"Separuh instruksi tidak dijalankan berarti itu pembangkangan. Sayangnya, tidak ada indikator yang memperlihatkan Presiden punya kemampuan me-reshuffle," ujar pengamat politik senior, Arbi Sanit, kepada
Rakyat Merdeka Online, Sabtu (9/7).
Ketidakmampuan itu diperkuat oleh beberapa hal. Pertama, kabinet SBY-Boediono bukan presidensil tapi semi-presidensil yang tergantung pada dukungan partai politik asal menteri.
"Kedua, kalau dipaksakan akan dikeroyok sama partai-partai. Dia bisa di-Gus Durk-an, digusur ramai-ramai, lalu mati langkah baik di masyarakat dan parlemen," jelasnya.
Intinya, lanjut Arbi Sanit, SBY tidak akan mampu lakukan reshuffle karena tidak punya mesin politik yang dapat digerakannya.
"Di partainya sendiri (Demokat) SBY bukan figur sentral lagi. Di Demokrat dia kehilangan pengaruh," tegasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: