Selama rentang waktu itu, walikota datang dan pergi seperti musim diskon di factory outlet. Ada yang membawa visi. Ada yang membawa misi. Ada yang membawa slogan yang panjangnya hampir setara pidato kenegaraan. Namun PKL tetap berdiri kokoh. Mereka seperti batu karang yang menertawakan ombak birokrasi.
Setiap pergantian pemimpin, warga berharap akan ada perubahan. Hasilnya? Trotoar tetap menjadi barang gaib. Secara teori ada. Secara fisik sulit ditemukan. Pejalan kaki harus turun ke jalan raya, bernegosiasi langsung dengan sepeda motor, angkot, mobil, dan takdir.
Lalu datanglah KDM.
Kehadirannya seperti karakter terakhir dalam game yang baru dibuka setelah pemain gagal menyelesaikan misi selama 30 tahun. Ketika banyak orang menganggap PKL Bandung sudah menyatu dengan tanah, udara, dan takdir kosmis alam semesta, KDM malah datang membawa alat berat.
Sejak Mei 2026, penertiban digencarkan. Sasarannya bukan tempat sembarangan. Ada Jalan Cicadas, Jalan Eyckman-Sukajadi dekat RS Hasan Sadikin, kawasan Pasteur, dan sejumlah titik lain yang selama ini terkenal sebagai wilayah dengan kepadatan lapak setara kepadatan penduduk planet baru.
Pembongkaran besar-besaran dilakukan pada 12 Mei dan 18 Mei 2026. Kios-kios liar yang telah bertahan selama 30 sampai 35 tahun akhirnya roboh.
Yang lucu, ternyata bisa.
Kalimat "ternyata bisa" inilah yang mungkin membuat sebagian kepala daerah mendadak sulit tidur. Sebab selama ini rakyat dijejali istilah koordinasi, sinkronisasi, harmonisasi, kajian komprehensif, pendekatan multidimensi, dan berbagai mantra birokrasi lainnya.
Ternyata setelah dihitung-hitung, salah satu unsur penting yang selama ini kurang adalah keberanian.
Hebatnya lagi, KDM tidak datang seperti jenderal perang yang langsung menyerbu. Ia berdialog dengan koordinator PKL terlebih dahulu. Ada komunikasi. Ada tawaran kompensasi uang. Ada tawaran pekerjaan alternatif bagi pedagang terdampak.
Tujuannya jelas, mengembalikan fungsi trotoar, mengurai kemacetan, dan menata wajah Bandung agar lebih nyaman.
Bandung pun seperti menjalani operasi plastik raksasa. Trotoar yang selama puluhan tahun tertimbun lapak akhirnya muncul lagi. Banyak warga sampai kaget. Rupanya selama ini benda itu memang ada.
Walikota Bandung Muhammad Farhan menyambut positif langkah tersebut. Ia mengucapkan "Alhamdulillah" setelah trotoar Sukajadi berhasil dibersihkan.
Pernyataan yang terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian warga terasa seperti pengakuan, monster yang selama ini dianggap kebal ternyata bisa juga disentuh.
Di media sosial X, reaksi netizen bermunculan. Mayoritas mendukung karena kota terlihat lebih rapi dan trotoar kembali bisa digunakan.
Banyak yang memuji keberanian KDM turun langsung ke lapangan sambil membandingkannya dengan sebagian kepala daerah yang lebih sering turun ke lokasi prasmanan seminar daripada turun ke titik masalah.
Sebagian netizen tetap mengingatkan soal nasib pedagang, kompensasi yang dianggap kurang, dan pekerjaan alternatif yang harus benar-benar direalisasikan. Kritik itu penting. Namun satu fakta tetap berdiri tegak.
Selama 30 tahun, PKL di Bandung seperti bos terakhir yang tak pernah terkalahkan. Walikota datang silih berganti, menyerang dengan proposal, rapat, dan konferensi pers. Bos itu tetap hidup. Lalu KDM datang.
Tiba-tiba layar permainan menampilkan tulisan yang sudah lama ditunggu warga,
Mission Completed.Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: