RMOL.Staf Khusus Presiden Bidang Informasi, Heru Lelono mengaku belum tahu kapan nama calon Kapolri diserahkan ke DPR.
Yang jelas, lanjutnya, kalau diserahkan hari Minggu (3/10) rasanya kurang masuk akal. SeÂbab, itu hari libur.
“Kayaknya nggak mungkin sih diserahkan hari Minggu, logikaÂnya nggak nyambung. Tapi ya kita lihat saja nanti,’’ ujarnya keÂpada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Penyerahan calon Kapolri dan Jaksa Agung masih simpang siur. Sebab, Staf Khusus Presiden Bidang Informasi, Heru Lelono sampai sekarang belum mengeÂtahui kapan calon Kapolri akan diserahkan ke DPR.
Sebelumnya Ketua DPR MarÂzuki Alie mengungkapkan, PreÂsiden sudah menetapkan calon Kapolri pilihannya. Rencananya 3 Oktober mendatang diserahkan ke DPR.
“Saya baru saja bertemu preÂsiden, dan akan menyerahkan satu nama calon Kapolri tanggal 3 Oktober,†katanya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/9).
Heru Lelono selanjutnya meÂngaÂtakan, kalau tetap calon KaÂpolri itu diserahkan hari Minggu, itu juga tidak masalah.
“Itu hak preorogatif Presiden, sah saja. Sebab, tidak aturan yang dilanggar,’’ ucapnya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Siapa yang akan diajukan SBY sebagai calon Kapolri?
Presiden sudah menjawab kan, pasti akan mencalonkan yang diÂusulkan oleh Kapolri dan KomÂpolÂnas. Calon itu sudah melalui proses dengan persaingan yang ketat.
Apa jadi diserahkan ke DPR 3 Oktober?
Saya malah belum tahu kapan. Tapi katanya Ketua DPR sudah mengatakan, tanggal 3 Oktober nama calon Kapolri akan diserahÂkan Presiden ke DPR. Kalau meÂmang begitu berarti tidak masuk akal, logikanya nggak nyambung.
Kenapa?
Ya, karena 3 Oktober itu hari Minggu. Itu kan hari libur, masa di situ diserahkan ke DPR.
Lalu kapan?
Saya nggak tahu persis kapanÂnya. Tapi berdasarkan informasi bahwa katanya Ketua DPR MarÂzuki Alie sudah ketemu dengan Presiden. Kalau memang begitu, ya sudah.
Maksudnya?
Ya, kita tunggu saja. Yang penÂting nama calon Kapolri jangan diseret-seret ke politik. Sebab, Polri adalah lembaga penegak hukum yang harus terbebas dari tekanan-tekanan.
Memang ada indikasi seperti itu?
Itu harapan saya. DPR itu jaÂngan dukung mendukung. ApaÂlagi dijadikan ajang taruhan. Ini kan penegak hukum. Jadi, pilihÂlah yang terbaik.
Menurut Anda siapa yang terÂbaik, Nanan Soekarna atau Imam Sudjarwo?
Keduanya baik. Tapi itu PreÂsiden akan memilih yang terbaik untuk diserahkan ke DPR.
Siapa itu?
Saya nggak tahu.
Sudah positif ya calonnya tunggal diserahkan ke DPR?
Ya, seperti biasanya Presiden pasti mengajukan satu nama calon Kapolri. Saya jamin itu. Kalau nanti ditolak, pasti diganti calon yang lain.
Ada yang bilang ini pengeÂkangan demoÂkrasi karena caÂlonÂnya tunggal?
Tidak ada demokrasi dilanggar. Kalau DPR menolak, tentu PreÂsiden akan mengajukan calon yang lain. LagiÂpula, berÂdaÂsarÂkan UnÂdang-undang, Presiden biÂsa mengajukan satu orang atau leÂbih. Kalau nanti diajukan satu orang, berarti bisa jadi pertimÂbangannya adalah biar DPR cepat meÂlakukan proÂses fit and proper test. Sebab, kalau nggak salah memÂbuÂtuhÂkan waktu seÂkitar dua minggu karena Pak BamÂbang Hendarso Danuri (BHD) bulan Oktober berakhir masa kerjanya.
O ya, bagaimana dengan caÂlon Jaksa Agung?
Calon Jaksa Agung sudah tidak ada problem yang sangat besar.
Kenapa?
Karena sampai pada keputusan untuk memilih Jaksa Agung, PreÂsiden sudah mengeluarkan surat dengan ditunjuknya Wakil Jaksa Agung, Darmono sebagai pejabat sementara Jaksa Agung.
Jadi, sudah tidak ada istilah keÂkosongan. Darmono akan menÂjadi pejabat sementara Jaksa Agung sampai ada Jaksa Agung yang baru.
Apa Presiden sudah memberi tanda-tanda memilih siapa yang menjadi Jaksa Agung?
Belum ada tanda-tanda. PreÂsiden pernah memberikan tanda-tanda soal pelantikan Jaksa Agung bisa bersamaan dengan Kapolri yang baru.
Kapan itu?
Saya nggak tahu persis. Tapi yang jelas, setelah BHD pensiun dan proses fit and proper test itu selesai di DPR. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: