Hasil KTT tersebut menunjukkan jawaban yang tidak diduga banyak pengamat. NATO memang berubah, tetapi bukan menuju perpecahan. Sebaliknya, aliansi ini tampaknya sedang memasuki babak baru.
Prediksi mengenai melemahnya NATO sebenarnya bukan hal baru. Selama beberapa tahun terakhir, banyak pengamat memperkirakan Donald Trump akan menjadi presiden Amerika Serikat yang mengguncang fondasi aliansi yang telah berdiri sejak 1949 itu. Kritiknya terhadap sekutu-sekutu Eropa, ancamannya mengurangi komitmen pertahanan Amerika, serta tuntutannya agar Eropa memikul beban keamanan yang lebih besar dipandang berpotensi mengikis solidaritas transatlantik.
Namun, perkembangan beberapa tahun terakhir justru menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks. Perubahan lingkungan strategis telah mengubah NATO itu sendiri. Selama Perang Dingin, aliansi ini dipersatukan oleh ancaman Uni Soviet sekaligus oleh kesamaan nilai-nilai demokrasi liberal. Setelah Uni Soviet runtuh, banyak pihak mempertanyakan relevansinya.
NATO kemudian memperluas perannya ke berbagai operasi di luar kawasan, mulai dari Balkan hingga Afghanistan, bahkan menangani ancaman terorisme dan berbagai isu keamanan nontradisional. Perannya menjadi semakin luas, tetapi sekaligus kehilangan fokus strategis yang selama puluhan tahun menjadi identitas utamanya.
Invasi Rusia ke Ukraina mengubah keadaan secara fundamental. Ancaman militer konvensional kembali hadir di Eropa. Negara-negara anggota NATO kembali menyadari bahwa pertahanan kolektif bukan sekadar prinsip dalam Pasal 5 Traktat Atlantik Utara, melainkan kebutuhan nyata. Ironisnya, justru Rusia yang kembali memberikan alasan paling kuat mengapa NATO tetap relevan lebih dari tujuh dekade setelah didirikan.
Dalam konteks itulah perubahan sikap negara-negara Eropa menjadi sangat penting. Selama bertahun-tahun Washington, terutama pada masa Presiden Trump, mengeluhkan rendahnya kontribusi pertahanan para sekutunya. Kini kritik tersebut mulai dijawab. Pada KTT Ankara, para anggota NATO bahkan menyepakati target baru, yakni 3,5 persen PDB untuk belanja pertahanan inti, ditambah 1,5 persen PDB untuk investasi di bidang infrastruktur dan ketahanan nasional yang mendukung pertahanan.
Perubahan itu mulai terlihat nyata. Polandia kini mengalokasikan sekitar 4,7 persen PDB untuk pertahanan, sementara Lithuania, Estonia, Latvia, dan Yunani bahkan telah melampaui target baru NATO. Negara-negara besar seperti Jerman, Inggris, Prancis, dan Italia juga terus meningkatkan anggaran pertahanannya, meskipun masih berada dalam tahap menuju target tersebut. Secara keseluruhan, belanja pertahanan negara-negara Eropa anggota NATO dan Kanada meningkat hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa tuntutan Washington mengenai burden sharing akhirnya mulai diterjemahkan ke dalam kebijakan yang nyata.
Namun, menaikkan anggaran hanyalah langkah pertama. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kembali kapasitas industri pertahanan, mempercepat produksi amunisi, memperkuat logistik, meningkatkan interoperabilitas antarpasukan, serta memperpendek rantai pasok industri militer. Dengan kata lain, mengalokasikan dana jauh lebih mudah daripada membangun kemampuan tempur yang nyata. Fokus NATO kini mulai bergeser dari sekadar berapa banyak uang yang dibelanjakan menuju kemampuan militer yang benar-benar dapat dihasilkan.
KTT Ankara juga memperlihatkan paradoks Donald Trump. Selama pertemuan ia kembali mengkritik sekutu-sekutunya, mengeluhkan minimnya dukungan terhadap operasi Amerika terhadap Iran, dan kembali mengangkat isu Greenland. Namun pada akhirnya Amerika Serikat tetap menyetujui komunike yang menegaskan kembali komitmen NATO terhadap pertahanan kolektif. Bahkan Washington tetap memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot. Perbedaan antara retorika politik dan keputusan strategis tampak semakin jelas. Dalam diplomasi internasional, pidato memang penting, tetapi keputusan konkret sering kali jauh lebih menentukan.
Perubahan lain yang menarik adalah semakin besarnya arti diplomasi personal. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, memainkan peran yang tidak kecil dalam menjaga hubungan dengan Presiden Trump. Sebagian kalangan menilai pendekatannya terlalu akomodatif, bahkan cenderung berlebihan dalam memberikan pujian. Namun, The Economist justru memandang pendekatan tersebut sebagai bentuk pragmatisme diplomatik. Menurut majalah itu, bila sedikit sanjungan dapat menjaga Amerika Serikat tetap berkomitmen terhadap NATO, maka harga tersebut layak dibayar.
Di balik gaya komunikasinya yang bersahabat, Rutte tetap konsisten mendorong dukungan terhadap Ukraina dan mengingatkan pentingnya menghadapi ancaman Rusia secara bersama-sama. Diplomasi, dalam praktiknya, sering kali bukan hanya soal argumentasi yang kuat, tetapi juga kemampuan membangun hubungan personal yang efektif.
Lalu, apakah NATO kini menjadi lebih efektif? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Dari sisi militer, NATO justru tampak lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu. Ancaman Rusia telah mengembalikan fokus organisasi pada misi utamanya. Belanja pertahanan meningkat, kesiapan militer diperkuat, dan koordinasi antaranggota menjadi semakin intensif. Dalam pengertian hard power, NATO dapat dikatakan mengalami revitalisasi.
Namun dari sisi politik, tantangannya justru semakin kompleks. Hubungan transatlantik kini lebih transaksional dibandingkan sebelumnya. Negara-negara Eropa dituntut memikul beban pertahanan yang lebih besar, sementara Amerika mengharapkan kontribusi yang lebih nyata dari para sekutunya. Konsensus tidak lagi dapat diasumsikan begitu saja, melainkan harus terus dibangun melalui negosiasi, kompromi, dan kepemimpinan politik yang efektif. Paradoksnya, NATO hari ini mungkin lebih kuat secara militer, tetapi sekaligus lebih rapuh secara politik.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari KTT Ankara bukanlah bahwa perbedaan pandangan di antara anggota NATO telah hilang. Sebaliknya, perbedaan itu tetap ada, bahkan dalam beberapa hal semakin tajam. Yang berubah adalah kesadaran bahwa dalam lingkungan strategis yang semakin berbahaya, biaya berpisah jauh lebih besar daripada biaya tetap bersama. NATO tidak lagi bertumpu semata-mata pada romantisme hubungan transatlantik atau kesamaan nilai, melainkan pada kepentingan strategis yang semakin nyata.
Babak baru NATO menunjukkan bahwa kekuatan sebuah aliansi tidak hanya terletak pada kemampuan militernya, tetapi juga pada kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan lingkungan strategis. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan beradaptasi itulah yang akan menentukan apakah NATO tetap relevan pada dekade-dekade mendatang.

Yuri O. ThamrinPenulis adalah Dubes RI untuk Inggris, Irlandia, IMO (2008-2011) dan untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020)
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: