr Haidar Nasir.

Kehadiran Zulkifli Hasan di kampus 1 UMS itu dalam rangka memberikan orasi kebangsaan memperingati milad ke-57 UMS. UMS didirikan  Oktober 1958 oleh tokoh Muhammadiyah dan Aisyiah di Kota Surakarta dikenal Lima Serangkai. Mereka  adalah Sudalmiyah (ibunda  Prof. Amien Rais),  Radjab Bulan Hadipurnomo,  Muhammad Syafaat Habib, Sulastri Gito Atmodjo, dan KH.  Syahlan Rosyidi,

Sebelum orasi kebangsaan, didahului pemberian penghargaan kepada para tokoh peletak dasar dan pendiri yang telah berjasa pada UMS, termasuk tokoh Lima Serangkai tersebut. Penghargaan juga diberikan kepada para dosen dan alumni  berprestasi.  Dan, dilanjutkan pidato Ketua PP Muhammdiyah Dr. Haidar Nasir.

Di depan civitas akademika yang memenuhi Auditorium KH. Muhammad Djasman, Zulkifli yang juga berasal dari keluarga besar Muhammadiyah ini, mengawali orasinya dengan mengucapkan selamat kepada UMS yang hari ini merayakan miladnya yang ke-57. Selamat menduduk peringkat 10 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan termasuk salah pergurun tinggi terbaik tingkat dunia.

Zulkifli dalam kesempatan menguraikan bagaimana Bung Karno memperkenalkan dan menjelaskan ideologi Pancasila di forum-forum  internasional (PBB) hingga implementasinya dalam kehidupan berbangsa bernegara saat ini. Setelah 70 tahun para pendiri bangsa menggagas Pancasila, menurut Zulkifli, gagal memelihara dan menerapkan Pancasila dalam lehidupan bermasyarakat.

Zulkifli menunjukkan sejumlah contoh.  Dalam pilkada misalnya, seseorang tidak akan bisa terpilih kalau tidak didukung oleh pemilik modal. "Itu membuktikan bahwa demokrasi kita telah terkoopatasi oleh pemilik modal," ujarnya.

Contoh lain, menurut Zulkifli, terjadi hal yang luar biasa, orang berlomba-lomba mengingkari Pancasia. Illegal loging meraja lela, tambang dikeruk semaukan. Dan, masih banyak contoh lainnya yang dikemukan oleh Zulkifli, termasuk  pengingkaran terhadap niali-nilai kepatutan. Seperti dikemukan oleh Zulkifli, masih terjadi orang mendirikan mesjid besar di komunitas non muslim, atau mendirikan gereja besar di daerah mayoritas muslim.

Untuk itu, Zulkifli menegaskan, semua itu bisa terselesaikan manakala kita kembali ke Pancasila. "Pancasila sebagai solusinya," tukas dia lewat rilis Humas MPR. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA