Delegasi Jepang yang berjumlah 10 orang ini dipimpin oleh Chairman of JTTRI (Japan Transport and Tourism Research Institute), Shukuri Masafumi. Ia merupakan mantan Vice Minister of Land, Infrastructure, Transport and Tourism Jepang, dengan komposisi perwakilan dari unsur pemerintah, akademisi/peneliti, serta pengusaha.
Sebelum berkunjung ke BLP, delegasi Jepang telah bertemu dengan Deputi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur serta melakukan kunjungan ke Pelabuhan Patimban.
Hal itu sebagai bagian dari rangkaian pemahaman terhadap ekosistem logistik Indonesia.
Pertemuan dengan Senior Management BLP Rio Tanujaya difokuskan pada pengembangan skema multimoda/intermodal berbasis kereta api, khususnya konektivitas dari Stasiun Semarang menuju Tanjung Priok dan Tanjung Perak.
“Diskusi berlangsung strategis, menyoroti pentingnya integrasi antarmoda untuk meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional,” kata Rio dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.
Setelah sesi diskusi, delegasi melanjutkan kunjungan lapangan ke fasilitas BLP di Stasiun Kampung Bandan, Jakarta Utara, yang berlokasi dekat kawasan Ancol.
“Kunjungan ini memberikan gambaran konkret mengenai kesiapan infrastruktur serta potensi pengembangan rail freight ke depan,” jelasnya.
Lanjut dia, dalam konteks nasional, ketergantungan terhadap angkutan jalan masih sangat dominan, sementara peran kereta api dalam logistik relatif kecil.
“Padahal, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa integrasi multimoda berbasis rail dapat menjadi kunci efisiensi, keandalan, dan keberlanjutan sistem logistik,” beber Rio.
“Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih konkret dalam mendorong transformasi logistik Indonesia ke arah yang lebih efisien dan terintegrasi,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: