Penandatanganan MoU dilakukan oleh Menhut Raja Juli Antoni dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, disaksikan oleh Wamenhut Rohmat Marzuki serta jajaran Pejabat Tinggi Madya Kemenhut dan BMKG.
Salah satu strategi utama yang disepakati yakni, optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan saat ini sudah berlangsung di Riau dan Kalimantan Barat sebagai langkah deteksi dini.
"Mencegah karhutla jauh lebih baik daripada memadamkan api. Kita terus pantau tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, kita segera lakukan OMC untuk re-wetting atau pembasahan kembali guna menjaga cadangan air tanah," kata Raja Juli.
Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa sinergi juga berfokus pada upaya preventif (pencegahan) ketimbang kuratif (pemadaman).
Sebab, prediksi kemarau yang datang lebih cepat dan berakhir lebih lambat dibanding tahun lalu perlu diantisipasi oleh semua pihak.
"Tugas BMKG adalah mendukung Kementerian Kehutanan dalam hal pengendalian kebakaran hutan, lahan, serta kekeringan. Kita mengupayakan agar tahun ini kita lebih siap memitigasi. Kami tidak hanya bekerja secara kuratif saat api sudah menyala, tapi memperkuat aspek preventif melalui integrasi data untuk memprediksi titik rawan," ujar Kepala BMKG.
Selain integrasi data, BMKG juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk memasang Aloptama (Alat Operasional Utama) dan sensor-sensor meteorologi penting di area kawasan hutan untuk meningkatkan akurasi dan keandalan data iklim nasional.
BERITA TERKAIT: