Aburizal Bakrie: Saya Diadu Dengan Presiden Demi Politik Sesaat & 2014

Jumat, 03 Desember 2010, 00:18 WIB
Aburizal Bakrie: Saya Diadu Dengan Presiden Demi Politik Sesaat & 2014
RMOL.Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengaku ada skenario mengadu domba dirinya dengan Presiden SBY demi kepentingan politik sesaat dan Pemilu 2014.

Caranya beragam, mulai dari dihembuskan isu seolah-olah Sekretariat Gabungan (Setgab) Parpol Koalisi pecah, isu Partai Golkar dengan Partai Demokrat berantem, dan terakhir kasus Gayus Tambunan.

“Ini strategi mengadu domba saya dengan Presiden. Tapi itu tidak akan berhasil. Sebab, saya dan Presiden sudah mengetahui hal itu. Jadi, hubungan kami solid saja,’’ ujar Aburizal Bakrie kepada Rakyat Merdeka, di kantornya Wisma Bakrie, Jakarta, kemarin.

Ical - panggilan akrab Aburi­zal Bakrie yang didampingi Wakil Sekjen Partai Golkar Lalu Mara selanjutnya mengatakan, orang-orang yang membuat skenario itu ingin membuat kon­disi bangsa ini instabilitas, se­hingga bisa men­dapatkan ke­untungan.

“Kalau keuntungan sesaat tidak berhasil, mereka ingin me­raih keuntungan saat Pemilu 2014,’’ ucapnya.

Berikut kutipan wawancara dengan Ketua Harian Satgas Parpol Koalisi itu:

Siapa orang-orang itu?

Saya nggak bisa sebutkanlah. Anda sendiri yang mencari. Karena itu tugas Pers untuk men­cari dan melakukan investigasi. Jangan-jangan malah sudah tahu ya, ha-ha-ha.

Belum tahu, apa bisa Anda se­butkan kriteria mereka?

Cari tahu saja ya, lakukan in­vestigasi deh, itu kan tugasnya Pers. Di situ nanti akan diketahui ada di balik dihembuskannya kasus Gayus yang dikait-kaitkan dengan saya.

Sebenarnya apa yang terjadi dalam kasus Gayus ini?

Dalam kasus Gayus yang me­ng­arah pada tiga sasaran tembak.

Pertama, sasaran utamanya adalah saya. Kedua, mendiskre­ditkan Presiden. Ketiga, mendis­kreditkan polisi.

Apa alasan Anda mengata­kan seperti itu?

Faktanya memang seperti itu. Saya dituduh yang tidak masuk akal. Tujuannya jelas demi men­diskreditkan saya dan Partai Golkar. Sasaran berikutnya Pre­siden yang seolah-olah tidak mam­pu memberantas mafia pajak. Terakhir adalah polisi yang dianggap tidak mampu mena­ngani kasus Gayus.

Apa tujuan mereka bisa ber­hasil?

Tidak akan. Sebab, kami sudah tahu sepak terjang mereka. Kami tahu ini strategi adu domba. Saya diadu dengan Pre­siden. Partai Golkar diadu de­ngan Partai De­mokrat. Saya diadu dengan Hatta Rajasa. Ini memakai berbagai cara. Ada yang di peme­rintahan, ada yang di Pers. Se­muanya didesain, se­hingga se­suatu yang tidak ada bisa di­adakan. Sungguh ini di­desain secara utuh dan hebat.

Apa saja diinginkan orang ter­sebut?

Ada agenda yang tersembunyi yang hanya dicapai bila terjadi perpecahan di dalam koalisi. Mereka mau Setgab pecah dan koalisi tidak kuat. Kalau koalisi kuat maka pemerintahan akan berjalan sampai 2014.

Mereka tidak menginginkan itu. Jadi, perlu diganggu, se­hingga terjadi instabilatas politik agar ekonomi Indonesia dan kesejahteraan rakyat tidak ber­kem­bang dengan baik. Yang jadi korban adalah rakyat.

Partai Golkar tetap berko­mit­men mengawal pemerintah ini sampai 2014?

O ya dong. Kami ingin mem­pertahankan pemerintahan dan membuat situasi politik yang kondusif, sehingga pemerintah bisa menjalankan tugasnya untuk kesejahteraan rakyat yang sebaik-baiknya.

Kita mempertahankan siklus Indonesia untuk lima tahun, kalau Indonesia mau dewasa. Kalau ti­dak suka pada seseorang,  tunggu pada pemilu. Jangan menjatuh­kan kepemimpinan SBY di tengah jalan. Sudah cu­kup bangsa ini menjatuhkan kepemimpin bangsa ini di tengah jalan, seperti  Soe­karno, Soe­harto, Gus Dur, dan per­­tangung­ja­waban  BJ Habibie tidak di­terima.

Tapi setelah era Megawati dan SBY tidak ada lagi menjatuhkan di tengah. Ini hendaknya tetap dipertahankan.

Kalau pemerintah ini bagus, bukankah Partai Demokrat yang mendapat simpati rakyat di Pemilu 2014?

Tergantung pendekatan partai kepada rakyat. Golkar selalu men­­canangkan suara Golkar suara rakyat. Jadi, kami harus mensuarakan kepentingan-ke­pen­tingan rakyat, yakni mem­bangun Indonesia dimulai dari desa. Sebab, rakyat di desa itu harus mendapat perhatian yang baik. Dengan cara seperti itu Gokar menyuarakan suara rakyat ke parlemen dan pemerintahan.

Ada yang bilang, buat apa Golkar membela pemerintah?

Golkar tidak menginginkan menang di atas penderitaan rakyat. Kalau pemerintah jatuh, Golkar menang, dan rakyat susah. Maka kita tidak suka. Kan ada yang bilang, ngapain Golkar be­lain pemerintah. Padahal peme­rintah lebih gampang dijatuhkan. Saya bilang, Golkar tidak ingin seperti itu. Menginginkan satu persaingan pada saat rakyat sejahtera.

Anda optimistis menang Pemilu 2014?

Ya. Kalau lihat nomor-nomor­nya juga seperti itu. Pemilu 1997 Golkar menang. Pemilu 1999 urutan kedua. Tahun 2004 urutan pertama. Pemilu 2009 nomor dua. Jadi, Pemilu 2014 kembali lagi di urutan pertama, ha-ha-ha.

Apa alasan Anda optimistis menang?

Kita punya langkah-langkah sudah jauh untuk memper­juang­kan hak rakyat. Selain itu, 54 persen Pemilu Kepala Daerah sudah kita menangkan. Ini bisa menjadi ukuran kan.

Soal Pilpres bagaimana?

Kita optimistis dulu untuk me­menangkan Pileg. Soal Pil­pres, tentu tergantung siapa yang di­usung jadi Capres dan Cawa­pres nanti.

Bukankah Anda sebagai Ca­presnya?

Partai Golkar belum menentu­kan Capres dan Cawapres. Masa­lah ini kami tentukan akhir 2012 atau awal 2013 berdasarkan hasil survey, siapa Capres dan Cawa­pres yang diinginkan rakyat. Kemudian ini akan diputuskan lewat Rapim. [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA