“Idealnya, parpol Islam bersatu untuk mengusung pasangan capres-cawapres pada pilpres. Tapi itu sulit diwujudkana karena terlalu banyak kepentingan,†ujar tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Muzadi kepada
Rakyat Merdeka, Jumat (2/5).
Menurut bekas Ketua Umum Pengurus Besar NU itu, kalau parpol Islam tidak bisa disatukan, diharapkan para elite parpol Islam yang terpilih menjadi wakil rakyat dan jabatan pemerintahan nanti hendaknya menjaga amanah dan bekerja untuk rakyat.
“Diharapkan elite parpol yang mengemban amanah rakyat hendaknya menjaga perilakunya,’’ paparnya.
Berikut kutipan selengkapnya:Kapan Anda komunikasi terakhir dengan tokoh-tokoh parpol Islam itu?Saya sering ketemu, sudah capek, sudah kesal. Sekarang, posisi kami hanya mengimbau. Saya mengingatkan, agama Islam membela nasionalisme. Jangan menjual aset negara, jangan membuat undang-undang yang membuat orang asing menjadi raja di negeri kita.
Kenapa Anda merasa koalisi itu sulit direalisasikan?Saya melihat ada beberapa faktor utama. Pertama, sejumlah elit parpol Islam nyali politiknya kurang. Kedua, mereka terkendalam masalah pendanaan.
Kemudian, persoalan pragmatisme. Sebab, dalam politik kita tak hanya bicara soal pendapat. Tapi bicara juga soal pendapatan. Ini poin-poin krusial yang saya amati.
Elite parpol Islam beralasan, koalisi sulit diwujudkan karena tidak ada figur yang dapat menandingi capres yang sudah ada?Tidak ada figur kalau calon yang diusung diambil dari partai masing-masing. Tapi diambil dari luar partai kan bisa. Banyak tokoh Islam yang pantas jadi presiden. Kita tidak kekurangan figur.
Menurut Anda siapa yang pantas diusung jika koalisi itu bisa diwujudkan?Banyak. Ada Mahfud MD, Jusuf Kalla, Jimly Ashhidiqie, Yusril Ihza Mahendra.
Mereka semua pantas diusung sebagai capres. Seperti yang saya katakan, capres dan cawapresnya tidak harus diambil dari partai pengusung. Yang penting, mereka punya nyali untuk mengusung. Saya ingin mempersatukan, sudah melangkah. Tapi, kalau yang dipikir cuma soal pendapatan, ya susah.
Bukankah mengusung pasangan capres dan cawapres itu memang butuh biaya?Kalau ada keberanian politik, masalah dana bisa diperkecil. Dengan dukungan umat, itu tidak perlu dipersoalkan.
Bagaimana jika koalisi itu dituding tidak nasionalis?Sekarang bukan zamannya mendekotomikan simbol parpol Islam dan parpol nasionalis. Tokoh parpol Islam juga berpikiran nasionalis. Begitu pula sebaliknya. Kalau ada koalisi parpol Islam, kemudian dianggap nggak nasionalis, nggak benar itu.
Nantinya dalam koalisi menteri juga pasti ada pembagian. Selama ini, hal itu sudah dilakukan. Kita nggak boleh berpikir mundur.
Bagaimana langkah ormas Islam?Secara institusi NU, Muhammadiyah maupun ormas Islam lain tidak bisa mengambil keputusan politik. Tapi, warga NU dan Muhammadyah bisa dikerahkan sebagai pemilih.Kalau partai Islam mau koalisi, koordinasi di bawah lebih mudah. Makanya, saya menyatakan tidak perlu khawatir soal pendanaan. Sayangnya, mereka sulit disatukan. ***
BERITA TERKAIT: