Sudah Saatnya Ketum PBNU dari Kader Profesional Bukan dari Kiai‬

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Minggu, 02 Agustus 2015, 07:32 WIB
Sudah Saatnya Ketum PBNU dari Kader Profesional Bukan dari Kiai‬
Ali Mahsun M. Biomed/net
rmol news logo . Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-33 harus jadi momentum emas dan strategis bagi NU untuk kembali ke khittah, kembali fokus rengkuh jati diri NU sebagai Paku Bumi Nusantara di tengah makin semrawutnya tata kelola bangsa dan negara Indonesia, di tengah badai global proxy war yang mengancam disintegrasi bangsa.

Demikian dikatakan Sekretaris PP Lembaga Sosial Mabarrot PBNU 2000-2005, Ali Mahsun M. Biomed dalam keterangannya, Minggu (2/8).

Di sisi lainnya, kata Ali Mahsun, sejak kelahiran NU tahun 1926 hingga saat ini, kondisi warga NU masih memprihatinkan. Puluhan juta warga NU masih dibawah garis kemiskinan dan terbelakang. Mereka selalu jadi korban komoditas dan kayu bakar kepentingan sesaat, pribadi dan golongan. Bahkan sangat tajam aromanya ditunggangi kepentingan bangsa asing. Kondisi bangsa dan warga NU terkini tersebut harus menjadi triger utama penyadaran bersama dalam Muktamar NU ke-33, Muktamar NU yang pertama kali ditanah kelahirannya, Jombang Jawa Timur 1-5 Agustus 2015.

‪"Warga NU saat ini berjumlah sekitar 80 juta tersebar di seluruh pelosok republik Indonesia. Potensi mereka sangat besar namun belum terkelola dengan baik sehingga sering hanya jadi kayu bakar dan komoditas kepentingan pribadi dan golongan. Bahkan kuat tercium aroma tertunggangi kepentingan bangsa asing," beber Ali Mahsun.

Oleh karena itu, saatnya sekarang atau sudah masuk rana urgensitas the biggest potency yang dimiliki NU dikelola oleh kader profesional terbaik yang dimiliki NU yang saat ini ada dimana-mana. Mereka hanya butuh disapa dan tinggal ditepuk pundaknya untuk kembali ke rumah NU.

‪Untuk kembalikan NU sebagai Paku Bumi Nusantara, sebagai warga NU, Ali Mahsun sering menyampaikan ke para senior di NU dan kelompok aktivis muda NU bahwa saatnya ketua umum PBNU diamanahkan kepada kader profesional terbaik NU, tentunya dengan ridho dan kelogowoan para kiai NU. Tugasnya fokus sebagai board of director mengelola the biggest potency yang dimiliki NU.

Ali Mahsun selalu haqqul yakin potensi NU yang sangat besar di bidang ekonomi, budaya dan peradaban bahkan ideologi, politik, pertahanan dan keamanan mampu menjadi pilar utama eksistensi dan keutuhan Negara RI berdasarkan Pancasila san UUD 1945. NU harus tampilkan diri jadi perekat dan pendongkrak kokohnya kesatuan dan persatuan bangsa, nasionalisme dan patriotisme bangsa yang sangat dibutuhkan dan dirindukan Ibu Pertiwi yang lagi dikoyak ancaman disintegrasi di era cyber war kini dan ke depan.

"NU harus kembali ke jati diri sebagai Paku Bumi Nusantara atau cagak utama bangsa dan negara Indonesia. Sedangkan semua hal terkait soal fatwa dan lainnya diotoritaskan ke Rais Am PBNU," tegas Dewan Pembina PP IPNU 2009-2012 dan 2012-2015 yang juga Ketua Umum DPP APKLI‬.

‪NU tambah Ali Mahsun, seharusnya jadi penabur kemanfaatan bagi puluhan juta Warga NU dan 250 juta rakyat Indonesia. NU semestinya jadi cagak utama eksistensi dan keutuhan negara RI dalam menggapai cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Bukan sebaliknya seperti kondisi saat ini, NU tertaburi kepentingan sesaat, pribadi, golongan bahkan kepentingan bangsa asing.

"Saatnya ketua umum PBNU diamanahkan kepada kader profesional terbaik NU, bukan dari kiai sehingga NU mampu dan mau kembali ke khittah. Kembali menjadi Paku Bumi Nusantara, bukan sebaliknya jadi kayu bakarnya Indonesia," tukasnya. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA