Menempuh perjalanan sekitar lima jam dengan menaiki pesaÂwat dari Jakarta, kami tiba di proÂvinsi ke-31 itu pada pukul 7 WakÂtu Indonesia Timur (WIT).
Pagi itu, bandara ini masih sepi. Hanya ada dua pesawat berÂukuran seÂdang yang parkir. RumÂput-rumÂput panjang tumbuh deÂngan suÂbur di pinggir landasan
(run way) pesawat.
Landasan bandara ini pendek, sehingga hanya bisa didarati pesawat-pesawat berbadan kecil dan sedang. “Pesawat Garuda InÂdÂonesia sudah tidak bisa meÂlaÂyani penerbangan ke sini. Sebab, landasannya masih kurang pas. Rencananya pada 2014, akan diupayakan agar bisa melayani lagi ke sini,†ujar petugas bandara warga setempat.
Bandara ini memang sedang diÂperbesar. Namun proses pemÂbaÂngunannya terlihat berjalan lamÂbat. Jika ditargetkan tahun depan sudah mulai bisa didarati pesawat berbadan besar, banyak penduÂkung bandara yang belum selesai.
Bandara di Sorong ini mengÂgunakan nama seorang pendeta asli Papua Barat sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang sudah memperkenalkan KriÂsten di wilayah ini. Fotonya diÂpajang di ruang VIP bandara ini. Foto Domine yang tengah memegang Injil itu di dinding tengah ruangan.
Di ruangan untuk tempat tunggu tamu-tamu penting yang hendak terbang maupun istirahat sejenak setelah mendarat ini diseÂkat dengan kaca hitam. FasÂiÂlitasÂnya masih sederhana. Di dalamÂnya hanya ada tiga set sofa khuÂsus dan televisi 29 inci. Layarnya menampilkan siaran TV lokal.
Pagar setinggi satu meter menÂjadi pemisah antara penumpang deÂngan petugas maupun penÂjemÂput. Keluar dari bandara terlihat warung-warung kecil yang menÂjajakan makanan dan minuman. Posisinya belum tertata baik.
Di tempat parkir depan banÂdara, mobil berpelat hitam berÂjejer. HamÂpir semuanya jenis MPV. “MoÂbil itu dipakai buat taksi,†ujar seorang petugas bandara.
Kami lalu menuju sebuah hotel yang berjarak sekitar satu kiloÂmeter dari bandara. Sepanjang Jalan Basuki Rahmat ini yang diÂlalui terlihat rumah-rumah penÂduduk. Berbagai usaha dibuka di pinggir jalan ini, mulai bengÂkel, warung, jasa perjalanan, hingga hotel.
Di jalan ini juga berdiri bebeÂrapa gedung pemerintahan dan sekolah. “Sepanjang jalan ini paÂling ramai, dan menjadi pusat kota Sorong,†ujar Hendrik, sopir asal Ambon yang mengantar kami ke penginapan.
Sore menjelang malam, kami mampir di restoran masakan laut bernama
Sunshine Beach ResÂtauÂrant. Masih di Jalan Basuki RahÂmat. Letaknya dua kilometer dari penginapan.
Restoran ini persis di pinggir pantai dengan bangunan bermoÂdel panggung. Di dalamnya ada fasilitas ruang pertemuan dan karaoke. Pengunjung yang bersantap di sini dihibur alunan lagu yang dibawakan penyanyi diiringi organ tunggal. Restoran ini salah satu yang termewah dan terkenal di Sorong.
Di sepanjang bibir pantai berÂjeÂjer warung-warung makan tenÂda. Hampir semuanya menÂjaÂjaÂkan masakan laut. Orang-orang betah duduk berlama-lama samÂbil memandang ke samudera dari tembok pembatas. Warga meÂnyeÂbut pembatas di bibir pantai seÂbagai Tembok Berlin.
Tembok dibangun bersamaan dengan runtuhnya Tembok Berlin pada 1989. “Sehingga orang-orang menyebutnya dengan sebuÂtan Tembok Berlin,†tutur seÂorang pengunjung.
Pasca Perang Dunia II, Tembok Berlin menjadi pemisah Jerman BaÂrat dan Jermat Timur, dua neÂgaÂra yang berbeda ideologi.
Tembok Berlin di Sorong juga pemisah antara daratan dengan lautan. Fungsinya mencegah air pasang maupun ombak besar meÂnerjang daratan.
Dari bentuk dan bangunannya tak ada yang istimewa. Namun dari sini, warga bisa melihat maÂtaÂhari tenggelam. Sebab, pantai ini pas menghadap ke barat seÂhingga orang bisa menyaksikan panorama sunset yang indah. Makanya, sejak sore terutama di akhir pekan, kawasan ini ramai dikunjungi orang.
Cuaca cerah pada sore itu, memÂbuat warga bisa menyakÂsiÂkan matahari tenggelam dengan sempurna di ufuk barat. Suasana makin ramai pada malam hari. Banyak orang yang mengÂhaÂbisÂkan malam di pinggir laut sambil berwisata kuliner.
Kami memilih bersantap maÂlam di dalam restoran. Menunya ikan bakar dan hasil tangkapan laut lainnya. Usai perut terisi, perÂsinggahan terakhir hari itu adalah penginapan untuk istirahat.
Mutiara Tersembunyi Di Gugusan Raja AmpatPagi pukul 7, kami menuju PeÂlabuhan Sorong. Letaknya tak jauh dari bandara. Suasana peÂlaÂbuhan ini semrawut. Kapal-kapal bersandar tak rapi.
Jalan dari kayu menjadi pengÂhubung menuju ke dua
speed boat milik Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang sandar di derÂmaga. Kami memang hendak berÂkunjung ke wilayah yang terkenal dengan keelokan perairannya itu.
Kapal bergerak meninggalkan peÂlabuhan Sorong. Lambung Berkunjung Ke Sorong, Papua Baratbergerak lincah memÂbelah air. Gesekan dengan air laut menimbulkan buih-buih putih memanjang ke belakang.
Di buritan, suara mesin kapal terÂdengar menderu. Tiga mesin berÂjejer berkekuatan 15 PK beÂkerja mendorong kapal ke tengah samudera. Sesekali nahkoda menghentikan laju kapal lalu meÂminta awak kapal mengecek meÂsin, membersihkan lumut mauÂpun sampah yang menyangÂkut di baling-baling.
Hari itu cuaca cerah. Angin pun bertiip tenang. Sepanjang perjÂaÂlaÂnan, pulau-pulau kecil dan tak berpenghuni dilewati. Sekitar satu setengah jam perjalanan, kami tiba pulau yang diberi Yellu.
Pulau ini dibentengi beberapa pulau kecil. Dari jauh tak terlihat kehidupan. Namun begitu memuÂtar melewati gugusan pulau tamÂpak rumah-rumah panggung berÂdiri di atas laut. Memanjang dari kaki bukit hingga ke lepas pantai.
Di gugusan pulau inilah mutiaÂra-mutiara kelas dunia diÂbuÂdiÂdaÂyaÂkan. Ribuan kolam terapung ditebar di perairan berarus tenang ini. Terlindungi gugusan pulau yang berfungsi sebagai penahan ombak, Pulau Yellu cocok untuk budidaya mutiara.
Mutiara yang dibudidayakan adaÂlah jenis
South Sea Pearl (SSP). Mutiara jenis ini dikenal suÂlit diproduksi. Selain warna keÂmilaunya yang khas, cara peÂngemÂbangbiakannya juga rumit.
Sutrisno Sukendy, pengelola penangkaran mutiara mengataÂkan inti mutiara atau
nucleon jeÂnis ini masih sulit didapat. NucÂleon berwarna putih dan berupa teÂlur kecil bulat itu diÂbuÂdiÂdaÂyaÂkan di Mississipi, Amerika SeÂriÂkat lalu diekspor ke Cina.
Sukrisno yang akrab disapa Tino mendapatkan
nucleon dari Cina. “Di Indonesia sulit meÂngemÂbangbiakkan inti atau nucÂleonÂnya. Sebab, tenaga ahlinya kita belum punya, dan juga carÂaÂnya masih sangat terbatas,†ujarnya.
Bukan hanya bibit yang sulit diperoleh, budidaya di kolam-koÂlam terapung ini pun berlangsung lama. Awalnya, nucleon dimaÂsukÂkan ke dalam cangkang keÂrang hidup. Lalu kerang ditÂemÂpatÂkan ke dalam jaring. DibiarÂkan selama empat hingga lima tahun di laut.
Kondisi perairan sangat meÂnenÂtuÂkan kualitas mutiara yang akan dihasilkan. “Lingkungan peÂngemÂbangannya harus bersih, airÂnya jernih dan tenang. Kalau keÂruh dan berisik akan meÂnimÂbulkan kerusakan pada peÂngemÂbangbiaÂkan kerang mutiara,†ujar Tino.
Dari seratus kerang yang diseÂmai hanya 60 persen yang bisa menghasilkan mutiara. Kerang yang sehat bisa dua kali mengÂhaÂsilkan mutiara setelah dimaÂsukÂkan nucleon ke dalam cangÂkangnya. “Dua tahun setelah paÂnen pertama akan bisa dipanen lagi,†jelasnya.
Kerang-kerang yang sudah tiÂdak produktif menghasilkan muÂtiara masih bermanfaat. DaÂgingÂnya bisa dimakan. Sedangkan cangÂkangnya bisa dibuat aksesoris.
Seorang pria berkulit putih duduk menghadap meja kayu. Di atas meja tergeletak sejumlah peÂralatan seperti yang dipakai dokÂter gigi. Ada pisau operasi kecil, penjepit dan pengungkit.
Pria yang hanya mengenal satu dua patah bahasa Indonesia itu bukanlah adalah ahli mutiara dari Cina. Dengan hati-hati dia memÂbelah cangkang kerang lalu meÂngeluarkan butiran berwarna puÂtih dari dalamnnya. “Barok,†kataÂnya. Barok adalah istilah buÂtiran mutiara yang tidak terbentuk sempurna atau cacat.
Demonstrasi mengeluarkan muÂtiara dari cangkang itu disakÂsikan Menteri Kelautan dan PerÂikanan Sharif Cicip Sutardjo. “KaÂrena kualitasnya tidak bagus, maka harganya pun rendah,†ujar Tino.
Walaupun tak sempurna, muÂtiara barok masih bisa dijual. SeÂorang staf Kementerian Kelautan dan Perikanan yang beberapa kali mengikuti pameran mutiara interÂnasional membisiki, untuk muÂtiara barok harganya bisa jutaan per butir.
“Kalau yang bagus dan semÂpurna bisa sampai ratusan juta ruÂpiah sebutir,†jelas pria yang enggan disebut namanya.
Tino mengatakan pihaknya meÂrekrut ahli dari Cina karena neÂÂgara itu adalah produsen terÂbesar mutiara di dunia. Dalam setahun, Cina memproduksi 500 ton per tahun. Produksi Indonesia tak sampai seperseratusnya. “Kita baru bisa 5 ton per tahun,†ujarnya.
Penangkaran yang dikelolanya hanya bisa memanen 100 kiloÂgram mutiara per bulan. Dalam seÂtahun sekitar 1 ton.
Mesin Ngadat, Kapal Terombang-ambingBahan Bakar Bercampur Air LautDari Pulau Yellu, kami meÂngaÂrah Misool Resort, tempat pengiÂnapan yang cukup terkenal di Raja Ampat. Dengan kapal moÂtor, melewati jejeran pulau-pulau yang indah. Lama perjalanan seÂkitar setengah jam.
Kapal bersandar di dermaga kecil di tempat penginapan ini. Pengunjung hanya diperÂboÂlehkan mengambil gambar dari dermaga saja.
Beberapa
cottage terlihat diÂbaÂngun di tebing-tebing pulau. Juga ada beberapa penginapan eksÂÂklusif hingga ke atas bukit. “TiÂdak ada alat-alat elektronik yang dipergunaÂkan di dalam sini,†ujar penjaga.
Pulau ini dijaga ketat tidak sembarangan orang bisa masuk. “Bermalam satu malam di sini mengeluarkan kocek Rp 4 juta,†ujar penjaga itu.
Dari sini, kami kembali ke Pulau Yellu untuk bahan bakar kaÂpal. Sebab sulit memperoleh bahan bakar jika kehabisan di perjalanan. Gugusan pulau seÂpanÂjang pelayaran ke Sorong baÂnyak tak berpenghuni.
“Ada juga yang jual minyak di kampung-kampung pulau-pulau terdekat, tetapi tak selalu ada miÂnyaknya,†ujar awak kapal yang membawa kami.
Di Pulau Yellu, stok bahan baÂkar cukup banyak. Sebab di pulau ini ada penangkaran mutiara. Usai tanki terisi penuh, kapal meÂninggalkan pulau itu.
Perjalanan kembali ke Sorong yang semestinya bisa dicapai daÂlam satu sampai dua jam, terÂnyata lebih lama. Bahan bakar yang diisi di Pulau Yellu beÂrÂcamÂpur air. MeÂsin pun ngadat. Kapal teromÂbang-ambing di tengah lautan. Tak terlÂiÂhat pulau-pulau di sekitar kapal.
Alat GPS (
global positioning system) di kapal juga tak berÂfungÂsi. Nahkoda yang orang lokal rupanya tidak mahir memÂperÂguÂnakan teknologi untuk penunjuk lokasi itu.
Awak kapal lalu mengambil bahan bakar cadangan yang ada di depan kapal. Enam jergien beÂsar bensin cadangan kapal diperÂgunakan untuk mengoperasikan mesin kapal.
Pengisian dilakukan secara manual dengan cara memasÂukÂkan selang ke dalam jerigen dan menyalurkan langsung ke mesin. Dua awak bergantian memegang jerigen dan selang. Setelah jeriÂgen kosong diganti dengan yang masih berisi.
Dengan bergantian, awak ke depan kapal untuk memandu arah. Hari semakin gelap, kapal masih kehilangan arah di tengah laut. SeÂbuah senter besar disoÂrotkan ke deÂpan agar tak menaÂbÂrak karang.
Bersyukur ada dua nelayan yang sedang mencari ikan di deÂkat sebuah mercusuar. Dengan berteriak, awak kapal memangÂgilnya dan bertanya arah ke SoÂrong.
Nelayan di kapal kayu itu meÂnunjukkan arah dengan meÂnyerongkan tangannya. Ternyata kapal sudah melenceng jauh dari jalur pelayaran.
Setelah mengetahui posisi, nakhoda ngebut mengemudikan kapal ke arah yang ditunjukkan nelayan tadi. Hari sudah gelap, seÂsekali gerimis yang dibawa angin laut menerpa kapal.
“Untunglah ombak tidak ada besar, dan angin tak kencang. Biasanya sore menjelang malam, ada ombak besar di laut,†ujar seÂorang awak bergumam.
Langit ditutupi awan hitam tebal. Satu per satu pulau-pulau berupa gundukan hitam terlewati. Kami tiba di pelabuhan Sorong menjeÂlang larut malam. PerÂjalanan ini diÂtempuh selama lima jam.
Menteri Cicip Dorong Budidaya Yang Dukung Konservasi LautMenteri Kelautan dan PeÂrikanan Sharif Cicip Sutardjo mendukung budidaya mutiara. Sebab, penangkarannya sangat erat dengan konservasi kaÂwaÂsan laut. Mutiara hanya bisa diÂhasilkan jika kawasan lautnya bebas dari polusi.
“Ini bagus untuk menjaga konservasi laut kita juga. Perlu dikelola dengan baik,†kata Cicip. Selain itu, budidaya ini juga mempekerjakan banyak warga lokal. Hasilnya juga diÂekspor sehingga bisa menamÂbah devisa.
Menurut Cicip, Kementerian Kelautan dan Perikanan meÂnaÂruh perhatian besar terhadap konservasi kawasan laut. SeÂjauh ini pihaknya sudah meÂnguÂpayakan konservasi laut seÂluas 15,7 juta hektar.
“Kita mendapat tugas dari PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) bahwa Indonesia harus melakukan konservasi di 20 juta hektar laut. IWilayah konservasi yang ada harus terus dijaga dan dikembangkan,†ujarnya.
Di Indonesia, pembagian wiÂlaÂyah laut terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona perikanan dan kelautan.
“Zona pemanfaatan terbesar di dunia ada di Indonesia juga. Pada 2020 kita harus bisa menÂjadi negara yang memiliki wilaÂyah konservasi terbaik di duÂnia,†ujar Cicip menargetkan.
Negara-negara lain di di kaÂwasan Pasifik yakni Filipina, SoÂlomon Island, Brunei DarusÂsalam, Malaysia dan Selandia Baru termasuk Australia juga telah sepakat menjaga konÂserÂvasi laut.
Bangun Pos Di Pulau, Anggota TNI Minum Air Laut Hasil OlahanPerairan Raja Ampat terÂkenal panorama alamnya yang indah. Kawasan ini kaya sumÂber daya laut. Untuk menÂjaga kawasan ini kerusakan maupun pencurian ikan, kepolisian mauÂpun TNI menempati memÂbangun sejumlah pos.
Salah satu pos dibangun di Pulau Yellu. Pos ini diberi nama Pos Pengamanan (Pospam) 35. Sebuah bendera merah putih dikibarkan di tiang besi di depan pos.
Sebanyak 17 personil TNI ditempatkan di sini. “Pos di sini saja untuk penjagaan. Nanti sekali sebulan ke Sorong,†ujar anggota TNI bernama Yono.
Di dalam pos berbentuk beÂdeng dari kayu itu dipampang peta besar kawasan Papua BaÂrat. Di dalamnya juga meja kayu serta papan berisi keÂgiatan pos.
Sebuah televisi berwarna sedang menyala di pojok pos. Tidak ada dinding bagian depan pos ini. Hanya ada dua bilik yang dijadikan kamar untuk berÂistirahat di dalam pos. BeÂberapa peralatan masak juga ditempatkan di dalam pos.
Pos TNI dan Pos Polisi beraÂda di satu bedeng. Hanya diÂpiÂsahkan dengan sekat dari kayu. Tak terlihat ada anggota polisi yang berjaga.
“Saya sudah hampir genap dua tahun bertugas di Papua,†ujar Yono yang berasal dari Jawa Tengah itu. Istri dan anakÂnya ikut ke tempatnya berdinas. Keluarganya tinggal di komÂpleks Komando Rayon Militer (Koramil) di Sorong.
Selain melakukan penjagaan, anggota TNI di sini mengisi waktu dengan hari-harinya berÂsosialisasi dengan para pekerja di penangkaran mutiara maupun warga setempat.
“Sesekali kami main futsal di lapangan voli di bawah bukit. Kalau tidak olahraga nanti gamÂpang sakit,†ujar Yono sembari menujuk bagian belakang ke arah kaki bukit.
Persis di belakang pos, seÂbuah ruangan ukuran enam kali enam meter sedang dijaga seÂorang pria setengah baya.
Ruangan ini berisi mesin penÂdingin dan juga mesin peÂnyaÂring air. Sunardi bertugas seÂbaÂgai operator penyaringan air laut. Air laut diolah menjadi air tawar agar bisa diminum.
Dalam waktu setengah jam, mesin penyaring bisa mengÂhaÂsilkan air tawar sebanyak seÂraÂtus liter. “Itu setara dengan satu drum air plastik,†ujarnya.
Mesin beroperasi siang dan maÂlam. Dua kotak besar terseÂdia di ruang penyaring air. Satu kotak berisi air bersih yang diÂbeÂkukan jadi es.
“Itu namanya es keripik, nanti bisa buat air miÂnum, buat maÂsak, mandi dan juga buat menÂdinginkan ikan,†ujarnya semÂbari menunjuk pada kotak besar besi bercat biru.
Sedangkan satu kotak besar lainnya terbuat dari kayu. Isinya air laut yang nantinya diperÂguÂnaÂkan untuk membentuk es baÂlok. “Untuk kebutuhan pengaÂwetan ikan. Yang itu air laut, bukan air bersih,†ujar Sunardi.
Anggota TNI yang ditemÂpatÂkan di pulau ini juga memanÂfaatkan air bersih yang dihaÂsilkan dari tempat penyaringan air laut untuk kebutuhan di pos penjagaan. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: