Angka tersebut segera memenuhi pemberitaan, menjadi bahan konferensi pers, dan kembali memperkuat narasi lama bahwa pariwisata Indonesia tetap kuat di tengah situasi global yang tidak menentu.
Tidak ada yang salah dengan optimisme. Industri pariwisata memang membutuhkan optimisme, terlebih ketika dunia sedang menghadapi ketidakpastian ekonomi, perubahan perilaku wisatawan, serta tekanan geopolitik yang memengaruhi mobilitas global.
Namun justru karena itulah, setiap kali angka besar diumumkan, pertanyaan seharusnya tidak berhenti pada seberapa besar nilainya, melainkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik angka tersebut.
Sebab di balik angka Rp6,9 triliun itu terdapat fakta yang cukup menarik. Nilai transaksi tahun ini justru turun dibandingkan BBTF tahun sebelumnya yang mencapai Rp7,84 triliun.
Penurunan hampir Rp1 triliun tentu tidak otomatis berarti kegagalan. Namun penurunan tetaplah penurunan, dan pertanyaannya sederhana: mengapa ketika angka naik publik diajak merayakan keberhasilan, tetapi ketika angka turun publik diminta fokus pada narasi optimisme?
Antara Transaksi, Potensi, dan Persepsi PublikDalam industri pameran pariwisata internasional, penggunaan istilah “nilai transaksi” memang bukan hal baru.
Travel fair di berbagai negara juga menggunakan pendekatan serupa untuk menggambarkan potensi bisnis yang tercipta selama kegiatan berlangsung.
Namun praktik yang lazim tidak otomatis membuatnya bebas dari pertanyaan, terlebih ketika publik hanya disuguhkan angka besar tanpa pernah benar-benar mengetahui berapa bagian yang terealisasi menjadi kunjungan wisatawan, okupansi hotel, atau aktivitas ekonomi nyata di lapangan.
Masalahnya bukan pada penggunaan angkanya. Masalah muncul ketika publik mendengar kata “transaksi” dan membayangkan uang telah berpindah tangan, sementara realitas industri jauh lebih kompleks.
Di dalam angka tersebut terdapat
business matching, kesepakatan awal,
letter of intent, komitmen pembelian, hingga potensi kerja sama jangka panjang yang realisasinya masih membutuhkan waktu.
Artinya, angka Rp6,9 triliun bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi mungkin juga bukan sesuatu yang sesederhana
headline. Justru karena itu, pertanyaan yang lebih relevan seharusnya bukan lagi berapa besar nilainya, melainkan berapa banyak yang benar-benar menghasilkan kedatangan wisatawan, perputaran ekonomi, peningkatan okupansi, serta repeat business yang berkelanjutan.
Sayangnya, data publik mengenai tingkat realisasi transaksi BBTF dari tahun-tahun sebelumnya relatif sulit ditemukan secara terbuka. Tidak ada angka konsisten mengenai berapa persen
business matching benar-benar berubah menjadi kunjungan wisatawan, kontrak jangka panjang, peningkatan okupansi, atau pertumbuhan nyata terhadap arus wisata. Padahal justru di situlah ukuran keberhasilan sesungguhnya berada.
Jika setelah 12 kali penyelenggaraan publik masih lebih mudah menemukan angka transaksi dibanding angka realisasi, maka pertanyaannya mungkin bukan lagi seberapa besar angkanya, tetapi seberapa transparan dampaknya.
Dan 12 tahun BBTF, publik mungkin mulai berhak mengetahui bukan hanya potensi bisnis yang diumumkan, tetapi juga dampak nyata yang dihasilkan.
Industri Sedang Beradaptasi, Bukan Sedang BerpestaAda satu pengakuan menarik dari penyelenggara tahun ini. Fokus buyer mulai bergeser. Jika sebelumnya pasar jarak jauh seperti Eropa dan Amerika menjadi target utama, kini perhatian lebih banyak diarahkan ke Asia dan Australia. Sebagian melihat ini sebagai keberhasilan, sebagian lain mungkin melihatnya sebagai penyesuaian.
Yang jelas, perubahan ini menunjukkan satu realitas penting: industri pariwisata sedang berubah. Biaya perjalanan meningkat, ketidakpastian geopolitik memengaruhi mobilitas, dan perilaku wisatawan tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.
Dalam situasi seperti ini,
travel fair mungkin tidak lagi hanya berfungsi sebagai mesin pertumbuhan, tetapi juga berubah menjadi instrumen untuk menjaga momentum agar perlambatan tidak berubah menjadi penurunan yang lebih dalam.
Tidak ada yang salah dengan strategi bertahan. Yang menjadi persoalan adalah ketika strategi bertahan dipresentasikan seolah kemenangan besar, karena keduanya adalah hal yang berbeda.
Yang Dijual Hari Ini Bukan Lagi Pantai, Tetapi KepercayaanPernyataan paling menarik dari BBTF tahun ini mungkin justru bukan angka Rp6,9 triliun, melainkan pengakuan bahwa operator internasional semakin mencari destinasi yang menunjukkan profesionalisme. Kalimat ini penting karena menunjukkan bahwa kompetisi pariwisata global telah berubah.
Wisatawan mungkin datang karena pantai, budaya, atau kuliner. Namun
buyer, investor, dan operator tur datang karena kepastian. Mereka memperhatikan konektivitas, infrastruktur, stabilitas regulasi, pengelolaan lingkungan, hingga kemampuan sebuah destinasi menangani pertumbuhan wisatawan secara berkelanjutan.
Artinya, persoalan yang selama ini sering dianggap isu lokal sebenarnya sudah berubah menjadi isu daya saing.
Di sinilah paradoks mulai terlihat. Di dalam ruang konferensi kita berbicara mengenai
quality tourism, sustainable tourism, dan masa depan industri. Namun di luar ruangan, masyarakat masih berbicara mengenai kemacetan, sampah, tekanan terhadap sumber daya air, hingga overtourism yang semakin terasa.
Gap antara narasi dan realitas inilah yang semakin sulit diabaikan.
Rp6,9 Triliun Untuk Siapa?Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak nyaman, tetapi justru karena itu penting ditanyakan. Ketika
travel fair menghasilkan transaksi triliunan Rupiah, apakah otomatis masyarakat ikut merasakan dampaknya?
Jawabannya tidak selalu sederhana.
Industri pariwisata memiliki persoalan klasik yang sudah lama dibahas para ekonom, yaitu
economic leakage. Sebagian keuntungan berhenti di korporasi besar. Sebagian keluar daerah. Sebagian bahkan keluar negeri.
Tentu tetap ada manfaat ekonomi lokal, tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah seberapa besar manfaat tersebut benar-benar tinggal di Bali dan dirasakan masyarakat yang hidup di sekitar industri itu sendiri.
Jika pertanyaan tersebut belum mampu dijawab secara jelas, maka mungkin terlalu dini menyebut angka transaksi sebagai kemenangan kolektif.
Saatnya Mengubah PertanyaanBBTF tetap penting. Promosi tetap dibutuhkan.
Business matching tetap relevan. Namun setelah lebih dari satu dekade penyelenggaraan, mungkin sudah waktunya pertanyaan publik ikut berubah.
Bukan lagi berapa triliun transaksi tahun ini.
Tetapi apakah triliunan rupiah tersebut benar-benar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan.
Karena jika industri pariwisata terus menghasilkan angka triliunan Rupiah, mengapa persoalan mendasar yang dikeluhkan masyarakat masih tetap sama dari tahun ke tahun?
Pada akhirnya, angka memang bisa dipresentasikan. Namun realitas selalu dirasakan masyarakat setiap hari. Dan mungkin itulah sebabnya, yang dibutuhkan industri saat ini bukan hanya optimisme, tetapi juga keberanian untuk berbicara lebih jujur.
GiostanovlattoPendiri Hey Bali
BERITA TERKAIT: