Dari indeks kedalaman kemisÂkinÂan pun BPS mencatat terjadi penurunan yang sinifikan sebesar 0,29. demikian juga dengan inÂdeks keparahan kemiskinan ikut turun 0,10.
Jumlah penduduk miskin meÂnuÂrut kategori provinsi per Maret 2010 menjadikan Jawa Timur meÂnempati posisi teratas yaitu 5.529,30, kemudian diikuti Jawa Tengah 5.369,16, dan Jawa Barat 4.773,72.
Adalah Ketua Komisi XI Emir Moeis yang mengkritik moÂdel survei yang dilakukan BPS kurang objektif, sehingga tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
“Pada umumnya saya percaya pada survei mereka. Hanya saja keÂrap dilakukan di momen yang bagus-bagus saja. Saat maÂsyaÂraÂkat menerima BLT saja mereka meÂlakukan survei. Coba waktu maÂÂsyarakat lagi kesusahan. Biar nanti data yang ada jadi lebih beÂragam, sehingga dasar dan bahan pertimbangan untuk membuat kebijakan pun jadi lebih banyak,†ucapnya.
Politisi PDIP ini memperÂtaÂnyakan, selain masalah waktu, diriÂnya juga mempertanyakan maÂsalah kriteria penilaian dalam survei BPS yang kerap tidak seÂsuai dengan kenyataannya di laÂpangan. “Kriteria-kriteria yang diguÂnaÂkan harus diperiksa, dan dikritisi. Saat raker dengan Kemenkeu, seÂcara lisan kita sudah memÂbicaÂraÂkan rencana untuk secepatnya mengadakan RDP dengan BPS,†ujarnya.
Kepala Bagian Pencatatan KeÂmisÂkinan Badan Pusat Statistik (BPS), Indra Surbakti meÂngaÂtaÂkan, tahun 2010 penduduk miskin meÂngalami penurunan. DiÂbanÂdingkan dengan penduduk miÂsÂkin pada tahun 2009, penduduk miskin pada tahun 2010 ini turun sebesar 1,5 juta jiwa.
“Jumlah penduduk miskin di InÂdonesia pada bulan Maret 2009 berjumlah 32,53 juta. Kemudian pada Maret 2010 jumlahnya menÂjadi sekitar 31 juta jiwa,†ungÂkapÂnya.
Indra menjelaskan, berdaÂsarÂkan laporan bulanan data sosial ekoÂnomi BPS edisi ketiga AgusÂtus 2010, jumlah penduduk misÂkin di daerah perkotaan turun lebih banyak daripada daerah peÂdesaan.
Selama periode Maret 2009 - Maret 2010, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang sekitar 0,6 juta orang. Sementara di daerah perkotaan, penduduk miskinnya berkurang hingga 0,81 juta orang.
“Presentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan peÂdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2009, sebagian besar sekitar 63 persen penduduk miskin berada di daerah pedeÂsaÂan. Sementara pada bulan Maret 2010, persentase penduduk misÂkin di daerah pedesaan adalah sebesar 64,23 persen,†jelasnya.
Indra mengatakan, penurunan jumlah dan presentase penduduk misÂkin selama periode Maret 2009 - Maret 2010 dipengaruhi beberapa faktor, antara lain renÂdahnya inflasi, dan meningkatnya perÂtumbuhan ekonomi pada triÂwulan pertama tahun 2010. DiÂkatakan, selama periode Maret 2009 - Maret 2010 inflasi relatif rendah, yaitu 3,4 persen. SeÂmentara perekonomian Indonesia pada triwulan pertama 2010 tumbuh sebesar 5,7 persen.
“Memang masih ada faktor-faktor lain. Tapi dua faktor itu yang secara umum membuat angÂka penduduk miskin mengalami penurunan,†ungkapnya.
Kepala Deputi Menteri KoorÂdinator Kesejahteraan Rakyat BiÂdang Koordinasi PenangÂguÂlangÂan Kemiskinan, Sujana Royat, menyambut gembira hasil survei BPS yang menyebutkan adanya penurunan penduduk miskin.
“Memang penurunannya beÂlum besar. Tapi itu adalah sebuah keÂmajuan upaya pemerintah daÂlam mengentaskan kemisÂkinan,†katanya.
Namun Sujana mengingatkan, turunnya jumlah penduduk misÂkin yang dirilis BPS merupakan salah satu indikator pengentasan kemiskinan saja.
“Menurunnya jumlah penÂduÂduk miskin hanyalah indikator makro. Masih ada indikator lain seÂperti tercapainya MDGS. TuÂrunnya angka kematian ibu yang melahirkan dan lain-lain. Kalau semua indikator itu sudah meÂnurun, baru program pengentasan kemiskinan benar-benar disebut berhasil,†ujarnya.
Anak buah Agung Laksono ini menjelaskan, penurunan jumlah penduduk miskin itu hanyalah berarti ada sejumlah anggota maÂsyaÂrakat yang berhasil dinaikkan ke atas garis kemiskinan yang sifatnya sementara.
“Misalnya karena tiba-tiba ada bencana yang menelan banyak korban harta benda. Dengan beÂgitu ada saja penduduk miskin yang baru,†ucapnya.
Oleh karena itu, kata dia, lemÂbaganya akan terus meÂningÂkatkan upaya pengentasan keÂmisÂkinan. Salah satu caranya dengan meÂmastikan program penangÂguÂlangan kemiskinan yang diteÂtapÂkan melaui tiga cluster, yaitu bantuan perlindungan sosial, pemÂberdayaan masyarakat, dan penguatan usaha mikro.
“Kita akan mendorong peÂmeÂrintah daerah supaya berkerja leÂbih keras lagi. Selain itu kita juga akan berkerjasama dengan peÂngusaha-pengusaha. Dengan beÂgini saya yakin ke depan program pengenÂtasan kemiskinan akan leÂbih berhasil,†pungkasnya.
“Nggak Bisa Jadi Patokanâ€Iman Sugema, Ekonom (ICAFE)Ekonom Iman SuÂgema meÂngaÂtakan, hasil survei BPS meÂngenai penurunan jumlah penÂduduk miskin tidak bisa dijaÂdikan tolok ukur untuk mengÂgamÂbarkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
“Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, maÂsih ada sekitar 30 jutaan penÂduduk yang hidupnya di bawah garis miskin, atau dengan kata lain yang berpendapatan kurang dari 2 dolar AS per hari. Itu berÂarti masih banyak masyarakat yang belum makmur,†katanya, pekan lalu.
Iman menjelaskan, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp 7.000 triliun, dan jumÂlah penduduk sekitar 230 juta, rata-rata pendapatan penduduk Indonesia memang lebih dari 3.000 dolar AS, tapi itu hanya angÂka rata-rata.
Selain itu Gema pun meÂnamÂbahkan, di dalam PDB juga terÂdapat kekayaan milik investor asing, seperti Freeport Amerika, atau Bank Danamon yang seÂbaÂgian sahamnya dimiliki investor Malaysia.
Menurutnya, jika kekayaan perusahaan-perussahaan asing itu diÂkeluarkan dari PDB, tentu pendapatan penduduk Indonesia akan sangat kecil. “Jadi hasil survei itu nggak bisa dijadikan paÂtokan mengukur kesejahteraan masyarakat,†ucapnya.
Iman mengingatkan, saat ini peÂkerjaan rumah pemerintah daÂlam usaha pengentasan kemisÂkinÂan masih sangat banyak. Dengan potensi penduduk miskin sebesar 30 juta itu sebanding dengan lima kali lipat dari penduduk SingaÂpura.
Untuk mengatasi hal ini ia menyarankan pemerintah memakÂsimalkan semua sumber daya alam maupun untuk sumÂberÂdaya manuÂsianya. “Masalah keÂmiskinan ini tidak akan bisa diseÂlesaikan tanpa kerjasama dari seÂmua elemen. Pemerintah harus meÂngaturnya,†cetusnya.
“Program Kemiskinan Belum Tepat Sasaranâ€Rukmini Buchori, Anggota Komisi VIII DPRAnggota Komisi VIII DPR Rukmini Buchori menilai, penuÂrunan prosentase penduduk misÂkin yang diungkapkan hasil survei BPS masih kecil, dan harus menjadi cambuk evaluatif bagi pemerintah untuk meningkatkan peÂnanggulangannya.
“Memang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 32 juta jiwa. Tapi meÂnurut saya jumlah itu masih saÂngat besar,†katanya, pekan lalu.
Rukmini mengingatkan, kalauÂpun angka penduduk miskin suÂdah mengalami penurunan, naÂmun pekerjaan rumah yang diÂmiliki pemerintah masih sangat banyak. Selama ini program peÂngentasan kemiskinan yang diÂlakukan pemerintah belum teÂpat sasaran.
“Program kemiskinan belum tepat sasaran. Kementerian KeÂsejahteraan rakyat harus meÂningÂkatkan lagi upayanya dalam menÂsukseskan program-proÂgram peÂngenÂtasan keÂmisÂkinan, seperti PNPM Mandiri,†teÂgasÂnya.
[RM]
BERITA TERKAIT: