Kriminalisasi Polri atas KPK Bukti SBY Lemah dan Lebih Baik Mundur

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Minggu, 07 Oktober 2012, 16:40 WIB
Kriminalisasi Polri atas KPK Bukti SBY Lemah dan Lebih Baik Mundur
rizal ramli
rmol news logo Tokoh oposisi DR. Rizal Ramli kecewa dan prihatin atas pengepungan gedung KPK oleh puluhan aparat Polda Metro Jaya dan Polda Bengkulu pada Jumat malam lalu.

Kedatangan aparat itu untuk menangkap salah satu penyidik KPK, Kompol Novel Baswedan, yang dituding terlibat kasus penganiayaan saat bertugas di Bengkulu pada 2004 lalu.

"Itu langkah buruk dan membuat kredibilitas Polri rusak berat. Para diplomat Barat, Asia dan semua negara asing di sini melihat keburukan Polri yang tampak  tidak bersih dan tidak profesional. Ini berita buruk bagi diplomat asing dan dunia internasional," jelas Rizal kemarin.

Polri tak bisa membayar utang budi pada gerakan mahasiswa dan kaum muda yang kini mendukung KPK dan memisahkan Polri dari TNI dan kini masyarakat  melawan kriminalisasi polisi atas KPK.

Mantan Menko Pereknomian ini menegaskan Polri harus menyadari bahwa banyak yang melihat penyerbuan itu dipenuhi kejanggalan. Penangkapan ini diduga banyak kalangan karena Novel merupakan penyidik utama kasus korupsi pengadaan simulator SIM dengan tersangka Irjen Djoko Susilo.

"Kalau pun Novel terlibat masalah, kenapa baru sekarang diangkat isunya? Kenapa Polri begitu gegabah dan kelihatan penuh rekayasa seperti Orde Baru yang brutal itu?" tanyanya.

Kalau ada salah satu penyidik KPK yang berasal dari Polri tersandung kasus hukum, semestinya diproses dengan mengkoordinasikannya terlebih dahulu dengan KPK ketika itu. Bukan sekarang tiba-tiba jadi masalah baru.  Para analis melihat, Polri sudah tidak dipercaya publik, mental korupnya terbuka lebar, ini sudah melampaui batas.

Menurutnya, aksi puluhan polisi itu jelas itu berlebihan dan merusak citra polisi yang sudah  miring. Tak hanya itu, citra Polri juga habis. Rizal meningatkan, hal itu juga berimplikasi kepada Presiden SBY. Kredibilitas SBY juga habis. Karena kebusukan ini diplototi masyarakat internasional dan diplomat  asing serta investor di Jakarta.

Kriminalisasi KPK oleh Polri ini bukti bahwa SBY gagal, amat lemah, tak fokus dan sudah kelelahan. Akibatnya, kepercayaan publik pun sudah hancur.

Karena itu lebih baik SBY mundur daripada membiarkan negeri ini hancur oleh korupsi dan jaringan mafia hukum. Tak hanya itu, seluruh institusi negara sudah merosot tajam ke jurang kehancuran.

"Mari Perkuat KPK. Stop kriminalisasi atas KPK. Dan jika terpilih jadi presiden, saya bertekad perkuat KPK, habisi korupsi dan habisi pelaku kriminalisasi atas KPK oleh siapapun. Koruptor adalah musuh bersama bagi rakyat kita," tegasnya. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA