Sebelum pingsan, demonstran tersebut berteriak tidak tega melihat aksi jahit mulut tersebut. "Daripada mati perlahan, lebih baik saya mati dengan pisau," teriak demonstran tersebut.
Selain pingsan, hampir semua demonstran menangis, dan ada juga yang membacakan shalawat nabi sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim.
Sampai sekarang, baru empat orang demonstran yang melakukan aksi jahit mulut di depan Gedung DPR RI. Mereka melakukan aksi dibawah tenda.
M Ridwan, koordinator aksi mengatakan mereka tidak akan berhenti melakukan aksi sebelum SBY merevisi Surat Keputusan yang memberikan hak sebesar 41.205 hektar kepada PT Riau Andalan Pulp Paper (PT.RAPP).
Ini menyebabkan warga yang ada Pulau Padang, bagian dari Kepulauan Meranti tergusur. Betapa tidak, dari 110.000 hektar Pulau Padang yang dihuni 35.244 jiwa penduduk,pemerintah memutuskan bahwa 41.205 hektar diberikan kepada PT Riau Andalan Pulp Paper (PT.RAPP).
"Kami tidak akan pulang dari Jakarta, sebelum ada Menhut Zulkifli Hasan dan SBY mengubah keputusan itu," ujarnya.
Ridwan juga mengatakan, selain empat orang demonstran ini, akan menyusul 73 orang lainnya yang akan melakukan aksi jahit mulut.
[arp]
BERITA TERKAIT: