"Agar yang tidak murni terbakar mati," kata Rio mengemukakan judul pidatonya.
Menurutnya, saat ini penting untuk bicara kemurnian. Karena rakyat Indonesia sedang diselimuti sikap kepura-puraan, termasuk dari para elitnya. Berpura-pura sejahtera, berpura-pura mewakili rakyat, berpura-pura negarawan bahkan tak jarang juga berpura-pura bersih dan suci. Dia mengingatkan, sikap kepuraan-puraan akan melahirkan kepalsuan, makanya tak heran akan lahir angka statistik semu.
"Angka kemiskinan berkurang tapi indek pembangunan manusia kita terperosok jauh dibanding dengan bangsa-bangsa lain. Pendapatan per kapita naik, tapi kita dihantam dengan kebijakan impor beras dan impor gula yang menyebabkan para petani dan buruh kita berkubang dalam penderitaan," bebernya.
Padahal, sambungnya, Indonesia adalah negara maritin terbesar dengan garis pantai terpanjang di dunia. Tak hanya itu, kalau kita berjalan dari Aceh sampai Papua, dari Miangas sampai Rote, akan terlihat bagaimana kekayaan alam yang ada di bumi Indonesia. Tapi sayangnya, ikan kita dicuri, nelayan hidup di garis kemisikinan tanpa kita tahu bagaimana cara mengatasinya. Dan berbagai ironi lainnya.
"Kita tidak percaya bahwa bangsa ini punya utang sedemikian berlipat ganda. Sumber daya alam berlimplah rumah. Mestinya cukup membuat rakyat Indonesia menjadi makmur. Kita bangga telah menjadi anggota G-20 tapi faktanya menurut UNDP indek pembangunan manusia kita hanya mampu mengalahkan Laos dan Myanmar di ASEAN bahkan kita berada di bawah Palestina yang masih berada dalam perang berkepanjangan," ungkapnya.
Tak sampai disitu, Rio juga membeberkan ironi-irono lainya yang dialami bangsa ini. Dia mengungkit, ekonomi kita dikatakan membaik tapi faktanya negara ini dibebani utang yang semakin menumpuk. Fakta lainnya, tarif dasar listrik naik, harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan naik, dan subsidi dicabut.
"Lalu dimana perbaikan ekonomi yang dimaksud. Jawabannya tentu tidak sederhana tapi patut kita pertanyakan saudara-saudara," katanya berapi-api.
Dia kemudian membuka sejarah reformasi untuk menuntun mencarikan asbab musabab dari semua keadaan ini. Dia mengkisahkan, kertika reformasi datang, rakyat menyambut gembira karena perubahan telah tiba. Tetapi sayangnya, republik ini menjelama menjadi hutan belantara yang liar. Dia mengumpamakan, rubah-rubah berdatangan, mengintip dan memangsa apa yang ada di depan matanya.
"Rubah-rubah ini mengusai sumber-sumber kehiduapan rakyat. Rubah-rubah menerkam kantong-kantong konstitusi, menggerogoti nilai-nilai dasar Pancasila, bahkan kita menunggu Obama, Presiden Amerika datang untuk mengingatkan kita betapa pentinganya nilai-nilai Pancasila yang memerpersatukan kita sebagai sebuah bangsa," katanya panjang lebar.
Namun, dia mengingatkan, bukan perubahan seperti itu diinginkan. Dia menegaskan, yang diinginkan adalah perubahan yang berpihak pada kemurnian sebagai sebuah bangsa. Makanya, tegasnya, bangsa Indonesia butuh restorasi dan perubahan.
"Kita buruh restorasi di seluruh sendiri kehidupan bangsa. Restorasi konstitusi, politik, ekonomi dan kebudaayan. Dan yang paling penting adalah restorasi mental dan sikap hidup seluruh rakyat Indonesia baik itu di pemerintahan maupun sebagai warga negara Indonesia," tandasnya, yang disambut riuh tepuk tangan hadirin yang menyesaki ruang acara tersebut.
[zul]
BERITA TERKAIT: