Padahal akibatnya, asap rokok berputar di ruang toilet tersebut dan mengakibatkan seluruh ruangan toilet menjadi bau asap rokok. Tak jarang pengguna toilet pun harus terbatuk-batuk, atau kesulitan bernafas karena menahan dari menghirup asap rokok yang mengakibatkan orang menjadi perokok pasif tersebut.
Di sebuah kompleks perkantoran di bandara Soekarno-Hatta, seorang kawan saya juga mengeluhkan hal ini. Bekerja, menurutnya, harus bertoleransi pada kawan-kawan kerjanya yang dengan santainya memenuhi isi rungan dengan racun rokok. Ya, negara ini memang butuh cukai rokok yang tinggi itu, meski dengan mesti membunuhi rakyatnya secara perlahan. Hebat!
Saya usul, manajemen gedung agar bisa memasang sensor asap di setiap toilet dan setiap sensor ini menangkap asap, secara otomatis akan menyemprotkan air dari atas toilet. Dengan demikian, si perokok yang menikmati rokok di toilet akan basah tersemprot air. Atau, mungkin bisa dengan berupa memasang alarm, dan sejenisnya yang bisa menghindarkan orang merokok di toilet karena merasa bising.
Selain itu, satuan tugas (satgas) dari masing-masing pemerintah kota (pemkot) di kawasan DKI Jakarta juga hingga kini belum terasa tuh efektifitasnya. Karena intensitasnya menyidak gedung-gedung di DKI belum berasa. Sanksi kepada pengelola gedung juga, masing anget-anget tai ayam!
Nadya O, Jalan Panjang, Jakarta Barat
BERITA TERKAIT: