Dari ‘Tembok Berlin’ Warga Nikmati Sunset

Berkunjung Ke Sorong, Papua Barat

Minggu, 05 Mei 2013, 08:59 WIB
Dari ‘Tembok Berlin’ Warga Nikmati Sunset
ilustrasi/ist
rmol news logo Udara dingin masih menyelimuti punggung perbukitan di kawasan bandara Domine Edward Osok, Sorong, Papua Barat, pekan lalu. Perbukitan di sekitar bandara terlihat masih asri. Dari kejauhan terlihat awan-awan putih bagai salju bertengger di puncak-puncak bukit.

Menempuh perjalanan sekitar lima jam dengan menaiki pesa­wat dari Jakarta, kami tiba di pro­vinsi ke-31 itu pada pukul 7 Wak­tu Indonesia Timur (WIT).

Pagi itu, bandara ini masih sepi. Hanya ada dua pesawat ber­ukuran se­dang yang parkir. Rum­put-rum­put panjang tumbuh de­ngan su­bur di pinggir landasan (run way) pesawat.

Landasan bandara ini pendek, sehingga hanya bisa didarati pesawat-pesawat berbadan kecil dan sedang. “Pesawat Garuda In­d­onesia sudah tidak bisa me­la­yani penerbangan ke sini. Sebab, landasannya masih kurang pas. Rencananya pada 2014, akan diupayakan agar bisa melayani lagi ke sini,” ujar petugas bandara warga setempat.

Bandara ini memang sedang di­perbesar. Namun proses pem­ba­ngunannya terlihat berjalan lam­bat. Jika ditargetkan tahun depan sudah mulai bisa didarati pesawat berbadan besar, banyak pendu­kung bandara yang belum selesai.

Bandara di Sorong ini meng­gunakan nama seorang pendeta asli Papua Barat sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang sudah memperkenalkan Kri­sten di wilayah ini. Fotonya di­pajang di ruang VIP bandara ini. Foto Domine yang tengah memegang Injil itu di dinding tengah ruangan.

Di ruangan untuk tempat tunggu tamu-tamu penting yang hendak terbang maupun istirahat sejenak setelah mendarat ini dise­kat dengan kaca hitam. Fas­i­litas­nya masih sederhana. Di dalam­nya hanya ada tiga set sofa khu­sus dan televisi 29 inci. Layarnya menampilkan siaran TV lokal.

Pagar setinggi satu meter men­jadi pemisah antara penumpang de­ngan petugas maupun pen­jem­put. Keluar dari bandara terlihat warung-warung kecil yang men­jajakan makanan dan minuman. Posisinya belum tertata baik.

Di tempat parkir depan ban­dara, mobil berpelat hitam ber­jejer. Ham­pir semuanya jenis MPV. “Mo­bil itu dipakai buat taksi,” ujar seorang petugas bandara.

Kami lalu menuju sebuah hotel yang berjarak sekitar satu kilo­meter dari bandara. Sepanjang Jalan Basuki Rahmat ini yang di­lalui terlihat rumah-rumah pen­duduk. Berbagai usaha dibuka di pinggir jalan ini, mulai beng­kel, warung, jasa perjalanan, hingga hotel.

Di jalan ini juga berdiri bebe­rapa gedung pemerintahan dan sekolah.  “Sepanjang jalan ini pa­ling ramai, dan menjadi pusat kota Sorong,” ujar Hendrik, sopir asal Ambon yang mengantar kami ke penginapan.

Sore menjelang malam, kami mampir di restoran masakan laut bernama Sunshine Beach Res­tau­rant. Masih di Jalan Basuki Rah­mat. Letaknya dua kilometer dari penginapan.

Restoran ini persis di pinggir pantai dengan bangunan bermo­del panggung. Di dalamnya ada fasilitas ruang pertemuan dan karaoke. Pengunjung yang bersantap di sini dihibur alunan lagu yang dibawakan penyanyi diiringi organ tunggal. Restoran ini salah satu yang termewah dan terkenal di Sorong.

Di sepanjang bibir pantai ber­je­jer warung-warung makan ten­da. Hampir semuanya men­ja­ja­kan masakan laut. Orang-orang betah duduk berlama-lama sam­bil memandang ke samudera dari tembok pembatas. Warga me­nye­but pembatas di bibir pantai se­bagai Tembok Berlin.

Tembok dibangun bersamaan dengan runtuhnya Tembok Berlin pada 1989. “Sehingga orang-orang menyebutnya dengan sebu­tan Tembok Berlin,” tutur se­orang pengunjung.

Pasca Perang Dunia II, Tembok Berlin menjadi pemisah Jerman Ba­rat dan Jermat Timur, dua ne­ga­ra yang berbeda ideologi.

Tembok Berlin di Sorong juga pemisah antara daratan dengan lautan. Fungsinya mencegah air pasang maupun ombak besar me­nerjang daratan.

Dari bentuk dan bangunannya tak ada yang istimewa. Namun dari sini, warga bisa melihat ma­ta­hari tenggelam. Sebab, pantai ini pas menghadap ke barat se­hingga orang bisa menyaksikan panorama sunset yang indah. Makanya, sejak sore terutama di akhir pekan,  kawasan ini ramai dikunjungi orang.

Cuaca cerah pada sore itu, mem­buat warga bisa menyak­si­kan matahari tenggelam dengan sempurna di ufuk barat. Suasana makin ramai pada malam hari. Banyak orang yang meng­ha­bis­kan malam di pinggir laut sambil berwisata kuliner.

Kami memilih bersantap ma­lam di dalam restoran. Menunya ikan bakar dan hasil tangkapan laut lainnya. Usai perut terisi, per­singgahan terakhir hari itu adalah penginapan untuk istirahat.

Mutiara Tersembunyi Di Gugusan Raja Ampat

Pagi pukul 7, kami menuju Pe­labuhan Sorong. Letaknya tak jauh dari bandara. Suasana pe­la­buhan ini semrawut. Kapal-kapal bersandar tak rapi.

Jalan dari kayu menjadi peng­hubung menuju ke dua speed boat milik Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang sandar di der­maga. Kami memang hendak ber­kunjung ke wilayah yang terkenal dengan keelokan perairannya itu.

Kapal bergerak meninggalkan pe­labuhan Sorong. Lambung Berkunjung Ke Sorong, Papua Barat

bergerak lincah mem­belah air. Gesekan dengan air laut menimbulkan buih-buih putih memanjang ke belakang.

Di buritan, suara mesin kapal ter­dengar menderu. Tiga mesin ber­jejer berkekuatan 15 PK be­kerja mendorong kapal ke tengah samudera. Sesekali nahkoda menghentikan laju kapal lalu me­minta awak kapal mengecek me­sin, membersihkan lumut mau­pun sampah yang menyang­kut di baling-baling.

Hari itu cuaca cerah. Angin pun bertiip tenang. Sepanjang perj­a­la­nan, pulau-pulau kecil dan tak berpenghuni dilewati. Sekitar satu setengah jam perjalanan, kami tiba pulau yang diberi Yellu.

Pulau ini dibentengi beberapa pulau kecil. Dari jauh tak terlihat kehidupan. Namun begitu memu­tar melewati gugusan pulau tam­pak rumah-rumah panggung ber­diri di atas laut. Memanjang dari kaki bukit hingga ke lepas pantai.

Di gugusan pulau inilah mutia­ra-mutiara kelas dunia di­bu­di­da­ya­kan. Ribuan kolam terapung ditebar di perairan berarus tenang ini. Terlindungi gugusan pulau yang berfungsi sebagai penahan ombak, Pulau Yellu cocok untuk budidaya mutiara.

Mutiara yang dibudidayakan ada­lah  jenis South Sea Pearl (SSP). Mutiara jenis ini dikenal su­lit diproduksi. Selain warna ke­milaunya yang khas, cara pe­ngem­bangbiakannya juga rumit.

Sutrisno Sukendy, pengelola penangkaran mutiara mengata­kan inti mutiara atau nucleon je­nis ini masih sulit didapat. Nuc­leon berwarna putih dan berupa te­lur kecil bulat itu di­bu­di­da­ya­kan di Mississipi, Amerika Se­ri­kat lalu diekspor ke Cina.

Sukrisno yang akrab disapa Tino mendapatkan nucleon dari Cina. “Di Indonesia sulit me­ngem­bangbiakkan inti atau nuc­leon­nya. Sebab, tenaga ahlinya kita belum punya, dan juga car­a­nya masih sangat terbatas,” ujarnya.

Bukan hanya bibit yang sulit diperoleh, budidaya di kolam-ko­lam terapung ini pun berlangsung lama. Awalnya, nucleon dima­suk­kan ke dalam cangkang ke­rang hidup. Lalu kerang dit­em­pat­kan ke dalam jaring. Dibiar­kan selama empat hingga lima tahun di laut.

Kondisi perairan sangat me­nen­tu­kan kualitas mutiara yang akan dihasilkan. “Lingkungan pe­ngem­bangannya harus bersih, air­nya jernih dan tenang. Kalau ke­ruh dan berisik akan me­nim­bulkan kerusakan pada pe­ngem­bangbia­kan kerang mutiara,” ujar Tino.

Dari seratus kerang yang dise­mai hanya 60 persen yang bisa menghasilkan mutiara. Kerang yang sehat bisa dua kali meng­ha­silkan mutiara setelah dima­suk­kan nucleon ke dalam cang­kangnya. “Dua tahun setelah pa­nen pertama akan bisa dipanen lagi,” jelasnya.

Kerang-kerang yang sudah ti­dak produktif menghasilkan mu­tiara masih bermanfaat. Da­ging­nya bisa dimakan. Sedangkan cang­kangnya bisa dibuat aksesoris.

Seorang pria berkulit putih duduk menghadap meja kayu. Di atas meja tergeletak sejumlah pe­ralatan seperti yang dipakai dok­ter gigi. Ada pisau operasi kecil, penjepit dan pengungkit.

Pria yang hanya mengenal satu dua patah bahasa Indonesia itu bukanlah adalah ahli mutiara dari Cina. Dengan hati-hati dia mem­belah cangkang kerang lalu me­ngeluarkan butiran berwarna pu­tih dari dalamnnya. “Barok,” kata­nya. Barok adalah istilah bu­tiran mutiara yang tidak terbentuk sempurna atau cacat.

Demonstrasi mengeluarkan mu­tiara dari cangkang itu disak­sikan Menteri Kelautan dan Per­ikanan Sharif Cicip Sutardjo. “Ka­rena kualitasnya tidak bagus, maka harganya pun rendah,” ujar Tino.

Walaupun tak sempurna, mu­tiara barok masih bisa dijual. Se­orang staf Kementerian Kelautan dan Perikanan yang beberapa kali mengikuti pameran mutiara inter­nasional membisiki, untuk mu­tiara barok harganya bisa jutaan per butir. 

“Kalau yang bagus dan sem­purna bisa sampai ratusan juta ru­piah sebutir,” jelas pria yang enggan disebut namanya.

Tino mengatakan pihaknya me­rekrut ahli dari Cina karena ne­­gara itu adalah produsen ter­besar mutiara di dunia. Dalam setahun, Cina memproduksi 500 ton per tahun. Produksi Indonesia tak sampai seperseratusnya. “Kita baru bisa 5 ton per tahun,” ujarnya. 

Penangkaran yang dikelolanya hanya bisa memanen 100 kilo­gram mutiara per bulan. Dalam se­tahun sekitar 1 ton.

Mesin Ngadat, Kapal Terombang-ambing
Bahan Bakar Bercampur Air Laut

Dari Pulau Yellu, kami me­nga­rah Misool Resort, tempat pengi­napan yang cukup terkenal di Raja Ampat. Dengan kapal mo­tor, melewati jejeran pulau-pulau yang indah. Lama perjalanan se­kitar setengah jam.

Kapal bersandar di dermaga kecil di tempat penginapan ini. Pengunjung hanya diper­bo­lehkan mengambil gambar dari dermaga saja.

Beberapa cottage terlihat di­ba­ngun di tebing-tebing pulau. Juga ada beberapa penginapan eks­­klusif hingga ke atas bukit. “Ti­dak ada alat-alat elektronik yang diperguna­kan di dalam sini,” ujar penjaga.

Pulau ini dijaga ketat tidak sembarangan orang bisa masuk. “Bermalam satu malam di sini mengeluarkan kocek Rp 4 juta,” ujar penjaga itu.

Dari sini, kami kembali ke Pulau Yellu untuk bahan bakar ka­pal. Sebab sulit memperoleh bahan bakar jika kehabisan di perjalanan. Gugusan pulau se­pan­jang pelayaran ke Sorong ba­nyak tak berpenghuni.

“Ada juga yang jual minyak di kampung-kampung pulau-pulau terdekat, tetapi tak selalu ada mi­nyaknya,” ujar awak kapal yang membawa kami.

Di Pulau Yellu, stok bahan ba­kar cukup banyak. Sebab di pulau ini ada penangkaran mutiara. Usai tanki terisi penuh, kapal me­ninggalkan pulau itu.

Perjalanan kembali ke Sorong yang semestinya bisa dicapai da­lam satu sampai dua jam, ter­nyata lebih lama. Bahan bakar yang diisi di Pulau Yellu be­r­cam­pur air. Me­sin pun ngadat. Kapal terom­bang-ambing di tengah lautan. Tak terl­i­hat pulau-pulau di sekitar kapal.

Alat GPS (global positioning system) di kapal juga tak ber­fung­si. Nahkoda yang orang lokal rupanya tidak mahir mem­per­gu­nakan teknologi untuk penunjuk lokasi itu.

Awak kapal lalu mengambil bahan bakar cadangan yang ada di depan kapal. Enam jergien be­sar bensin cadangan kapal diper­gunakan untuk mengoperasikan mesin kapal.

Pengisian dilakukan secara manual dengan cara memas­uk­kan selang ke dalam jerigen dan menyalurkan langsung ke mesin. Dua awak bergantian memegang jerigen dan selang. Setelah jeri­gen kosong diganti dengan yang masih berisi.

Dengan bergantian, awak ke depan kapal untuk memandu arah. Hari semakin gelap, kapal masih kehilangan arah di tengah laut. Se­buah senter besar diso­rotkan ke de­pan agar tak mena­b­rak karang.

Bersyukur ada dua nelayan yang sedang mencari ikan di de­kat sebuah mercusuar. Dengan berteriak, awak kapal memang­gilnya dan bertanya arah ke So­rong.
Nelayan di kapal kayu itu me­nunjukkan arah dengan me­nyerongkan tangannya. Ternyata kapal sudah melenceng jauh dari jalur pelayaran.

Setelah mengetahui posisi, nakhoda ngebut mengemudikan kapal ke arah yang ditunjukkan nelayan tadi. Hari sudah gelap, se­sekali gerimis yang dibawa angin laut menerpa kapal.

“Untunglah ombak tidak ada besar, dan angin tak kencang. Biasanya sore menjelang malam, ada ombak besar di laut,” ujar se­orang awak bergumam.
Langit ditutupi awan hitam tebal. Satu per satu pulau-pulau berupa gundukan hitam terlewati. Kami tiba di pelabuhan Sorong menje­lang larut malam. Per­jalanan ini di­tempuh selama lima jam.

Menteri Cicip Dorong Budidaya Yang Dukung Konservasi Laut

Menteri Kelautan dan Pe­rikanan Sharif Cicip Sutardjo mendukung budidaya mutiara. Sebab, penangkarannya sangat erat dengan konservasi ka­wa­san laut. Mutiara hanya bisa di­hasilkan jika kawasan lautnya bebas dari polusi.

“Ini bagus untuk menjaga konservasi laut kita juga. Perlu dikelola dengan baik,” kata Cicip. Selain itu, budidaya ini juga mempekerjakan banyak warga lokal. Hasilnya juga di­ekspor sehingga bisa menam­bah devisa.

Menurut Cicip, Kementerian Kelautan dan Perikanan me­na­ruh perhatian besar terhadap konservasi kawasan laut. Se­jauh ini pihaknya sudah me­ngu­payakan konservasi laut se­luas 15,7 juta hektar.

“Kita mendapat tugas dari PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) bahwa Indonesia harus melakukan konservasi di 20 juta hektar laut. IWilayah konservasi yang ada harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya.

Di Indonesia, pembagian wi­la­yah laut terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona perikanan dan kelautan.

“Zona pemanfaatan terbesar di dunia ada di Indonesia juga. Pada 2020 kita harus bisa men­jadi negara yang memiliki wila­yah konservasi terbaik di du­nia,” ujar Cicip menargetkan.

Negara-negara lain di di ka­wasan Pasifik yakni Filipina, So­lomon Island, Brunei Darus­salam, Malaysia dan Selandia Baru termasuk Australia juga telah sepakat menjaga kon­ser­vasi laut.

Bangun Pos Di Pulau, Anggota TNI Minum Air Laut Hasil Olahan

Perairan Raja Ampat ter­kenal panorama alamnya yang indah. Kawasan ini kaya sum­ber daya laut. Untuk men­jaga kawasan ini kerusakan maupun pencurian ikan, kepolisian mau­pun TNI menempati mem­bangun sejumlah pos.

Salah satu pos dibangun di Pulau Yellu. Pos ini diberi nama Pos Pengamanan (Pospam) 35. Sebuah bendera merah putih dikibarkan di tiang besi di depan pos.

Sebanyak 17 personil TNI ditempatkan di sini. “Pos di sini saja untuk penjagaan. Nanti sekali sebulan ke Sorong,” ujar anggota TNI bernama Yono.

Di dalam pos berbentuk be­deng dari kayu itu dipampang peta besar kawasan Papua Ba­rat. Di dalamnya juga meja kayu serta papan berisi ke­giatan pos.

Sebuah televisi berwarna sedang menyala di pojok pos. Tidak ada dinding bagian depan pos ini. Hanya ada dua bilik yang dijadikan kamar untuk ber­istirahat di dalam pos. Be­berapa peralatan masak juga ditempatkan di dalam pos.

Pos TNI dan Pos Polisi bera­da di satu bedeng.  Hanya di­pi­sahkan dengan sekat dari kayu. Tak terlihat ada anggota polisi yang berjaga.

“Saya sudah hampir genap dua tahun bertugas di Papua,” ujar Yono yang berasal dari Jawa Tengah itu. Istri dan anak­nya ikut ke tempatnya berdinas. Keluarganya tinggal di kom­pleks Komando Rayon Militer (Koramil) di Sorong.

Selain melakukan penjagaan, anggota TNI di sini mengisi waktu dengan hari-harinya ber­sosialisasi dengan para pekerja di penangkaran mutiara maupun warga setempat.

“Sesekali kami main futsal di lapangan voli di bawah bukit. Kalau tidak olahraga nanti gam­pang sakit,” ujar Yono sembari menujuk bagian belakang ke arah kaki bukit.

Persis di belakang pos, se­buah ruangan ukuran enam kali enam meter sedang dijaga se­orang pria setengah baya.

Ruangan ini berisi mesin pen­dingin dan juga mesin pe­nya­ring air. Sunardi bertugas se­ba­gai operator penyaringan air laut. Air laut diolah menjadi air tawar agar bisa diminum.

Dalam waktu setengah jam, mesin penyaring bisa meng­ha­silkan air tawar sebanyak se­ra­tus liter. “Itu setara dengan satu drum air plastik,” ujarnya.

Mesin beroperasi siang dan ma­lam. Dua kotak besar terse­dia di ruang penyaring air. Satu kotak berisi air bersih yang di­be­kukan jadi es.

“Itu namanya es keripik, nanti bisa buat air mi­num, buat ma­sak, mandi dan juga buat men­dinginkan ikan,” ujarnya sem­bari menunjuk pada kotak besar besi bercat biru.

Sedangkan satu kotak besar lainnya terbuat dari kayu. Isinya air laut yang nantinya diper­gu­na­kan untuk membentuk es ba­lok. “Untuk kebutuhan penga­wetan ikan. Yang itu air laut, bukan air bersih,” ujar Sunardi.

Anggota TNI yang ditem­pat­kan di pulau ini juga meman­faatkan air bersih yang diha­silkan dari tempat penyaringan air laut untuk kebutuhan di pos penjagaan. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA