Pulau Doom di Sorong membuktikan, jarak geografis bukan penghalang bagi kemajuan literasi. Pada Senin, 4 Mei 2026, program Doom Tra Kosong memasuki hari kedua. Program literasi dengan antusiasme yang luar biasa.
Program Doom Tra Kosong adalah manifestasi perlawanan terhadap keterbatasan akses pendidikan di wilayah kepulauan.
Secara harfiah, tajuk ini menegaskan bahwa anak-anak Pulau Doom memiliki kapasitas intelektual yang "berisi" dan siap mendunia melalui penguasaan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional.
Dengan mengubah ruang-ruang sekolah dan gedung gereja menjadi laboratorium bahasa yang dinamis, inisiatif ini berupaya mematahkan stigma isolasi geografis. Program ini juga membuktikan bahwa dari sebuah pulau kecil di Sorong, Papua dapat lahir generasi yang fasih bertutur kata sekaligus berdaulat secara mental.
Ruang kelas di SD Misi Stella Maris, SMA Negeri 4, SMP YPK, hingga Gedung Sekolah Minggu Noach dipenuhi warga dengan antusiasme tinggi. Ratusan peserta dari jenjang sekolah dasar hingga dewasa memenuhi puluhan ruang kelas sejak pagi hingga sore hari.
Dalam kegiatannya, para pengajar menggunakan metode praktis agar materi mudah diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Suasana belajar berlangsung interaktif tanpa kaku.
Program ini lahir dari kolaborasi Yayasan Pulau Doom Papua, Indonesia Brain Camp, Rylich Panorama Hotel, dan BPD HIPMI Papua Barat Daya. Fokus utamanya adalah membangun kepercayaan diri generasi muda dalam menghadapi tantangan global.
Secara historis, Pulau Doom memiliki posisi unik di Papua Barat Daya. Luasnya hanya sekitar 5 kilometer persegi. Pulau ini dulunya adalah pusat pemerintahan Belanda di wilayah Sorong pada masa kolonial.
Sisa-sisa arsitektur Eropa masih terlihat di jalanan pulau yang tertata rapi. Namun saat ini akses utama berada di daratan Sorong. Meski demikian semangat pendidikan di pulau yang bisa dikelilingi dalam waktu 45 menit ini tetap terjaga kuat.
Inisiator program, Engelin Yolanda Kardinal, merasa bersyukur atas kelancaran kegiatan tersebut. Menurutnya keberhasilan program ini karena dukungan banyak pihak.
Engelin mengapresiasi peran kepala sekolah, guru, tokoh gereja, serta tim dari Indonesia Brain Camp. Ia juga memuji kerja keras Melkianus Muay selaku ketua pelaksana di lapangan.
“Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, kegiatan ini berjalan lancar dan penuh berkah. Semua ini berkat dukungan luar biasa dari banyak pihak,” kata Engelin.
Ditambahkan bahwa gerakan Doom Tra Kosong adalah investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia di pulau tersebut. Pendidikan menjadi kunci utama untuk mengembalikan kejayaan Pulau Doom sebagai pusat peradaban.
"Pelatihan bahasa Inggris ini semoga bisa jadi bekal nyata bagi anak-anak. Ini adalah langkah awal, tapi kami yakin ini akan menjadi fondasi kuat bagi masa depan anak-anak Pulau Doom,” kata Engelin.
Program Doom Tra Kosong adalah perjuangan. Puisi Rendra menyebut bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Paulo Freire berkata bahwa pendidikan sejati bukanlah proses mengisi wadah kosong, melainkan upaya memanusiakan manusia.
Program Doom Tra Kosong adalah pelaksanaan kata-kata Freire. Belajar bahasa asing bukan sekadar menghafal kosakata asing. Ini sebuah cara memperluas cakrawala dunia mereka sendiri.
Di balik tembok-tembok kelas yang sederhana, sedang terjadi sebuah pembebasan mental di mana setiap anak mulai menyadari potensi besar yang tersembunyi.
Sebab hakikatnya pendidikan di pulau kecil pelosok Nusantara adalah tentang menumbuhkan martabat manusia. Agar warganya tidak hanya menjadi penonton perubahan, melainkan subjek yang berdaulat atas masa depan mereka sendiri.
Edhie Prayitno IgeWakil Pemimpin Redaksi Kantor Berita RMOLJateng
BERITA TERKAIT: