WAWANCARA

Alex Noerdin: Kalau Tiga Tahun Jakarta Masih Banjir & Macet, Saya Mundur...

Kamis, 02 Februari 2012, 08:52 WIB
Alex Noerdin: Kalau Tiga Tahun Jakarta Masih Banjir & Macet, Saya Mundur...
Alex Noerdin
RMOL.Sedikit sekali gubenur yang punya keberanian jadi tuan rumah event internasional. Salah satunya, Alex Noerdin. Sukses Gubernur Sumatera Selatan menyelenggarakan SEA Games dan Konferensi PIUC (Parliamentary Union of the Organization of Islamic Cooperation) atau Parlemen Negara-Negara Islam yang ketujuh, kiranya patut ditiru.

Saat ini di Palembang juga ada Nasional Basketball League (NBL). Lalu 22 Februari ke­jua­raan dunia sepak takraw. April, kejuaran voli pantai se-Asia Pa­sifik. Dan Juni ada dua event, ya­itu para legenda NBA Amerika akan main di Palembang, juga pe­nyelenggaraan kejuaraan sepatu ro­da se-Asia Pasifik. Pada Ok­tober, ada kejuaraan dunia bola voli. Dan November, kejuaraan dunia ski air.

“Itu orang datang sendiri ke Palembang. Kita belum jualan. Bayangkan bagaimana kalau kita sudah jualan,” kata Alex tentang ta­mu-tamu yang datang ke wila­yah­nya. Kepada Rakyat Merdeka, dia membagi pengalamannya me­laksanakan kegiatan inter­na­sional, juga rencananya maju di Pilkada DKI-1.

Berikut ini kutip­annya:

Kenapa anda mau repot-re­pot jadi tuan rumah event-event internasional?

Jika ingin semut datang, tentu harus ada gula. Agar orang datang ke Sumsel, perlu daya tarik. Ya­itu, ada fasilitas, akses, dan kea­manan yang kondusif. Fasilitas dimaksud, mulai dari bandara, ako­modasi hotel, transportasi da­lam kota, dan pendukung lainnya. Sumsel dalam hal ini Palem­bang punya keuntungan geo­gra­fis. Dekat dengan gerbang Asia. Ke Singapura 50 menit, dan ke Ja­karta 42 menit. Ada 24 kali se­hari penerbangan Jakarta-Palem­bang. Pulang pergi berarti 48 kali.

Anda termasuk nekat me­nye­lenggarakan event inter­na­sional, sementara masih ada ke­terbatasan infrastruktur. Ba­gaimana ini?

Justru itu pelecut untuk jadi le­bih baik. Sebab, dengan event in­ternasional, terjadi multiplier ef­fect. Restoran penuh, hotel-ho­tel juga penuh. Kerajinan kecil dan cenderamata habis terjual. Ma­kanan khas daerah diserbu pe­ngun­jung. Nama Sumsel muncul di mata internasional, dan jadi daya tarik untuk datang berin­ves­tasi.

Berapa pendapatan asli dae­rah (PAD) Sumatera Selatan saat ini?

Tahun 2008, saat baru masuk (duduk jadi Gubernur) APBD Sumsel 2,3 triliun. Sekarang di 2012 mencapai 5,3 triliun. Pa­dahal, belum seluruhnya sumber daya alam di-eksplore. Contoh, ba­tubara baru 15 juta ton per­tahun. Bandingkan dengan Kali­man­tan Selatan, Tengah dan Ti­mur yang sudah mencapai 270 juta ton pertahun. Padahal, batubara Sumsel itu, kandungannya 48,45 persen dari total deposit In­donesia.

Untuk menggali potensi lebih banyak, saat ini disiapkan moda transportasinya, yaitu mem­ba­ngun jalan khusus batubara, ke­reta api double track sepanjang 270 km. Ini adalah jalur kereta api ter­panjang yang dibangun, sejak kita merdeka.

Apa tips yang bisa di-share untuk gubernur wilayah lain agar bisa senekat Anda?

Bukannya saya mau mengajari ya (tertawa). Modalnya, percaya diri bahwa kita mampu. Dan kita bisa kalau kita mau. Kelebihan daerah itulah yang di-eskplore. Semua wilayah pasti punya po­tensi masing-masing. Misalnya, Manado menggali potensi bahari, yang tidak dimiliki Palembang.

Mengenai rencana keikut­ser­taan Anda dalam Pilkada DKI Jakarta, bagaimana?

Jujur, sebenarnya, terpikir pun tid­ak. Usai SEA Games, No­vem­ber lalu, ada saran, tawaran atau ajakan agar ikut mencalonkan diri di Jakarta. Jadi keinginan bukan datang dari saya. Niatan itu da­tang setelah ada ajakan dan ta­waran.

Tawaran itu datang dari sia­pa?

Belum saatnya disebutkan. Ta­pi sudah banyak yang menge­nal saya di Jakarta. Belakangan ini, lebih banyak lagi.

Permasalahan yang dihadapi Jakarta jauh lebih kompleks dari Sumsel. Anda sudah siap?

Pertama, saya harus yakin, sa­ya bisa melakukan sesuatu lebih baik dari incumbent. Harus yakin. Kedua, saya harus yakin bisa me­nyelesaikan masalah Jakarta. Dan ketiga, saya harus yakin peng­ganti saya di Sumsel, juga bisa melanjutkan program.

Masalah klasik di Jakarta adalah banjir dan kemacetan. Ba­gaimana strategi meny­ele­sai­kan ini?

Itu misi utama saya. Harus bisa mengatasi tiga masalah, yaitu ma­cet, banjir dan kerawanan so­sial, termasuk keamanan dan pe­layanan publik. Saya sudah pu­nya konsep dan strategi, tapi tidak disampaikan sekarang. Kalau saya jadi maju ke pilkada nanti, jar­gonnya: Jakarta bebas banjir dan macet dalam tiga tahun. Ka­lau tidak tercapai, saya mundur.

Yakin bisa?

Saya bukan dukun, tapi pro­fesional. Saya bukan tiba-tiba jadi gubernur. Saya tidak tiba-tiba jadi bupati. Jadi kalau saya bilang da­lam tiga tahun, tentu ada hi­tung-hitungannya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA