Suatu ketika Luqmanul Hakim masuk ke daÂlam pasar menaiki seekor himar (keledai), seÂdangkan anaknya mengikuti dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman, ada sekumpulan orang yang berkata: "Lihatlah orang tua yang tidak punya perasaan, ia keenakan semenÂtara anaknya berjalan kaki". Setelah mendenÂgarkan kata-kata itu, maka Luqman turun dari atas keledai lalu anaknya disuruh naik ke atas keledai, sedangkan ia sendiri berjalan kaki. MeÂlihat kenyataan itu, maka orang-orang pasar kembali mencemooh: "Lihat orang tua itu, ia berjalan kaki sedangkan anaknya keenakan di punggung keledai, sungguh anak itu tidak tahu malu". Mendengar itu maka Luqmanul HaÂkim juga naik ke atas keledai bersama-sama anaknya. Orang-orang pasar kembali mencÂemooh: "Lihat itu ada dua orang menaiki seekor keledai, sungguh menyiksa keledai itu". Karena tidak suka mendengar cemoohan itu maka LuqÂmanul Hakim dan anaknya turun dari keledai. Orang-orang pasar kembali mencibir: "Lihat itu, dua orang berjalan kaki, sedangkan keledai tidak dikendarai".
Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari Luqmanul hakim ialah, hampir mustaÂhil memenuhi seluruh harapan dan kehendak masyarakat, apalagi kalau masyarakat itu maÂjemuk dan heterogen. Jika kita ingin memperÂbaiki situasi maka masyarakat harus istiqamah di atas tataran nilai luhur yang banyak disepakÂati orang. Berpegang teguh pada aturan yang standar maka akan mengurangi resiko kehiduÂpan. Sama juga dengan menghadapi raja yang dhalim, masyarakat atau rakyat harus mampu beradaptasi dengan rajanya dengan baik. SeÂbab dalam kaedah (sunni), lebih utama dipimpin pemimpin yang buruh 100 tahun dari pada koÂsong kepemimpinan sehari, yang akan berakiÂbat lebih fatal dan berlaku hukum rimba, yang besar memangsa yang kecil.
Menarik untuk diperhatikan apa yang dinaseÂhatkan Luqmanul Hakim terhadap anaknya bahwa, sesungguhnya dalam setiap keadaan tidak akan pernah bebas dari komentar orang. "Maka orang yang berakal sehat dan beriman tidak akan memilih pertimbangan selain pertimÂbangan dan petunjuk dari Yang Maha ObyekÂtif, yaitu petunjuk dari Allah Swt". Kebenaran itu universal dan ada di mana-mana. Kemudian Luqmanul Hakim berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, tuntutlah rizqi yang halal suÂpaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya orang fakir itu akan menjumpai tiga perkara: Pertama, tipisnya keimanan dalam beragama, kedua, lemahnya akal (mudah tertipu dan diperÂdaya ) dan hilang kemuliaan hatinya". ***