"Pemimpin yang berpoligami dan mendeklarasikan bahwa dirinya berpoligami sangat tidak baik. Ia tidak patut menjadi teladan. Yang pasti dia tukang bohong sebab kepribadiannya berubah-ubah," kata Aktivis perempuan, Gefarina Djohan, beberapa saat lalu (Rabu, 22/1).
Sejumlah politisi Indonesia diketahui melakukan poligami. Salah satunya adalah Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta yang memiliki dua istri. Hal itu diketahui saat Anis mengenalkan istri keduanya itu ke publik bulan Desember 2013. Istri kedua Anis, seorang perempuan muda yang berasal dari Hongaria, sebuah negara di daratan Eropa.
Gefarina mengatakan, Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa harkat dan martabat perempuan itu luar biasa. Namun, menurutnya, langkah pemimpin atau politisi di Indonesia saat ini melakukan poligami justru merendahkan harkat dan martabat perempuan.
Oleh karena itu, kata Gefarina, masyarakat harus sadar bahwa langkah politisi atau pemimpin partai saat ini melakukan poligami justru tidak berupaya menjaga harkat dan martabat perempuan. "Tanyakan ke mereka, yang mereka kawinkan itu apakah janda-janda tua? Anak 16 kok tahun sudah dikawinin," sindir Gefarina.
Menurut Gefarina, doktrin yang dibangun saat ini adalah poligami adalah wajib hukumnya. Sehingga, lanjutnya, masyarakat umum saat ini berpandangan bahwa poligami itu syariat. Jadi, kata Gefarina, bila masyarakat menentang poligami maka menentang syariat.
"Itu salah. Islam membolehkan, tapi bukan suatu hal yang wajib. Kalau pun diperbolehkan, tapi dalam kondisi apa? Jadi kita harus memberikan kesadaran baru kepada masyarakat bahwa poligami tidak bersifat syariat. Politisi yang berpoligami kemudian dipamerkan sedemikian rupa ke publik itu sama saja merendahkan perempuan," demikian Gefarina.
[ysa]
BERITA TERKAIT: