Mengutip data Bloomberg, pada Rabu, 6 Mei 2026, rupiah tercatat di Rp17.388 per dolar AS atau menguat 0,22 persen dibanding posisi sebelumnya, di tengah pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Perry menilai pelemahan rupiah tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. Ia bahkan menyebut rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued.
“Tadi disampaikan oleh Pak Menko, berkaitan fundamental kita itu kuat. Pertumbuhan sangat tinggi, 5,61 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat," kata Perry usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.
Dengan kondisi tersebut, Perry optimis nilai tukar rupiah akan kembali stabil bahkan berpotensi menguat ke depan.
"Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," sambungnya.
Sejalan dengan sentimen tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka menguat 29,23 poin atau 0,41 persen ke level 7.086.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan mencapai 1,34 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp835 miliar. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 101.664 kali.
Sebanyak 294 saham menguat, sementara 127 saham melemah, dan 236 saham lainnya stagnan.
BERITA TERKAIT: