Abdul Malik bin Marwan, Revolusi Birokrasi yang Mengubah Sejarah Islam

Minggu, 15 Maret 2026, 05:23 WIB
Abdul Malik bin Marwan, Revolusi Birokrasi yang Mengubah Sejarah Islam
Ilustrasi Abdul Malik bin Marwan. (Foto: Istimewa)
KITA kembali ke Dinasti Umayyah. Ada seorang khalifah yang melakukan perombakkan besar-besaran. Melakukan reformasi birokrasi yang mengubah sejarah Islam. 

Dia adalah Abd al-Malik ibn Marwan. Khalifah dari Dinasti Umayyah, penguasa yang memandang kekhalifahan bukan hanya sebagai wilayah luas penuh pajak, tetapi sebagai proyek manajemen raksasa yang harus dibenahi dari fondasi.

Semua ini dimulai setelah dunia Islam hampir hancur oleh perang saudara yang dikenal sebagai Second Fitnah. 

Kekhalifahan pada masa itu lebih mirip rumah besar yang habis dihantam badai politik. Ada dinding yang runtuh, pintu yang hilang, dan beberapa penghuni yang bersikeras mereka adalah pemilik sah rumah tersebut. 

Rival terbesar Abdul Malik adalah Abdullah ibn al-Zubayr yang memproklamasikan diri sebagai khalifah di Mekkah. 

Selama bertahun-tahun dunia Islam seperti dua kantor pusat yang saling mengirim memo, “Kami pemerintah sah.” Balasannya, “Tidak, kami yang sah.”

Setelah tujuh tahun drama berdarah, dengan bantuan tangan besi gubernurnya yang terkenal tidak mengenal kata “santai”, yaitu Al-Hajjaj ibn Yusuf, Abdul Malik akhirnya berhasil mempersatukan kembali kekhalifahan sekitar tahun 692 M. 

Ketika debu perang mereda dan Damaskus kembali tenang, sang khalifah melihat kondisi administrasi negaranya. Kemungkinan besar ia menghela napas panjang.

Nuan bayangkan negara raksasa dari Afrika Utara sampai Persia, tetapi administrasinya menggunakan tiga bahasa berbeda seperti konferensi internasional yang lupa menyediakan penerjemah. 

Di Suriah dan Mesir, dokumen pemerintah ditulis dalam bahasa Yunani, warisan Bizantium yang belum sempat dibersihkan sejak kekuasaan Romawi Timur. 

Di Irak dan wilayah timur, laporan pajak memakai bahasa Persia Pahlavi dari tradisi kekaisaran Sassaniyah. 

Di Mesir sendiri, bahasa Koptik masih menjadi alat administrasi lokal. Jadi jika Damaskus ingin tahu berapa pajak gandum dari Mesir, kemungkinan besar mereka harus membaca laporan dalam bahasa Yunani yang kemudian diterjemahkan oleh orang yang mungkin juga lebih fasih dalam Koptik dari Arab.

Ini bukan negara, ini museum linguistik.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Mata uang yang beredar juga seperti katalog numismatik Bizantium dan Persia. 

Koin emas mengikuti model solidus Bizantium dengan gambar kaisar dan simbol salib. Koin perak mengikuti drachm Persia dengan wajah raja Sassaniyah lengkap dengan mahkota yang dramatis. 

Bagi sebuah kekhalifahan yang sedang membangun identitas Islam sendiri, situasi ini agak ironis. Umat Islam mengelola imperium luas, tetapi dompet mereka masih dipenuhi gambar penguasa lama.

Abdul Malik yang dibesarkan di Madinah, kota yang administrasinya sudah lebih Arab dan Islami, memutuskan melakukan sesuatu yang mungkin terdengar sederhana namun sebenarnya revolusioner. 

Ia menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi tunggal negara. Reformasi ini bukan sekadar mengganti papan nama kantor dari Yunani ke Arab, tetapi operasi raksasa terhadap seluruh sistem birokrasi kekhalifahan.

Langkah pertama dilakukan di Irak sekitar tahun 78 H / 697 M oleh gubernur kesayangan sekaligus mimpi buruk banyak orang, Al-Hajjaj ibn Yusuf. 

Jika Abdul Malik adalah arsitek kebijakan, Al-Hajjaj adalah operator alat beratnya. Ia memerintahkan seluruh administrasi diwan di Irak untuk beralih ke bahasa Arab. 

Para juru tulis yang selama ini bekerja dengan dokumen Persia tiba-tiba harus belajar bahasa baru jika ingin tetap mempertahankan pekerjaan mereka. 

Sejarah tidak mencatat berapa banyak pegawai yang panik membuka kamus pada masa itu, tetapi bisa dibayangkan suasana kantor pemerintahan Irak berubah seperti kelas kursus bahasa dadakan.

Di Suriah, pusat kekuasaan Umayyah, reformasi dilaksanakan sekitar 81 H / 700 M oleh seorang administrator bernama Sulayman ibn Sa'd al-Khushani. 

Ia berhasil mengganti sistem administrasi Yunani menjadi Arab di seluruh diwan negara. Tentu saja perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. 

Banyak pejabat lama yang kebetulan Kristen atau berasal dari komunitas non-Muslim, tetap dipertahankan selama mereka mampu bekerja dalam bahasa Arab. Abdul Malik cukup realistis untuk memahami, memecat semua birokrat sekaligus hanya akan membuat negara berhenti berfungsi.

Di provinsi jauh seperti Khurasan, proses Arabisasi bahkan baru selesai sekitar 120-an H atau 740-an M. 

Reformasi birokrasi memang seperti mengubah arah kapal raksasa, perintah bisa diberikan hari ini, tetapi kapal baru benar-benar berbelok bertahun-tahun kemudian.

Namun reformasi bahasa hanyalah bab pertama dari proyek besar Abdul Malik. Bab berikutnya bahkan lebih dramatis karena menyangkut uang, hal yang selalu membuat manusia jauh lebih sensitif dibanding bahasa.

Sekitar tahun 74 H / 693 M, Abdul Malik mulai mencetak dinar emas baru di Damaskus. Awalnya desainnya masih mirip koin Bizantium, tetapi sudah diberi tulisan Arab seperti syahadat. 

Ini seperti versi awal reformasi, masih mirip model lama, tetapi sudah mulai menunjukkan identitas baru.

Lalu datanglah tahap radikal sekitar 77–78 H / 696–697 M. Semua gambar figur dihapus total dari koin. Bahkan desain “Standing Caliph” gambar khalifah berdiri memegang pedang yang sempat dicoba pun akhirnya disingkirkan. 

Koin baru hanya berisi tulisan Arab, ayat Alquran, kalimat tauhid “L? il?ha illall?h wa?dah? l? syar?ka lah?”, serta nama Nabi Muhammad dan tahun pencetakan.

Perubahan ini juga dipicu oleh aksi Kaisar Bizantium, Justinian II, yang mengeluarkan koin dengan gambar Kristus. 

Bagi Abdul Malik, ini bukan sekadar desain artistik, melainkan pesan politik dan teologis. Responsnya cukup elegan, bukan meniru, melainkan menciptakan sistem moneter Islam sepenuhnya.

Sekitar 80-81 H / 698-699 M, reformasi diperluas ke wilayah timur dengan perubahan dirham perak. Gambar raja Sassaniyah yang selama berabad-abad menghiasi koin Persia akhirnya dihapus. Sebagai gantinya muncul inskripsi Arab yang menegaskan identitas Islam.

Koin-koin ini kemudian beredar dari Damaskus sampai Afrika Utara, dari Irak sampai Asia Tengah. Setiap transaksi di pasar secara tidak langsung menjadi media propaganda negara. Orang membeli gandum, tetapi sambil membaca kalimat tauhid di koin yang mereka gunakan.

Jika dunia modern punya billboard dan media sosial untuk propaganda, Abdul Malik punya dompet rakyat.

Sementara itu, di Yerusalem ia juga membangun salah satu monumen paling megah dalam sejarah Islam, Dome of the Rock. 

Bangunan ini bukan sekadar proyek arsitektur indah, tetapi juga simbol, kekhalifahan Umayyah memiliki identitas religius dan politik yang kuat di panggung dunia.

Menariknya, semua reformasi besar ini dilakukan oleh seseorang yang pada masa mudanya dikenal sebagai ulama Madinah. Abdul Malik lahir sekitar 26 H / 646-647 M sebagai putra Marwan ibn al-Hakam. 

Ia belajar agama, meriwayatkan hadis dari sahabat seperti Abu Hurairah dan bahkan hidup di lingkungan Madinah yang penuh ulama.

Namun sejarah kadang memiliki selera humor yang unik. Seorang ahli fikih yang dulu sibuk menghafal hadis akhirnya menjadi arsitek birokrasi imperium terbesar di zamannya.

Ketika Abdul Malik wafat pada 9 Oktober 705 M di Damaskus pada usia sekitar 58-61 tahun, ia meninggalkan kekhalifahan yang jauh lebih stabil dibanding saat ia naik takhta. 

Sistem administrasi sudah menggunakan satu bahasa, mata uang memiliki identitas Islam, dan kekuasaan Damaskus terkonsolidasi.

Putranya, Al-Walid I, langsung melanjutkan pemerintahan dan membawa kekhalifahan ke masa ekspansi besar. Bahkan empat putra Abdul Malik akhirnya menjadi khalifah: Al-Walid I, Sulaiman, Umar bin Abdul Aziz, dan Yazid II. Karena itulah ia dijuluki “Abul Muluk”, Ayah Para Raja.

Di sinilah ironi sejarah muncul dengan gaya yang agak sarkastik. Banyak penguasa dalam sejarah diingat karena menaklukkan kota. 

Abdul Malik juga menaklukkan wilayah, tetapi warisan terbesarnya justru sesuatu yang jauh lebih menakutkan bagi birokrat, reformasi administrasi.

Ia mengubah bahasa kantor, desain koin, sistem pajak, dan identitas negara sekaligus. Jika dibandingkan dengan dunia modern, tindakan ini mirip seorang pemimpin yang tiba-tiba mengumumkan, mulai besok semua kementerian memakai satu bahasa baru, seluruh uang negara diganti desainnya, dan sistem administrasi dirombak total.

Dalam politik modern, pengumuman seperti itu biasanya diikuti rapat darurat, debat televisi, dan mungkin lima tahun perdebatan tanpa keputusan. Abdul Malik melakukannya pada abad ke-7 dengan hasil yang bertahan berabad-abad.

Sejarah kadang memang sinis. Perang besar sering dianggap peristiwa paling dramatis. Tetapi, yang benar-benar mengubah peradaban justru keputusan administrasi yang tampak sepele. 

Sebuah bahasa di kantor, sebuah tulisan di koin, dan seorang khalifah di Damaskus yang memutuskan, kekhalifahan Islam sudah saatnya berhenti meniru imperium lama dan mulai menjadi dirinya sendiri.rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA