"Jika kita kunci asumsi bahwa Jokowi adalah capres yang sudah tak terkalahkan, maka diskusinya tinggal siapa yang paling pantas mendampingi Jokowi," ujar Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies Saiful Haq kepada
Rakyat Merdeka Online (Senin, 8/7).
Untuk menentukan siapa figur yang akan mendampingi Jokowi, panggilan akrab politikus PDI Perjuangan itu, bagi Saiful Haq, harus ditentukan terlebih dahulu formula seperti apa yang diinginkan. Menurutnya, jika disimulasikan, yang paling ideal ada dua komposisi capres-cawapres. Yaitu, pasangan muda-muda dan pasangan muda-tua.
"Pertama, kita lihat koalisi partainya lebih dulu. Peluangnya adalah koalisi PDIP-Demokrat (muda-muda). Atau PDIP-Golkar (muda-tua)," ungkapnya.
Saiful mengungkapkan PDIP-Demokrat kalau berkoalisi akan mengusung tokoh muda, karena menurutnya, partai penguasa itu akan mendorong Gita Wirjawan karena diyakini akan memenangi konkonvensi. Sementara kalau Jokowi ingin disandingkan dengan tokoh tua, Golkar cukup banyak memiliki stock. Salah satunya adalah Ginandjar Kartasasmita.
"Artinya nama Ginandjar masuk dalam skenario PDIP berkoalisi dengan Golkar. Karena tanpa Golkar sangat beresiko PDIP memajukan capres dan cawapres sendiri. Ginandjar punya peluang besar membawa koalisi PDIP-Golkar dengan catatan, Ginandjar bisa merebut pimpinan Golkar pada Rapimnas 2015," tandasnya.
Hal itu disampaikan Saiful terkait wacana sebaiknya PDIP berkoalisi dengan Partai Golkar, kalau partai banteng itu tidak berhasil menjalin komunikasi dengan Demokrat dan Gerindra. Tapi bukan Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal saat ini, melainkan Golkar pasca Munas 2015.
Karena itu, seperti disampaikan Board of Advisor CSIS Jeffrie Geovanie, PDIP, yang diyakini mendukung Joko Widodo, menggaet tokoh Golkar sebagai calon wakil presiden. Supaya ada alasan mengambil alih Golkar pada Munas 2015 dan setelah itu memperkuat pemerintahan.
[zul]
BERITA TERKAIT: