Misal, partai atau capres X menawarkan si fulan sebagai kandidat menteri perekonomian, maka belum tentu parpol atau capres Y akan mengusung nama calon menteri perekonomian yang sama dengan yang ditawarkan oleh partai atau capres X.
"Disitulah rakyat bisa melihat perbedaan yang ditawarkan oleh peserta Pemilu," kata Direktur Eksekutif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma), Said Salahuddin, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 4/3).
]
Lebih dari itu, lanjut Said, masyarakat bisa mendapatkan gambaran tentang prospek keberhasilan pemerintahan mendatang dari nama-nama yang disebut dalam kabinet bayangan itu. Apabila terdapat nama kandidat yang dinilai tidak tepat mengisi suatu kementerian,
track record-nya dianggap buruk, atau bahkan ada kekhawatiran jika kandidat tersebut menjadi menteri kebijakannya akan mengancam atau merugikan masyarakat, maka rakyat tentu tidak akan memilih parpol atau capres tersebut, dan begitu juga sebaliknya.
"Jadi kabinet bayangan itu bisa menjadi salah satu alasan rasional bagi pemilih untuk memberikan suaranya kepada peserta Pemilu," demikian Said.
[ysa]
BERITA TERKAIT: