Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Strategi Asimetris Iran dan Pelajaran Berharga bagi Indonesia

Kamis, 02 April 2026, 05:56 WIB
Strategi Asimetris Iran dan Pelajaran Berharga bagi Indonesia
Ilustrasi. (Foto: AI)
BAGAIMANA memahami strategi Iran menghadapi Amerika dan sekutu? Bagaimana perbandingan kekuatan Iran secara teknologi dan militer dengan Amerika dan sekutu? Apa pelajaran yang dapat diambil Indonesia? Apa yang harus Indonesia lakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menarik untuk dikaji, terutama dalam tatanan global multipolar dimana ketidakpastian dan tantangan geopolitik yang signifikan. Tulisan ini mencoba menjawab semua pertanyaan tersebut melalui pembahasan strategi Iran dalam menghadapi Amerika Serikat dan sekutu di Timur Tengah.

Operasi militer AS dan sekutu, terutama Israel, 28 Februari 2026 terhadap Iran merupakan serangan militer untuk menyelesaikan perang secara cepat (direct attack). AS dan Israel menargetkan kemampuan musuh dalam berperang. Terbukti, terbunuhnya pemimpin Iran Ali Khamenei dan beberapa personel militer Iran melemahkan struktur komando dan kekosongan sementara kepemimpinan, selain kerusakan dan kehancuran fasilitas militer dan nuklir. Secara teknologi, baik militer maupun ekonomi, AS dan sekutu merupakan pihak dengan kekuatan yang lebih besar dibandingkan Iran. Dengan begitu, interaksi perang bersifat asimetris.

Strategi Asimetris Iran

Menghadapi AS dan sekutu, Iran menggunakan strategi tidak langsung (indirect defense). Iran menggunakan ribuan drone kamikaze (seperti Shahed-136) dan rudal balistik yang murah (20.000–50.000 Dolar AS per unit) untuk memaksa lawan, terutama Israel dengan  menggunakan sistem pertahanan udara dengan perkiraan harga sebesar 100 juta Dolar AS dengan biaya produksi satu rudal pencegat sebesar 150 ribu Dolar AS per unit, membangun kedalaman strategis melalui kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Hamas, dan milisi di Irak serta Yaman dengan menargetkan basis-basis militer AS di Timur Tengah, dan memanfaatkan posisi geografis untuk memblokir Selat Hormuz, jalur ekspor minyak utama dunia. 

Strategi ini memanfaatkan penggunaan ranjau laut dan drone laut untuk mengganggu lalu lintas kapal asing, yang bertujuan memicu lonjakan harga minyak global dan memberikan tekanan ekonomi politik secara global, terutama terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Singkatnya, AS dan sekutu, terutama Israel menggunakan strategi militer secara langsung untuk mencapai kemenangan cepat, sementara Iran menggunakan strategi berbeda, dengan menggunakan strategi tidak langsung. Iran tidak meladeni AS dan Israel dengan menggunakan kekuatan militer, namun memilih untuk mengatasi ketimpangan kekuatan militer konvensional dengan cara mengeksploitasi kekuatan selain militer untuk memaksa lawan mengeluarkan biaya perang lebih besar dan memperpanjang durasi konflik militer. Bahkan serangan militer AS dan Israel tersebut langsung memicu balasan masif dari Iran dan memicu konflik regional yang lebih luas daripada yang diperkirakan. AS sendiri gagal dalam mengakhiri perang dalam waktu cepat.

Akibatnya, AS dan Israel tidak hanya gagal mengakhiri perang secara cepat seperti yang diharapkan, namun juga mengalami kerugian finansial dan ekonomi selama peperangan yang cukup besar. AS mengalami kerugian aset militer sebesar $2 miliar di awal perang dan meningkat menjadi 3,8 miliar Dolar AS selama 2 minggu. Israel sendiri mengalami kerugian ekonomi sebesar 3 miliar Dolar AS per minggu dan kerusakan infrastruktur. AS dan Israel telah mengeluarkan biaya perang yang lebih besar dibandingkan kebermanfaatan yang dicapai.

Iran sendiri mengalami kerugian besar. Berbagai kerusakan infrastruktur dan ribuan korban jiwa. Selama perang, Iran mengalami kerugian fisik paling besar, sementara AS dan Israel mengalami kerugian ekonomi dan risiko eskalasi konflik yang meluas. Strategi asimetris Iran melawan Amerika Serikat dan Israel dirancang untuk mengatasi ketertinggalan kekuatan militer konvensional. Langkah cerdas tersebut mampu mengatasi keunggulan dan tujuan lawan yang menginginkan perang segera berakhir dengan kemenangan. Dengan strategi asimetris, Iran berhasil membuat perang berlarut dan bahkan membuat pihak lawan harus mengeluarkan sumber daya besar sehingga berdampak signifikan bagi besaran biaya perang yang harus ditanggung.

Dalam interaksi konflik dan perang, strategi militer langsung memang cenderung digunakan pihak yang lebih kuat, dan pihak yang lebih lemah cenderung menggunakan pendekatan berbeda, seperti yang dilakukan Iran. Dampaknya, Iran tidak perlu memenangkan peperangan. Iran hanya perlu memperpanjang durasi perang. Dalam konflik asimetris, hal itu menguntungkan pihak yang lemah. Dengan kata lain, selama tidak kalah, Iran telah memenangkan perang, sementara selama tidak menang, maka AS dan sekutu menjadi pihak yang kalah.

Konflik ini dinilai sebagai kegagalan strategis AS dan sekutu karena tidak mencapai tujuan utama dan memicu dampak negatif global. Meski berhasil menewaskan pemimpin tertinggi, namun pergantian kepemimpinan di Iran justru semakin memperkuat kepemimpinan baru. Bahkan, kerusakan fasilitas nuklir justru mendorong Iran mempercepat pengembangan nuklir menjadi kekuatan militer.

Yang lebih utama, langkah Iran menutup Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menimbulkan inflasi tinggi, ketidakpastian ekonomi, dan risiko resesi global. Hal ini mendorong inflasi dan mengganggu rantai pasok global. Bagi sekutu AS, Israel, ekonomi negara tersebut sangat menurun. Laporan kerugian mencapai ratusan triliun rupiah akibat perang, defisit negara membengkak, dan utang luar negeri meningkat tajam.

Penutupan jalur yang melayani 20 persen konsumsi minyak global memicu lonjakan harga di atas 100 Dolar AS per barel (bahkan diprediksi menembus 200 Dolar AS  jika berlangsung lama), menciptakan guncangan pasokan terbesar sejak 1970-an. Kegagalan AS dan sekutu untuk segera membuka kembali Selat Hormuz menunjukkan keterbatasan proyeksi kekuatan militer. 

Akibatnya gangguan ekonomi global tidak hanya berdampak secara global, terutama negara-negara Eropa dan Asia, namun juga kepentingan Amerika dan sekutu di level internasional. Bahkan, di dalam negeri, Pemerintahan Presiden Donald Trump pun harus menghadapi tekanan politik. Masyarakat AS berunjuk rasa besar-besaran bertema “No Kings” sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Trump dalam perang Iran, sebagai akibat dari lonjakan harga minyak dan kebutuhan bahan pokok.

Akibat dari penutupan Selat Hormuz, desakan internasional meningkat. Di sisi lain,  Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai mengalihkan fokus perang menuju proses negosiasi. Meski belum kalah, namun upaya Presiden Trump untuk mendorong negosiasi, menjelaskan kegagalan AS dan sekutu dalam perang Iran.

Meski perang belum berakhir, dengan kondisi tersebut maka Iran berada di atas angin. Iran berhasil memaksa AS untuk menghentikan perang dan bahkan menawarkan negosiasi untuk mengakhiri perang. Dari semua strategi Iran, keuntungan dan keunggulan terbesar Iran adalah kemampuan memaksimalkan kondisi geografis dalam masa perang. 

Meski Iran berhasil memaksa AS dan Israel mengeluarkan biaya perang yang besar, atau kemampuan untuk membangun kedalaman strategis melalui kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Hamas, dan milisi di Irak serta Yaman, namun kemampuan Iran dalam mengeksploitasi nilai strategis Selat Hormuz berdampak besar bagi keunggulan strategis Iran dalam memberikan tekanan kepada AS. 

Iran memanfaatkan posisi geografisnya untuk mengancam atau memblokir Selat Hormuz, jalur ekspor minyak utama dunia. Taktik ini melibatkan penggunaan ranjau laut dan drone laut untuk mengganggu lalu lintas kapal asing, yang bertujuan memicu lonjakan harga minyak global dan memberikan tekanan ekonomi politik pada Amerika Serikat.

Apa yang dilakukan Iran sangatlah strategis dan efektif. Dengan memblokade Selat Hormuz, maka secara geopolitik, Iran dapat meningkatkan posisi tawar dengan meningkatkan kontrol jalur secara paksa. Akibatnya sekitar 20-26 persen pasokan minyak dunia terganggu dan Iran dapat menggunakan kekacauan tersebut untuk menekan ekonomi global secara langsung.

Jika dibandingkan dengan Iran, maka kekuatan militer Indonesia masih jauh di bawah. Namun, Indonesia memiliki kesamaan dalam hal potensi nasional yang dapat dieksploitasi untuk dikonversi sebagai kekuatan nasional sewaktu-waktu. Dalam konteks strategi asimetris, negara seperti Indonesia biasanya memanfaatkan keunggulan non-konvensional untuk mengimbangi kekuatan militer negara besar atau setidaknya membangun posisi tawar dalam politik internasional.

Posisi Strategis Indonesia

Secara geografis, Indonesia memang “dibentuk” untuk strategi asimetris di laut. Seperti halnya Iran, Indonesia juga memiliki selat. Bahkan Indonesia memiliki tiga selat, yaitu Selat Malaka, Selat Lombok, dan Selat Sunda. Chokepoint ini adalah leverage besar. Ketiga selat tersebut dapat digunakan Indonesia untuk menerapkan strategi sea-denial. Bukan menguasai laut, tapi membuat laut berbahaya bagi musuh dengan menggunakan ranjau laut (naval mines), kapal kecil cepat (hit-and-run), dan rudal anti-kapal berbasis darat/pulau.

Selat Malaka merupakan jalur terpendek dari Timur Tengah ke Asia Timur (Cina, Jepang, Korea). Sebanyak 40 persen perdagangan global melewati selat ini, terutama minyak mentah dan gas alam cair (LNG).  Sebagai alternatif utama jika terjadi kemacetan atau blokade di Selat Malaka. Selat ini penting untuk kapal yang melintas dari Samudra Hindia ke Laut Jawa, Selat Sunda juga memiliki nilai strategis bagi kestabilan perdagangan internasional.

Selat Lombok juga dapat digunakan Indonesia untuk meningkatkan posisi tawar di level internasional. Secara geografis, selat ini  lebih dalam dan lebar dibandingkan Selat Malaka, menjadikannya pilihan utama bagi kapal tanker raksasa (VLCC - Very Large Crude Carriers) yang tidak dapat melalui Selat Malaka. Rute ini dinilai lebih aman dari perompakan.

Dengan menggunakan selat-selat tersebut, seperti yang dilakukan Iran di Selat Hormuz, bukan tidak mungkin Indonesia dapat menghindari ancaman militer. Tentu hal itu harus didukung dengan peningkatan kekuatan Angkatan Laut (AL) yang mampu menjalankan operasi militer berbasis anti-access atau sea denial yang bertujuan bukan untuk memenangkan perang secara cepat, namun memperpanjang durasi perang sehingga biaya perang lawan semakin mahal.

Sebagai jalur perdagangan global, Indonesia berada di jalur vital untuk leverage ekonomi dalam melakukan tekanan global. Dengan begitu, pengaruh negosiasi dan posisi tawar Indonesia secara global diperhitungkan. Selain itu, Indonesia memiliki ribuan pulau terluar yang dapat digunakan dalam masa perang untuk membuat kontrol penuh oleh musuh jadi sulit. Keuntungan geografis tersebut mendukung strategi deny and disrupt untuk mencegah lawan menuju target sasaran dan melakukan gangguan untuk menghentikan operasi militer lawan. Kondisi geografis Indonesia mendukung untuk militer Indonesia menerapkan strategi gerilya untuk memaksa lawan dalam periode perang yang panjang.

Untuk itu, berbagai potensi yang dimiliki Indonesia harus dirumuskan ke dalam doktrin dan strategi perang untuk menciptakan pertahanan berlapis yang mendukung strategi gerilya laut dan darat. Dengan mengakomodasi keunikan geografis yang dimiliki Indonesia, dan diterjemahkan ke dalam strategi atau operasi militer, bukan tidak mungkin Indonesia dapat menerapkan indirect defense strategy sebagai strategi untuk menangkal mengingat kemampuan militer konvensional Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara besar lainnya. Indonesia tidak perlu memenangkan perang, namun mencegah pihak lawan menyerang, merupakan strategi efektif dalam memenangkan peperangan, bahkan sebelum perang itu dimulai. rmol news logo article

Yugolastarob Komeini
Peneliti Populi Center Bidang Hubungan Internasional dan Pertahanan
 


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA