Menahan Imbang Para Juara, Memenangkan Kepercayaan Diri Bangsa

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/gde-siriana-yusuf-5'>GDE SIRIANA YUSUF*</a>
OLEH: GDE SIRIANA YUSUF*
  • Selasa, 16 Juni 2026, 12:23 WIB
Menahan Imbang Para Juara, Memenangkan Kepercayaan Diri Bangsa
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
ADA sesuatu yang menarik ketika kita menyaksikan negara-negara yang tidak pernah dianggap sebagai raksasa sepak bola mampu menahan imbang para juara dunia. 

Jepang menghadapi Belanda tanpa rasa gentar. Cape Verde berdiri sejajar dengan Spanyol. Arab Saudi mampu mengimbangi Uruguay. Maroko menolak tunduk pada nama besar Brasil.

Yang lebih menarik, hingga tulisan ini dibuat, belum ada negara Asia yang menelan kekalahan pada pertandingan pertamanya. Mesir menahan imbang Belgia. Korea Selatan mengalahkan Ceko. Qatar menahan Swiss. Iran menahan Selandia Baru. Seolah ada pesan yang sedang berulang dari satu stadion ke stadion lainnya: dunia sepak bola tidak lagi sepenuhnya tunduk pada hierarki lama.

Di atas kertas, hasil-hasil itu mungkin tidak istimewa. Mereka bukan juara dunia. Bahkan sebagian mungkin belum tentu melangkah jauh dalam turnamen. Namun bagi bangsa-bangsa tersebut, ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar hasil pertandingan. Mereka memperoleh pengalaman yang sulit diukur oleh statistik: pengalaman tentang kemungkinan.

Untuk pertama kalinya, atau setidaknya pada satu malam yang penting, mereka melihat bahwa jurang yang selama ini dibayangkan memisahkan mereka dengan negara-negara besar ternyata tidak sedalam yang mereka kira. Mereka menyadari bahwa nama besar memang penting, sejarah memang berpengaruh, tetapi keduanya tidak otomatis menentukan masa depan.

Sepak bola, dalam momen-momen seperti itu, tidak lagi berbicara tentang taktik dan teknik semata. Ia berbicara tentang psikologi kolektif sebuah bangsa.

Kita sering mengira bahwa kemajuan suatu negara terutama ditentukan oleh modal, teknologi, sumber daya alam, atau kekuatan militer. Semua itu memang penting. Namun sejarah menunjukkan bahwa sebelum bangsa-bangsa besar membangun kekuatan material, mereka terlebih dahulu membangun sesuatu yang lebih tidak kasatmata: keyakinan terhadap diri sendiri.

Filsuf Prancis, Alexis de Tocqueville, pernah mengamati bahwa kekuatan sebuah masyarakat demokratis tidak hanya terletak pada institusinya, tetapi pada kebiasaan mental warganya. Dengan kata lain, cara suatu bangsa memandang dirinya sendiri sering kali menentukan sejauh mana ia mampu melangkah.

Karena itu, kemenangan moral bukanlah sesuatu yang remeh. Ia adalah fondasi psikologis yang memungkinkan kemenangan-kemenangan lain terjadi.

Sejarah tidak pernah mencatat kebangkitan bangsa yang dimulai dari keyakinan bahwa mereka ditakdirkan untuk kalah. Tidak ada peradaban yang tumbuh besar karena terus-menerus meyakini ketertinggalannya sendiri. Setiap lompatan kemajuan selalu berawal dari keyakinan bahwa masa depan tidak harus menjadi perpanjangan dari masa lalu.

Di sinilah saya merasa sepak bola sering memberikan pelajaran yang lebih jujur daripada pidato politik.

Di lapangan, tidak ada ruang bagi ilusi. Nama besar tidak bisa mencetak gol. Reputasi masa lalu tidak bisa menggantikan kerja keras selama sembilan puluh menit. Yang menentukan adalah keberanian untuk bermain, disiplin untuk bertahan, dan keyakinan bahwa lawan yang lebih besar bukan berarti tidak bisa ditandingi.

Bukankah pelajaran ini juga relevan bagi Indonesia hari ini?

Kita hidup di tengah percakapan yang sering kali dipenuhi rasa pesimis. Media sosial dipenuhi keluhan tentang ketertinggalan. Kita membandingkan diri dengan negara lain lalu menemukan seribu alasan mengapa mereka lebih maju. Kita mengagumi teknologi negara lain, sistem pendidikan negara lain, tata kota negara lain, disiplin masyarakat negara lain. Tanpa sadar, kekaguman itu kadang berubah menjadi sikap yang lebih berbahaya: keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.

Padahal bangsa ini tidak kekurangan contoh bahwa kita mampu berdiri sejajar ketika memiliki tujuan yang jelas. Dalam berbagai bidang, dari diplomasi, kebudayaan, olahraga, hingga ilmu pengetahuan, selalu ada momen ketika Indonesia menunjukkan bahwa ukuran kekuatan tidak selalu ditentukan oleh besarnya sumber daya, tetapi oleh kualitas kepercayaan diri kolektif.

Masalahnya, kepercayaan diri nasional tidak dapat dibangun melalui slogan. Ia tidak lahir dari baliho. Ia tidak tumbuh dari pidato yang berulang-ulang menyatakan bahwa kita hebat.

Kepercayaan diri membutuhkan pembuktian. Persis seperti tim sepak bola yang mulai percaya pada kemampuannya setelah berhasil menahan imbang tim unggulan, bangsa pun memerlukan pengalaman-pengalaman keberhasilan yang nyata. Sebuah industri yang berhasil bersaing. Sebuah inovasi yang diakui dunia. Sebuah kota yang tertata dengan baik. Sebuah lembaga publik yang bekerja dengan jujur dan efektif. Hal-hal semacam itulah yang perlahan membangun rasa percaya diri kolektif.

Filsuf Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, berbicara tentang pentingnya pengakuan dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Namun pengakuan yang paling mendasar sesungguhnya bukan pengakuan dari luar, melainkan kemampuan untuk mengakui nilai diri sendiri. Bangsa yang terlalu sibuk menunggu validasi dari dunia akan selalu merasa kurang. Sebaliknya, bangsa yang memiliki kepercayaan diri yang sehat mampu bekerja dalam diam, membangun dalam kesabaran, dan membuktikan dirinya melalui karya.

Karena itu, saya melihat kisah Jepang, Cape Verde, Arab Saudi, dan Maroko bukan sekadar kisah sepak bola. Ia adalah pengingat bahwa sejarah sering berubah bukan ketika seseorang berhasil menjadi yang terbaik, melainkan ketika ia berhenti merasa lebih rendah.

Perubahan besar selalu dimulai dari pergeseran cara pandang. Dari keyakinan bahwa kita memang belum sampai, tetapi juga tidak sedang berjalan ke arah yang salah. Dari keberanian untuk menatap mereka yang selama ini dianggap lebih unggul dan berkata, "Kami mungkin belum menang hari ini, tetapi kami sudah mampu berdiri di lapangan yang sama.

Bagi Indonesia, mungkin itulah pelajaran yang paling penting. Kita tidak perlu terus-menerus meyakinkan diri bahwa kita sudah menjadi negara besar. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kita tidak lagi berpikir sebagai bangsa kecil.

Sebab dalam kehidupan bangsa-bangsa, seperti juga dalam sepak bola, sejarah baru tidak selalu dimulai oleh kemenangan. Kadang ia dimulai oleh sebuah keberanian yang sederhana: keberanian untuk tidak lagi merasa lebih rendah dari orang lain. rmol news logo article



EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA