Caranya beragam, mulai dari dihembuskan isu seolah-olah Sekretariat Gabungan (Setgab) Parpol Koalisi pecah, isu Partai Golkar dengan Partai Demokrat berantem, dan terakhir kasus Gayus Tambunan.
“Ini strategi mengadu domba saya dengan Presiden. Tapi itu tidak akan berhasil. Sebab, saya dan Presiden sudah mengetahui hal itu. Jadi, hubungan kami solid saja,’’ ujar Aburizal Bakrie kepada Rakyat Merdeka, di kantornya Wisma Bakrie, Jakarta, kemarin.
Ical - panggilan akrab AburiÂzal Bakrie yang didampingi Wakil Sekjen Partai Golkar Lalu Mara selanjutnya mengatakan, orang-orang yang membuat skenario itu ingin membuat konÂdisi bangsa ini instabilitas, seÂhingga bisa menÂdapatkan keÂuntungan.
“Kalau keuntungan sesaat tidak berhasil, mereka ingin meÂraih keuntungan saat Pemilu 2014,’’ ucapnya.
Berikut kutipan wawancara dengan Ketua Harian Satgas Parpol Koalisi itu:
Siapa orang-orang itu?
Saya nggak bisa sebutkanlah. Anda sendiri yang mencari. Karena itu tugas Pers untuk menÂcari dan melakukan investigasi. Jangan-jangan malah sudah tahu ya, ha-ha-ha.
Belum tahu, apa bisa Anda seÂbutkan kriteria mereka?
Cari tahu saja ya, lakukan inÂvestigasi deh, itu kan tugasnya Pers. Di situ nanti akan diketahui ada di balik dihembuskannya kasus Gayus yang dikait-kaitkan dengan saya.
Sebenarnya apa yang terjadi dalam kasus Gayus ini?
Dalam kasus Gayus yang meÂngÂarah pada tiga sasaran tembak.
Pertama, sasaran utamanya adalah saya. Kedua, mendiskreÂditkan Presiden. Ketiga, mendisÂkreditkan polisi.
Apa alasan Anda mengataÂkan seperti itu?
Faktanya memang seperti itu. Saya dituduh yang tidak masuk akal. Tujuannya jelas demi menÂdiskreditkan saya dan Partai Golkar. Sasaran berikutnya PreÂsiden yang seolah-olah tidak mamÂpu memberantas mafia pajak. Terakhir adalah polisi yang dianggap tidak mampu menaÂngani kasus Gayus.
Apa tujuan mereka bisa berÂhasil?
Tidak akan. Sebab, kami sudah tahu sepak terjang mereka. Kami tahu ini strategi adu domba. Saya diadu dengan PreÂsiden. Partai Golkar diadu deÂngan Partai DeÂmokrat. Saya diadu dengan Hatta Rajasa. Ini memakai berbagai cara. Ada yang di pemeÂrintahan, ada yang di Pers. SeÂmuanya didesain, seÂhingga seÂsuatu yang tidak ada bisa diÂadakan. Sungguh ini diÂdesain secara utuh dan hebat.
Apa saja diinginkan orang terÂsebut?
Ada agenda yang tersembunyi yang hanya dicapai bila terjadi perpecahan di dalam koalisi. Mereka mau Setgab pecah dan koalisi tidak kuat. Kalau koalisi kuat maka pemerintahan akan berjalan sampai 2014.
Mereka tidak menginginkan itu. Jadi, perlu diganggu, seÂhingga terjadi instabilatas politik agar ekonomi Indonesia dan kesejahteraan rakyat tidak berÂkemÂbang dengan baik. Yang jadi korban adalah rakyat.
Partai Golkar tetap berkoÂmitÂmen mengawal pemerintah ini sampai 2014?
O ya dong. Kami ingin memÂpertahankan pemerintahan dan membuat situasi politik yang kondusif, sehingga pemerintah bisa menjalankan tugasnya untuk kesejahteraan rakyat yang sebaik-baiknya.
Kita mempertahankan siklus Indonesia untuk lima tahun, kalau Indonesia mau dewasa. Kalau tiÂdak suka pada seseorang, tunggu pada pemilu. Jangan menjatuhÂkan kepemimpinan SBY di tengah jalan. Sudah cuÂkup bangsa ini menjatuhkan kepemimpin bangsa ini di tengah jalan, seperti SoeÂkarno, SoeÂharto, Gus Dur, dan perÂÂtangungÂjaÂwaban BJ Habibie tidak diÂterima.
Tapi setelah era Megawati dan SBY tidak ada lagi menjatuhkan di tengah. Ini hendaknya tetap dipertahankan.
Kalau pemerintah ini bagus, bukankah Partai Demokrat yang mendapat simpati rakyat di Pemilu 2014?
Tergantung pendekatan partai kepada rakyat. Golkar selalu menÂÂcanangkan suara Golkar suara rakyat. Jadi, kami harus mensuarakan kepentingan-keÂpenÂtingan rakyat, yakni memÂbangun Indonesia dimulai dari desa. Sebab, rakyat di desa itu harus mendapat perhatian yang baik. Dengan cara seperti itu Gokar menyuarakan suara rakyat ke parlemen dan pemerintahan.
Ada yang bilang, buat apa Golkar membela pemerintah?
Golkar tidak menginginkan menang di atas penderitaan rakyat. Kalau pemerintah jatuh, Golkar menang, dan rakyat susah. Maka kita tidak suka. Kan ada yang bilang, ngapain Golkar beÂlain pemerintah. Padahal pemeÂrintah lebih gampang dijatuhkan. Saya bilang, Golkar tidak ingin seperti itu. Menginginkan satu persaingan pada saat rakyat sejahtera.
Anda optimistis menang Pemilu 2014?
Ya. Kalau lihat nomor-nomorÂnya juga seperti itu. Pemilu 1997 Golkar menang. Pemilu 1999 urutan kedua. Tahun 2004 urutan pertama. Pemilu 2009 nomor dua. Jadi, Pemilu 2014 kembali lagi di urutan pertama, ha-ha-ha.
Apa alasan Anda optimistis menang?
Kita punya langkah-langkah sudah jauh untuk memperÂjuangÂkan hak rakyat. Selain itu, 54 persen Pemilu Kepala Daerah sudah kita menangkan. Ini bisa menjadi ukuran kan.
Soal Pilpres bagaimana?
Kita optimistis dulu untuk meÂmenangkan Pileg. Soal PilÂpres, tentu tergantung siapa yang diÂusung jadi Capres dan CawaÂpres nanti.
Bukankah Anda sebagai CaÂpresnya?
Partai Golkar belum menentuÂkan Capres dan Cawapres. MasaÂlah ini kami tentukan akhir 2012 atau awal 2013 berdasarkan hasil survey, siapa Capres dan CawaÂpres yang diinginkan rakyat. Kemudian ini akan diputuskan lewat Rapim. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: